Kabut Asap Super El Niño Kembali Selimuti Asia Tenggara: 50 Ribu Warga Terdampak ISPA
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan tercatat di Indonesia sepanjang Juli–Agustus akibat kebakaran hutan dan lahan, dengan 12.000 di antaranya menimpa balita.
- Fenomena Super El Niño memperparah kekeringan dan kebakaran di Sumatra serta Kalimantan, mengancam ekosistem gambut tropis yang menjadi penyimpan karbon raksasa.
- Menteri Kehutanan menyatakan September menjadi fase krusial pemadaman, seiring prediksi luas lahan terbakar bisa menembus 11 juta hektare—menyamai bencana asap 1997–1998.

Gumpalan asap beracun kembali menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara, memicu polusi udara hingga 15 kali lipat ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan memapar jutaan warga di Indonesia, Malaysia, Singapura, serta Filipina. Kebakaran hutan yang berkobar sejak pertengahan Juli di Sumatra dan Kalimantan diperparah oleh fenomena Super El Niño yang memicu kekeringan ekstrem, menjadikan kawasan ini salah satu titik api terparah dalam dua dekade terakhir.
Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terkait langsung dengan kebakaran pada periode Juli–Agustus. Dari jumlah tersebut, lebih dari 12.000 pasien adalah anak di bawah lima tahun—sebuah sinyal bahwa kelompok rentan menjadi korban paling awal. Di Kalimantan Selatan, asap bahkan menembus ruang kelas hingga membuat jarak pandang nyaris nol. Seorang asisten pengajar di Banjarbaru, Rizma Nur Fatimah, mengungkapkan bahwa kabut asap di dalam ruangan begitu pekat sampai-sampai kaki sendiri tak terlihat. Ia menambahkan, meski seluruh pintu dan jendela ditutup, partikel asap tetap meresap masuk. "Kami sudah hidup dengan ini sejak lahir. Setiap tahun sama saja, tapi tahun ini lebih parah," ujarnya.
Dampak kesehatan serupa dilaporkan di Palawan, Filipina, yang berjarak sekitar 1.300 kilometer dari titik api. Warga mengeluhkan mata gatal, iritasi tenggorokan, dan sakit kepala ringan. Sementara itu, Malaysia mencatat peningkatan kasus asma dan konjungtivitis seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah negara bagian. Situasi ini menegaskan bahwa bencana asap lintas batas bukan lagi isu domestik, melainkan krisis regional yang menuntut respons kolektif.
Akar persoalan kebakaran di Indonesia, menurut para ahli, tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang alih fungsi lahan. Sejak era Orde Baru, hutan dan gambut di Kalimantan dibuka masif untuk logging, perkebunan, dan proyek pembangunan. Saat ini, api kerap digunakan sebagai alat murah untuk membuka lahan industri—baik untuk perkebunan kelapa sawit maupun hutan tanaman. Peneliti gambut dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Nisa Novita, menjelaskan bahwa gambut yang dikeringkan dan dibakar berubah dari penyerap karbon raksasa menjadi "bom karbon" yang melepas emisi dalam jumlah besar secara cepat. Kondisi ini diperparah oleh praktik pembakaran skala besar yang sulit dikendalikan, berbeda dengan metode tradisional yang berskala kecil dan diawasi ketat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa pertempuran memadamkan api memasuki fase kritis. "Masalah kami belum selesai. September adalah puncak El Niño. September adalah pertarungan utama kami," katanya. Pernyataan ini muncul di tengah peringatan para ilmuwan bahwa tanpa El Niño pun, kebakaran tahun lalu menghanguskan 359.000 hektare. Namun, dengan kondisi Super El Niño saat ini, Bambang Hero Saharjo, pakar forensik kebakaran hutan dari IPB University, memperkirakan area yang terbakar bisa mencapai 11 juta hektare—menyamai salah satu musim kebakaran terburuk dalam sejarah Indonesia pada 1997–1998.
Bagi Indonesia, krisis ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ekonomi dan kesehatan publik. Kabut asap yang melintasi perbatasan berpotensi memicu ketegangan diplomatik dengan negara tetangga, seperti yang pernah terjadi pada 2015. Di sisi lain, emisi karbon dari kebakaran gambut akan memperburuk target pengurangan emisi nasional yang telah dikomitmenkan dalam Perjanjian Paris. Pertanyaannya kini: apakah pemerintah mampu keluar dari siklus tahunan ini, atau akankah masyarakat kembali pasrah menghadapi langit kelam yang datang silih berganti?



