Natalie Imbruglia Buka Suara: Publik Tak Lagi Peduli dengan Kehidupan Asmaranya
Baca dalam 60 detik
- Di usia 51 tahun, Natalie Imbruglia mengaku publik tak lagi tertarik pada kehidupan cintanya, berbeda saat ia digosipkan dengan Pangeran Harry dan Harry Styles.
- Pelantun 'Torn' ini mengungkapkan bahwa kabar kedekatannya dengan Pangeran Harry hanya bermula dari kehadiran sang pangeran di pesta ulang tahunnya.
- Di balik sorotan media, Imbruglia berbagi perjuangannya menjalani IVF sebagai ibu tunggal dan mendorong edukasi lebih luas tentang prosedur tersebut.

Natalie Imbruglia, penyanyi berusia 51 tahun yang namanya melambung lewat hit 'Torn', mengaku publik kini tak lagi menaruh perhatian pada kehidupan asmaranya. Padahal, dua dekade lalu, namanya kerap dikaitkan dengan sejumlah pria terkenal, termasuk Pangeran Harry dan Harry Styles.
Dalam wawancara dengan kolom 60 Seconds milik surat kabar Metro, pelantun 'Shiver' itu bercanda bahwa dulu cukup terlihat bersama seseorang, langsung dianggap berpacaran. "Kamu hanya perlu terlihat dengan seseorang dan itu pacarmu," ujarnya. "Saya ingin mereka menulis itu tentang saya sekarang, tetapi ketika Anda mencapai usia tertentu, mereka tidak melakukannya. Anda bukan orang itu lagi." Ia menambahkan bahwa meski masih lajang, media tampaknya tak lagi tertarik memberitakan siapa yang sedang dekat dengannya.
Mengenai rumor kedekatannya dengan Pangeran Harry di masa lalu, Imbruglia menegaskan bahwa kenyataannya jauh dari drama kerajaan. "Saya pikir masalah Pangeran Harry bisa jadi karena dia datang ke pesta ulang tahun saya dengan seorang teman yang mengenalnya," jelasnya. "Hanya itu yang diperlukan. Saya pernah dikaitkan dengan semua orang." Pernyataan ini sekaligus menyindir betapa cepatnya gosip menyebar di industri hiburan, di mana sebuah pertemuan biasa bisa menjadi headline besar.
Di luar sorotan kamera, Imbruglia juga berbagi pergulatan batinnya sebagai ibu tunggal. Ia melahirkan putra semata wayangnya, Max, pada 2019 melalui program bayi tabung (IVF) dengan donor sperma anonim. Kepada The Guardian, ia mengaku kerap cemas membagi waktu antara karier dan mengasuh anak. "Saya sangat khawatir tentang bagaimana menyeimbangkan menjadi orang tua tunggal dan bekerja - penjadwalan membuat saya terjaga di malam hari!" Pelantun lagu 'Torn' itu bahkan berharap bisa "mengkloning diri sendiri" agar dapat bekerja dan bersama putranya secara bersamaan.
Keputusan Imbruglia menjalani IVF bukan tanpa pertimbangan. Ia menegaskan bahwa pilihan itu bukan untuk menggantikan kehadiran seorang pria, melainkan didorong oleh "jam biologis" yang terus berdetak. Namun, perjalanannya menjalani beberapa siklus IVF tidaklah mudah. Ia menyebut pengalaman itu "cukup brutal" dan mendorong para wanita untuk melakukan riset mendalam sebelum menjalani prosedur tersebut. Dalam podcast How To Fail with Elizabeth Day, ia mengungkapkan, "Sangat penting untuk mendidik diri sendiri, banyak bertanya, dan berbagi pengalaman antarsesama wanita. Ada banyak hal yang tidak saya ketahui atau pahami tentang proses itu, dan ada banyak trauma yang terlibat selama proses belajar yang seharusnya bisa diberitahukan seseorang kepada saya."
Kisah Imbruglia menyoroti pergeseran cara pandang media terhadap perempuan di industri hiburan. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, di mana selebritas perempuan yang menginjak usia tertentu sering kali mulai ditinggalkan sorotan media, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi. Padahal, banyak dari mereka justru sedang berada di puncak karier atau menghadapi babak baru kehidupan, seperti menjadi ibu tunggal atau menjalani perawatan kesuburan.
Pernyataan Imbruglia tentang pentingnya edukasi IVF juga relevan bagi pembaca Indonesia. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan reproduksi, banyak pasangan atau individu yang mempertimbangkan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF. Namun, minimnya informasi yang transparan dan stigma sosial sering kali menjadi penghalang. Kisah Imbruglia bisa menjadi pengingat bahwa setiap proses memiliki tantangan fisik dan emosional yang perlu dipersiapkan dengan matang.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: akankah media dan publik mulai mengalihkan fokus dari kehidupan asmara selebritas perempuan ke pencapaian dan perjuangan mereka? Atau justru sebaliknya, semakin banyak figur publik yang berani bersuara tentang realitas di balik layar, seperti yang dilakukan Imbruglia, sehingga mengubah narasi yang selama ini dominan?



