Katie Boulter Tersingkir Telak di US Open: 'Bad Day at the Office' yang Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu Inggris, Katie Boulter, hanya mampu merebut satu game saat dikalahkan Karolina Muchova 6-1, 6-0 dalam 58 menit di babak kedua US Open.
- Kekalahan ini memperpanjang tren buruk Boulter di turnamen Grand Slam tahun ini, dengan hanya dua kemenangan dari empat ajang.
- Sorotan tajam datang dari Daniela Hantuchova yang menilai Boulter harus segera membenahi servis dan mentalnya untuk bersaing di level tertinggi.

Flushing Meadows, New York โ Petenis Inggris Katie Boulter harus mengakui keunggulan lawannya saat takluk telak dari Karolina Muchova di babak kedua US Open. Dalam pertandingan yang hanya berlangsung 58 menit di Louis Armstrong Stadium, Boulter hanya mampu memenangi satu game dan kalah dengan skor 6-1, 6-0. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi petenis peringkat 62 dunia yang tengah berjuang menemukan konsistensi di ajang Grand Slam.
Pertandingan yang semula dijadwalkan di lapangan luar harus dipindahkan ke stadion berkapasitas 14.000 penonton setelah hujan deras melanda New York. Perpindahan venue ini justru menjadi sorotan tersendiri. Boulter mengaku kesulitan beradaptasi dengan kondisi lapangan, atap stadion yang tertutup, serta kebisingan penonton yang menurutnya mengganggu konsentrasinya. โIni benar-benar hari yang buruk, dua kali lipat,โ ujarnya seusai pertandingan. โSaya berjuang dengan kondisi, atap, dan suara bising. Saya membiarkan hal-hal itu mengganggu saya.โ
Statistik menunjukkan kehancuran permainan Boulter. Ia mencatatkan delapan double fault tanpa satu pun ace, dan hanya memenangkan 33% poin di belakang servis pertamanya. Lebih memprihatinkan lagi, ia gagal menyelamatkan tujuh break point yang dihadapi, dengan 22 unforced errors berbanding hanya empat winner. Sementara itu, Muchova yang dua kali menjadi semifinalis US Open tampil gemilang dengan 14 winner dan hanya sembilan unforced errors, ditambah drop shot cerdas dan groundstroke tajam yang membuat Boulter tak berkutik.
Mantan petenis top dunia Daniela Hantuchova, yang kini menjadi analis, memberikan penilaian tajam. โJika saya menjadi Boulter, saya akan duduk bersama tim dan berkata, 'kita perlu mengubah sesuatu secara besar-besaran'. Sangat jelas hari ini masalahnya ada pada servis. Dia kehilangan ritme dan tidak menggunakan kakinya. Itu hal nomor satu yang harus dibenahi,โ ujarnya kepada BBC Radio 5 Live. Hantuchova menambahkan bahwa Boulter harus segera kembali ke lapangan latihan jika masih ingin serius menekuni tenis.
Kekalahan ini menambah daftar panjang kekecewaan Boulter di musim 2024. Meski kehidupan pribadinya tengah berbahagia setelah menikah dengan petenis Australia Alex de Minaur pada Juli lalu, performanya di lapangan justru menurun drastis. Sejak tersingkir di babak pertama Wimbledon, Boulter hanya memenangkan dua dari enam pertandingan yang dijalaninya. Total, ia hanya mengoleksi dua kemenangan dari empat turnamen Grand Slam tahun iniโsebuah catatan yang jauh dari harapan untuk petenis nomor satu Inggris.
Nasib berbeda dialami Francesca Jones, petenis Inggris lainnya. Setelah pertandingan babak pertamanya tertunda akibat hujan pada Selasa malam, Jones berhasil menyelesaikan kemenangan dramatis atas Magda Linette. Sempat kehilangan set kedua dengan cepat, Jones menunjukkan kegigihan dan merebut set penentu dengan break krusial di kedudukan 2-1. Kemenangan ini menjadi yang kedua baginya di level Grand Slam, setelah sebelumnya ia juga menang di Prancis Terbuka. โSaya tidak pernah berada dalam posisi seperti ini sebelumnya, jadi saya gugup bagaimana perasaan saya saat kembali ke lapangan,โ kata Jones. โSaya pikir saya bisa menanganinya lebih baik dari yang ditunjukkan skor.โ
Sementara itu, dua petenis Inggris lainnya, Jacob Fearnley dan Toby Samuel, gagal melaju ke babak ketiga. Fearnley yang tampil impresif di babak pertama harus mengakui keunggulan unggulan ke-27 asal Argentina, Tomas Martin Etcheverry, dalam empat set. Samuel, yang debut di US Open, kalah dari Jiri Lehecka, unggulan ke-18 asal Ceko. Adapun Jan Choinski, petenis Inggris nomor tiga, juga tersingkir di babak pertama setelah kalah dari Botic van de Zandschulp.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kekalahan Boulter menjadi pengingat bahwa konsistensi adalah kunci di panggung Grand Slam. Meski memiliki peringkat yang baik, performa di turnamen besar seringkali menjadi pembeda antara petenis papan atas dan mereka yang berjuang di lapisan tengah. Pertanyaan besarnya kini: mampukah Boulter bangkit dan memperbaiki catatan buruknya di musim depan, atau justru akan semakin terpuruk? Jawabannya akan menentukan arah kariernya dalam beberapa tahun ke depan.



