Sabalenka Lumat Lawan 53 Menit, tapi Ketegangan Justru Muncul di Ruang Konferensi
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka menang telak 6-1, 6-1 atas debutan Polina Iatcenko hanya dalam 53 menit di babak kedua US Open.
- Di sela kemenangan cepatnya, Sabalenka terlibat adu mulut dengan jurnalis yang menyinggung aktivitasnya di luar lapangan, menunjukkan tekanan yang masih ia rasakan.
- Sabalenka mengincar gelar ketiga beruntun di New York, sebuah pencapaian yang hanya pernah dilakukan Chris Evert dan Serena Williams, sekaligus mempertahankan posisi puncak ranking WTA.

New York — Aryna Sabalenka kembali menunjukkan dominasinya di lapangan keras Flushing Meadows. Unggulan teratas ini melumat petenis kualifikasi asal Rusia, Polina Iatcenko, 6-1, 6-1 dalam waktu hanya 53 menit pada babak kedua US Open, Rabu (28/8) waktu setempat. Namun, kemenangan kilat itu tidak sepenuhnya meredakan ketegangan yang menyelimuti petenis Belarusia berusia 28 tahun tersebut. Setelah pertandingan, ia justru terlibat perdebatan sengit dengan seorang jurnalis dalam konferensi pers.
Persoalan bermula ketika seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang dianggap Sabalenka mengarah pada isu kehidupannya di luar lapangan. Sabalenka merasa disindir telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang menjelang turnamen. "Pertanyaan macam apa itu? Hanya karena saya mengunggah beberapa aktivitas dengan merek, Anda pikir saya berpesta dan tidak berlatih?" ujarnya dengan nada kesal. Ketika ditanya apakah ia kini mulai serius setelah turnamen berjalan, jawabannya pun sinis: "Oh ya, sebelumnya saya tidak serius. Pertanyaan berikutnya."
Ketegangan ini menjadi sorotan di tengah performa Sabalenka yang sesungguhnya tengah menanjak. Kemenangan telak atas Iatcenko, yang berada di peringkat 160 dunia, memang tidak memberikan ujian sebenarnya. Namun, cara ia menghabisi lawan yang hanya mampu membuat tiga winner berbanding 24 winner miliknya itu jelas mengirim sinyal kepercayaan diri. Sabalenka kini melaju ke babak ketiga dan akan berhadapan dengan Kamilla Rakhimova dari Uzbekistan.
Di balik kemenangan cepatnya, Sabalenka menyimpan misi besar: menjadi wanita ketiga dalam sejarah yang mampu merebut tiga gelar US Open beruntun, setelah Chris Evert (1975-1978) dan Serena Williams (2012-2014). Lebih dari itu, ia tengah berjuang mempertahankan takhta ranking nomor satu dunia yang terancam direbut Elena Rybakina. Situasi ini menjadi ironis mengingat awal musim 2026 ia tampil nyaris sempurna—melaju ke final Australian Open dan memenangi gelar beruntun Indian Wells serta Miami. Namun, setelah itu performanya merosot; catatan menang-kalahnya sebelum US Open hanya 17-7 dan ia hanya mencapai satu semifinal WTA dalam lima bulan terakhir.
Penurunan performa ini diakui sendiri oleh Sabalenka. Ia mengaku sedang "menghadapi beberapa hal" dalam periode yang ia sadari jauh di bawah standarnya. Tekanan untuk membuktikan diri di New York pun semakin besar. Namun, di lapangan, ia tetap menunjukkan keganasan. Iatcenko yang tampak gugup di laga terbesar dalam kariernya sempat memberi perlawanan tipis di set pertama, tetapi Sabalenka dengan cepat menutup set tersebut dalam waktu kurang dari 90 detik setelah unggul 5-1. Babak kedua berjalan serupa; Sabalenka langsung memimpin 3-0 sebelum kehilangan servisnya di game keempat. Meski begitu, ia segera bangkit dan menuntaskan laga dengan dua break tambahan.
Bagi Iatcenko, kekalahan ini tetap menjadi pengalaman berharga. Petenis berusia 22 tahun itu, yang sebelumnya hanya mengantongi total hadiah 300.000 dolar AS sepanjang karier, kini membawa pulang 190.000 dolar AS dari New York—modal berharga untuk mengembangkan kariernya. Sementara itu, di sisi lain undian, unggulan ketiga Jessica Pegula juga melaju mulus setelah menyingkirkan Sofia Kenin 6-3, 6-1. Pegula, bersama Coco Gauff, masih berpeluang menggusur Sabalenka dari posisi puncak jika mampu menjuarai turnamen ini.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Sabalenka di US Open selalu menarik disimak, mengingat ia adalah salah satu bintang yang kerap tampil di turnamen Asia Tenggara. Namun, yang lebih relevan adalah bagaimana tekanan psikologis seorang atlet papan atas dapat memengaruhi performanya di lapangan—sebuah pelajaran berharga bagi atlet-atlet muda Indonesia yang bercita-cita menembus level dunia. Pertanyaannya, mampukah Sabalenka mengendalikan emosinya dan mengukir sejarah di New York, atau justru tekanan itu yang akan mengalahkannya?



