Sara Bareilles Buka Suara soal Perjuangan Fertilitas: 'Saya Tidak Tahu Apakah Saya Akan Menjadi Ibu'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Sara Bareilles mengungkap perjuangan tiga tahun menjalani program bayi tabung tanpa hasil, kini beralih ke donor sel telur.
- Ia menyoroti minimnya diskusi terbuka tentang fase 'messy middle' dalam perjuangan fertilitas, yang membuat banyak orang merasa terisolasi.
- Keterbukaan Sara diharapkan mendorong lebih banyak figur publik untuk berbagi pengalaman, mengurangi stigma dan memberikan dukungan emosional bagi mereka yang menghadapi tantangan serupa.

Penyanyi Sara Bareilles, yang dikenal lewat hit "Love Song", mengaku bergulat dengan ketidakpastian menjadi ibu di tengah perjuangan panjang melawan masalah kesuburan. Dalam wawancara terbaru di The Zach Sang Show, perempuan 46 tahun itu blak-blakan menceritakan pengalamannya menjalani program bayi tabung (IVF) yang belum membuahkan hasil, serta keputusannya untuk beralih ke donor sel telur sebagai langkah berikutnya.
Bareilles dan suaminya, aktor Joe Tippett (44), telah berusaha memiliki anak selama tiga tahun terakhir. Selama periode itu, ia menjalani IVF beberapa kali, rutin menjalani pemeriksaan darah dan pengecekan hormon, hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakan donor sel telur. "Saya benar-benar bergulat karena menemukan sangat sedikit materi di dunia ini tentang orang-orang yang berbagi perjuangan kesuburan mereka," ujarnya, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap minimnya informasi yang ia temukan saat memulai proses ini.
Yang membuatnya semakin terpukul, ia menemukan banyak cerita tentang betapa sulitnya hamil setelah memiliki bayi yang sehat, tetapi sangat sedikit yang berbicara dari "tengah yang berantakan"โfase penuh ketidakpastian dan kecemasan yang ia alami. Menurut pelantun "Gravity" ini, keterbatasan informasi itu terjadi karena topik ini "sangat tidak nyaman dan sulit untuk duduk dalam ketidakpastian" tentang apakah seseorang akan memiliki anak. "Ini pertanyaan mendasar yang saya coba jawab sendiri: apakah saya akan menjadi seorang ibu? Saya tidak tahu jawabannya," katanya dengan jujur.
Bareilles juga menyoroti realitas pahit dari perawatan kesuburan yang jarang dibicarakan: waktu yang dihabiskan di klinik, pengambilan darah berulang, suntikan hormon, dan obat-obatan yang melelahkan. "Kadang Anda datang tiga atau empat kali seminggu, hormon diperiksa, Anda menyuntik diri sendiri, dan Anda mengonsumsi obat-obatan gila," ungkapnya. Ia menggambarkan perasaan "pasrah dan tidak berdaya" yang menyertai proses ini, seraya menyebut banyak perempuan yang ia temui di klinik seperti "tentara kecil" yang berjuang sebelum bekerja.
Keterbukaan Bareilles menjadi angin segar di tengah budaya yang kerap menutup-nutupi perjuangan kesuburan. Di Indonesia, isu fertilitas masih dianggap tabu, dan banyak pasangan yang menghadapi masalah serupa merasa sendirian. Psikolog klinis dari Jakarta, Ratna Sari, menilai bahwa cerita seperti ini penting untuk memicu diskusi yang lebih sehat. "Ketika figur publik berbagi, itu memberi validasi bagi banyak orang yang mungkin merasa gagal atau terisolasi. Ini membantu mengurangi stigma dan mendorong mereka untuk mencari dukungan," ujarnya.
Meski demikian, perjalanan Bareilles masih panjang. Keputusannya untuk menggunakan donor sel telur membuka babak baru yang penuh harapan, tetapi juga tantangan. Ia sendiri mengakui bahwa tidak ada jumlah uang yang bisa mengendalikan hasil akhirnya. "Ada perasaan pasrah total yang harus Anda terima, karena ini bukan sesuatu yang sepenuhnya ada dalam kendali saya," katanya.
Ke depannya, pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah keterbukaan seperti ini akan mengubah cara masyarakat memandang perjuangan fertilitas? Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan reproduksi, mungkin sudah saatnya lebih banyak suara berani munculโbaik dari selebritas maupun orang biasaโuntuk saling menguatkan. Seperti yang dikatakan Bareilles, "Saya tidak ingin merasa sendirian dalam hal ini, dan saya yakin banyak orang juga tidak ingin merasa sendirian."



