Belanja Rp4,6 Triliun untuk Rekonstruksi Lini Tengah: Manchester City Pecahkan Rekor, tapi Kado untuk Haaland di Mana?
Baca dalam 60 detik
- Manchester City mencatat rekor belanja pemain termahal dalam sejarah Premier League untuk satu bursa transfer musim panas, mencapai £458 juta atau sekitar Rp9,2 triliun.
- Investasi besar difokuskan pada renovasi total lini tengah dengan tiga rekrutan anyar, namun skuat The Citizens kini hanya memiliki satu striker murni, Erling Haaland.
- Kedalaman skuat di posisi penyerang menjadi sorotan utama; akankah ketergantungan pada Haaland menjadi bumerang di tengah padatnya jadwal kompetisi?

Manchester City mengukir sejarah baru di bursa transfer Premier League dengan total belanja mencapai £458 juta (sekitar Rp9,2 triliun) sepanjang musim panas ini. Rekor tersebut sekaligus menandai transformasi besar-besaran yang dilakukan The Citizens, terutama di lini tengah, di bawah arahan manajer anyar Enzo Maresca. Namun, di balik gemerlap rekor tersebut, muncul pertanyaan krusial: apakah City lupa menyediakan cadangan yang memadai untuk mesin gol mereka, Erling Haaland?
Investasi fantastis itu dihabiskan untuk mendatangkan tiga gelandang top: Enzo Fernandez dari Chelsea dengan rekor transfer bersama Inggris senilai £125 juta, Elliot Anderson dari Nottingham Forest seharga £116 juta, dan bakat muda asal Maroko, Ayyoub Bouaddi, yang ditebus £86 juta. Ketiganya menjadi tulang punggung renovasi total lini tengah yang ditinggalkan para pilar lama seperti Bernardo Silva, Rodri, dan Tijjani Reijnders. Langkah ini menunjukkan ambisi City untuk tetap kompetitif di level tertinggi, namun juga memunculkan tanda tanya besar mengenai keseimbangan skuat.
Direktur sepak bola Hugo Viana disebut sangat puas dengan hasil kerja di bursa transfer, termasuk perekrutan Antoine Semenyo dan Marc Guehi yang dipercepat dari Januari. Kebijakan satu keluar satu masuk yang diterapkan klub berhasil menjaga neraca keuangan, dengan pendapatan penjualan pemain mencapai £334 juta, termasuk £75 juta dari Savinho dan £65 juta dari Rodri. Alhasil, pengeluaran bersih City pada 2026 tercatat £208 juta, sebuah angka yang masih terbilang besar namun menunjukkan perencanaan yang matang.
Di atas kertas, kedalaman skuat City kini terlihat mengesankan. Hampir setiap posisi memiliki dua pemain berkualitas. Namun, analisis lebih dalam menunjukkan adanya lubang menganga di lini depan. Kepergian Omar Marmoush ke Tottenham dan peminjaman Divin Mubama ke Southampton membuat Haaland menjadi satu-satunya striker murni di tim utama. Situasi ini menjadi ironi di tengah besarnya investasi yang dikeluarkan untuk lini tengah.
Maresca sendiri tampaknya belum menemukan formula pasti untuk merotasi para gelandang barunya. Dalam dua laga awal Premier League, ia sudah bereksperimen dengan formasi kotak dan berlian di lini tengah. Anderson, yang ditempatkan sebagai gelandang bertahan, dianggap sebagai penerus jangka panjang Rodri. Sementara Bouaddi, yang masih muda, dipersiapkan sebagai pelapis. Fleksibilitas menjadi kunci, dengan Fernandez yang bisa bermain di berbagai posisi, dan persaingan untuk posisi nomor 10 antara Phil Foden dan Rayan Cherki.
Pertanyaan besar justru muncul di lini depan. Jika Haaland cedera atau butuh istirahat, siapa yang akan mengisi posisi penyerang tengah? Semenyo dan Ndiaye, rekrutan anyar, bisa menjadi opsi darurat, tetapi keduanya lebih sering bermain di sisi sayap. Catatan gol mereka pun belum meyakinkan. Sementara Foden, yang pernah mencetak 19 gol di Premier League, sedang mengalami inkonsistensi performa. Situasi ini menjadi bom waktu yang bisa mengancam ambisi City di semua kompetisi musim ini.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, fenomena ini menarik untuk disimak. Manchester City, yang kerap menjadi kiblat strategi klub-klub besar, kini tengah menguji pendekatan berani dengan mengorbankan kedalaman di lini depan demi memperkuat lini tengah. Keputusan ini bisa menjadi studi kasus tentang bagaimana klub top menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan panjang, serta risiko yang harus ditanggung ketika terlalu bergantung pada satu pemain kunci.
Maresca optimistis dengan fleksibilitas skuatnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tim yang kehilangan striker utama di tengah musim sering kali kesulitan mempertahankan konsistensi. Apakah City akan menyesali keputusan ini jika Haaland harus absen dalam waktu lama? Atau justru para pemain sayapnya mampu tampil trengginas sebagai predator ulung? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: sorotan tajam akan selalu mengarah ke Etihad Stadium setiap kali Haaland tidak masuk dalam daftar susunan pemain.



