Fujinokawa Targetkan Kokoh di Sekiwake: Pebeda Sejarah 198 Tahun dari Kyoto
Baca dalam 60 detik
- Fujinokawa menjadi pegulat termuda di divisi makuuchi dan pertama dari Prefektur Kyoto yang menembus sanyaku dalam 198 tahun.
- Targetnya adalah mempertahankan posisi sekiwake pada Turnamen Musim Gugur, dengan dukungan pelatih dan sang ayah.
- Sementara itu, ozeki Kotozakura kembali berlatih penuh setelah cedera pergelangan kaki kiri, menambah persaingan di turnamen mendatang.

Fujinokawa, pegulat sumo berusia 21 tahun yang baru saja dipromosikan ke pangkat sekiwake, menyatakan tekadnya untuk mengamankan posisi di jajaran elit sanyaku menjelang Turnamen Grand Sumo Musim Gugur. Dalam sesi latihan di Tokyo, Kamis (3/9), ia menegaskan akan berjuang keras agar tidak turun pangkat, sebuah tantangan besar bagi pendatang baru di level tertinggi sumo profesional.
Prestasi Fujinokawa bukan sekadar kenaikan pangkat biasa. Ia tercatat sebagai pegulat pertama dari Prefektur Kyoto yang berhasil menembus sanyaku—tiga peringkat bergelar di bawah yokozuna—dalam 198 tahun terakhir. Dengan tinggi 177 cm dan berat 125 kg, ia juga menjadi pegulat termuda di divisi makuuchi saat ini. Keberhasilannya ini menjadi sorotan karena berasal dari daerah yang selama hampir dua abad tidak melahirkan pegulat papan atas.
Dalam latihan di Istal Arashio, Chuo Ward, Fujinokawa menunjukkan performa impresif dengan mencatat 9 kemenangan dari 15 pertarungan, termasuk melawan Wakamotoharu. Sang ayah sekaligus pelatihnya, Kabutoyama, yang mendampingi latihan, berharap putranya tampil dengan mentalitas penantang dan gaya bertarung agresif. "Saya ingin dia menghadapi turnamen dengan semangat menantang dan bergulat habis-habisan," ujar Kabutoyama.
Fujinokawa juga menyempatkan diri mengunjungi almamaternya, SMA Saitama Sakae, sekolah unggulan sumo di Jepang timur, untuk melaporkan promosinya kepada pelatih Michinori Yamada dan istrinya Sanae. Kepada mereka, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya. "Saya tidak pernah menyangka bisa mencapai sekiwake ketika masuk SMA dengan berat 70 kg. Semua ini berkat Bapak Yamada dan Ibu Sanae," kenangnya.
- Fujinokawa: 21 tahun, 177 cm, 125 kg, pegulat termuda di makuuchi.
- Pertama dari Kyoto mencapai sanyaku dalam 198 tahun.
- Rekor latihan: 9-6 di Istal Arashio.
- Kotozakura: kembali berlatih dengan 11-4, setelah cedera pergelangan kaki.
Di sisi lain, ozeki Kotozakura mulai menjalani latihan penuh setelah sebelumnya absen dalam tur regional Agustus akibat nyeri pergelangan kaki kiri. Dalam latihan di Istal Sadogatake, Matsudo, Chiba, ia mencatat 11 kemenangan dari 15 pertarungan melawan Kotoshoho, Kotoeiho, dan komusubi Daieisho. "Pergerakan saya lebih baik dari perkiraan. Kaki saya bergerak lancar dan saya mampu bertahan di tepi ring," katanya optimistis.
Kotozakura sendiri baru saja melewati masa kritis pada turnamen Juli lalu. Berstatus kadoban—ancaman degradasi—ia berhasil mempertahankan pangkat ozeki dengan catatan 8-7. Kembalinya ia ke performa puncak menjadi sinyal persaingan ketat di Turnamen Musim Gugur, di mana Fujinokawa akan diuji kemampuannya bertahan di level sanyaku.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana sumo terus melahirkan wajah-wajah baru. Meski belum ada pegulat Indonesia di divisi elite, kiprah Fujinokawa bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air yang menekuni olahraga tradisional Jepang ini. Dengan turnamen yang semakin dekat, pertanyaan besarnya adalah: akankah Fujinokawa mampu membuktikan bahwa promosinya bukan sekadar keberuntungan sesaat?



