Penyebab Kematian Tim Curry Terungkap: Penyakit Jantung Koroner dan Riwayat Stroke
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Tim Curry meninggal karena penyakit arteri koroner, diperparah stroke dan kanker ginjal.
- Karier gemilangnya dari panggung West End hingga Hollywood meninggalkan jejak ikonik di industri hiburan.
- Kepergiannya menyoroti pentingnya deteksi dini penyakit jantung, terutama bagi generasi senior.

Dunia perfilman internasional kembali berduka. Tim Curry, aktor yang namanya melekat lewat peran ikonik di The Rocky Horror Picture Show, mengembuskan napas terakhir pada 25 Agustus lalu di kediamannya di Los Angeles. Usianya saat itu genap 80 tahun. Sepekan setelah kepergiannya, juru bicara sang aktor akhirnya mengungkap penyebab kematian: penyakit arteri koroner.
Penyakit jantung yang dideritanya selama bertahun-tahun menjadi pemicu utama. Namun, riwayat stroke yang pernah dialaminya pada 2012 serta kanker ginjal yang sempat diidapnya turut memperberat kondisi kesehatannya. Dokumen dari Departemen Kesehatan Masyarakat Los Angeles menyebutkan tidak ada tindakan operasi yang dilakukan untuk menangani ketiga penyakit tersebut. Informasi ini disampaikan juru bicara Curry kepada BBC dan dikonfirmasi oleh laman People.
Bagi penggemar setia, nama Curry identik dengan peran-peran yang sulit dilupakan. Ia adalah Dr. Frank-N-Furter yang flamboyan di The Rocky Horror Picture Show, lalu menjelma menjadi Pennywise yang mengerikan dalam miniseri It (1990) garapan Stephen King. Tak ketinggalan, perannya sebagai Mr. Hector, concierge Plaza Hotel yang sombong di Home Alone 2: Lost in New York, menambah daftar panjang aktingnya yang memukau. Ia juga tampil dalam Muppet Treasure Island, The Three Musketeers, dan Annie.
Karier teaternya pun tak kalah gemilang. Di West End London, ia dinominasikan untuk Laurence Olivier Award melalui perannya sebagai Raja Bajak Laut di The Pirates of Penzance (1982) dan Raja Arthur di Spamalot (2007). Di Broadway, namanya tiga kali masuk nominasi Tony Award, termasuk untuk perannya sebagai Mozart dalam Amadeus (1980). Pada 2025, ia sempat merilis memoar berjudul Vagabond.
Di Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, tetapi ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Penyakit jantung koroner masih menjadi pembunuh nomor satu di tanah air, menurut data Kementerian Kesehatan. Gaya hidup modern yang serba cepat, pola makan tidak seimbang, dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, menjadi krusial. Curry sendiri sempat mengungkapkan dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning bahwa ia tidak takut mati. “Saya tidak takut mati. Saya mencoba menghindarinya. Saya pikir kita semua melakukannya, tetapi saya menduga pada akhirnya, saya akan menyambutnya. Saya pikir akan sangat nyaman untuk pergi, dan saya ingin mendapatkannya,” ujarnya.
Kehilangan Curry meninggalkan duka mendalam bagi industri hiburan global. Namun, di balik kesedihan, ada pertanyaan reflektif yang layak direnungkan: sudahkah kita cukup peduli terhadap kesehatan jantung kita sendiri? Deteksi dini dan gaya hidup sehat mungkin bukan jaminan umur panjang, tetapi setidaknya bisa memperkecil risiko. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pertanyaan yang kini menggantung: bagaimana kita akan mengenang Curry—sebagai aktor brilian atau sebagai pengingat akan rapuhnya hidup?



