Coco Gauff Bangkit dari Mimpi Buruk Servis, Kini Jadi Senjata Utama di US Open
Baca dalam 60 detik
- Coco Gauff memulai US Open 2024 dengan kemenangan meyakinkan atas Zeynep Sonmez, berkat perbaikan signifikan pada servisnya yang sebelumnya menjadi kelemahan terbesarnya.
- Perombakan tim pelatih dengan merekrut Gavin MacMillan, yang pernah membantu Aryna Sabalenka, terbukti efektif meningkatkan akurasi dan kecepatan servis Gauff.
- Dengan kepercayaan diri baru, Gauff kini tampil sebagai salah satu favorit juara, dan perjalanannya di turnamen akan menjadi sorotan utama bagi penggemar tenis di Indonesia.

Setahun setelah momen memilukan di Flushing Meadows, Coco Gauff kembali ke US Open dengan senyum percaya diri. Petenis Amerika Serikat berusia 22 tahun itu memulai kampanyenya dengan kemenangan telak 6-3, 6-4 atas Zeynep Sonmez dari Turki, Selasa (27/8) waktu setempat. Namun, yang paling menonjol bukan sekadar hasil akhir, melainkan transformasi total pada servisnya—elemen yang tahun lalu menjadi mimpi buruk dan hampir menghancurkan kariernya.
Musim lalu, gambar Gauff yang murung berlatih servis di tengah hujan menjadi simbol keterpurukannya. Masalah psikologis yang dikenal sebagai 'servis yips' membuat bakat dua kali juara Grand Slam itu terhambat. Kegagalan demi kegagalan di lapangan membuatnya frustrasi, bahkan ia sempat menangis di tengah pertandingan. Kini, semua itu berubah drastis. Servisnya yang baru menjadi fondasi kemenangan dan senjata mematikan yang membuat lawan kesulitan.
Perubahan ini bukan kebetulan. Menjelang US Open tahun lalu, Gauff mengambil keputusan berani dengan mengganti tim pelatih dan merekrut Gavin MacMillan, seorang ahli biomekanika yang sebelumnya sukses membantu Aryna Sabalenka mengatasi masalah servis. Keputusan ini sempat dipertanyakan, terutama karena dilakukan di saat-saat kritis. Namun, Gauff merasa tidak punya pilihan lain setelah mencatatkan banyak double fault di Cincinnati Open.
Hasilnya kini terlihat nyata. Statistik menunjukkan peningkatan akurasi servis Gauff yang signifikan. Ia mampu memukul bola lebih dekat ke garis tanpa mengurangi kecepatan. Dalam pertandingan melawan Sonmez, Gauff memenangkan 93% poin saat servis pertamanya masuk di set pertama. Ia bahkan meluncurkan ace dengan kecepatan 112 mph di game pembuka, menunjukkan bahwa servisnya kini bukan lagi titik lemah, melainkan senjata utama.
“Secara psikologis, sekarang saya akan mencoba ace, atau saya tahu saya bisa melakukan servis dan pengembalian mungkin tidak akan kembali,” ujar Gauff, yang akan menghadapi Paula Badosa atau Daria Kasatkina di babak kedua. “Tahun lalu saya benar-benar berpikir, semoga saya bisa masuk. Ini perbedaan besar, mengetahui hampir setiap servis yang saya coba, saya pukul dengan kecepatan 110, 115, 120 mph jika saya bisa.”
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada performa Gauff, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen tekanan dan adaptasi teknik. Bagi penggemar tenis di Indonesia, kisah Gauff menjadi inspirasi bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan. Terlebih, dengan turnamen-turnamen besar yang semakin mudah diakses melalui siaran langsung, publik Indonesia dapat menyaksikan bagaimana seorang atlet top mengatasi krisis dan bangkit lebih kuat.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah apakah Gauff mampu mempertahankan konsistensi servisnya sepanjang turnamen. Jika ya, bukan tidak mungkin ia akan melaju jauh dan merebut gelar keduanya di New York. Namun, tenis adalah olahraga yang penuh kejutan, dan lawan-lawannya pasti akan menganalisis kelemahan barunya. Mampukah Gauff membuktikan bahwa transformasinya bukan hanya kebetulan sesaat?



