Gran Gala del Calcio 2026: Dimarco, Fabregas, dan Nico Paz Borong Penghargaan, Inter Kukuhkan Dominasi
Baca dalam 60 detik
- Gelaran tahunan Gran Gala del Calcio menobatkan Federico Dimarco sebagai pemain terbaik Serie A, sekaligus mengukuhkan Inter sebagai klub terbaik musim 2025/26.
- Cesc Fabregas sukses membawa Como ke Liga Champions untuk pertama kalinya, mengantarnya meraih gelar pelatih terbaik dan menjadikan Nico Paz sebagai talenta muda paling bersinar.
- Dominasi Inter di tim terbaik musim ini menegaskan superioritas mereka di kancah domestik, sekaligus menjadi sinyal persaingan ketat di kompetisi Eropa musim depan.

Malam penghargaan sepak bola Italia, Gran Gala del Calcio 2026, berlangsung meriah di Teatro alla Scala, Milan, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. Ajang tahunan yang digelar Asosiasi Pemain Sepak Bola Italia (AIC) ini menjadi panggung pengakuan atas performa terbaik sepanjang musim 2025/26, dengan Inter Milan tampil sebagai kandidat terkuat setelah sukses membawa pulang sederet penghargaan individu.
Federico Dimarco, bek kiri andalan Inter, dinobatkan sebagai pemain terbaik Serie A musim ini. Penghargaan tersebut menjadi puncak dari perjalanan karier yang penuh liku. Sebelum bersinar di San Siro, pemain berusia 29 tahun itu sempat menjalani masa peminjaman di klub-klub seperti Sion, Parma, dan Hellas Verona. Kini, ia menjelma menjadi salah satu bek sayap paling produktif di Eropa, dengan kontribusi gol dan assist yang konsisten sepanjang musim.
Inter tidak hanya puas dengan gelar individu Dimarco. Klub berjuluk Nerazzurri itu juga dinobatkan sebagai klub terbaik tahun ini dan mendominasi susunan tim terbaik musim dengan menempatkan empat wakilnya, termasuk Dimarco, Alessandro Bastoni, Hakan Calhanoglu, dan Lautaro Martinez. Keberhasilan ini menegaskan superioritas Inter di kompetisi domestik, sekaligus menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan di pentas Eropa musim depan.
Sementara itu, Cesc Fabregas mencatatkan namanya dalam sejarah sepak bola Italia. Pelatih asal Spanyol itu dinobatkan sebagai pelatih terbaik setelah sukses membawa Como promosi ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Prestasi ini tentu tidak lepas dari peran Nico Paz, gelandang muda asal Argentina yang digadang-gadang menjadi bintang masa depan. Paz dinobatkan sebagai pemain muda terbaik Serie A dan juga masuk dalam tim terbaik musim ini.
Roma juga mencuri perhatian dengan dua penghargaan individu. Kiper Mile Svilar dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik, sementara penyerang Donyell Malen meraih gelar penyerang terbaik. Adapun gol terbaik musim ini diraih oleh Francisco Conceicao lewat tendangan spektakulernya dalam laga Roma melawan Juventus yang berakhir imbang 3-3 pada 1 Maret lalu.
Kesuksesan Como menjadi sorotan utama musim ini. Klub yang bermarkas di Danau Como itu tidak hanya berhasil menembus empat besar, tetapi juga tampil atraktif dengan permainan menyerang khas Fabregas. Kehadiran Nico Paz, yang sebelumnya bermain di Real Madrid, menjadi katalis utama kebangkitan Como. Duet Fabregas dan Paz diyakini akan menjadi ancaman serius bagi klub-klub besar Italia pada musim-musim mendatang.
Bagi sepak bola Indonesia, ajang ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan pemain muda dan keberanian untuk memberi kepercayaan kepada pelatih muda. Keberhasilan Fabregas, yang baru memulai karier kepelatihan beberapa tahun lalu, menunjukkan bahwa inovasi dan keberanian mengambil risiko dapat membawa hasil yang luar biasa. Hal ini relevan dengan upaya PSSI dalam mengembangkan sepak bola nasional, terutama dalam hal regenerasi pemain dan pelatih.
Dengan dominasi Inter dan kebangkitan Como, persaingan Serie A musim depan diprediksi akan semakin ketat. Pertanyaan besarnya, akankah Inter mampu mempertahankan gelar dan kembali bersaing di Liga Champions? Atau justru Como akan menjadi kuda hitam baru yang mampu mengejutkan Eropa? Hanya waktu yang bisa menjawab.



