Dedikasi Seorang Kakak: Merawat Adik dengan Cerebral Palsy hingga Nafas Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Suresh Vanaz Purushothaman, 47, menghabiskan hidupnya merawat adiknya yang menderita cerebral palsy, bahkan sejak usia 7 tahun.
- Setelah adiknya meninggal, Suresh justru merasa kehilangan tujuan hidup, bukan terbebas dari tanggung jawab.
- Kisah ini menyoroti beban fisik dan mental pengasuh disabilitas, serta pentingnya dukungan sosial bagi mereka.

Bagi Suresh Vanaz Purushothaman, merawat adiknya yang menderita cerebral palsy bukan sekadar kewajiban, melainkan inti dari kehidupannya. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengabdikan diri untuk Gunaseelan, adiknya yang kini telah tiada. Kepergian sang adik pada 29 Agustus lalu tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga kekosongan yang tak terisi.
Suresh, kini 47 tahun, mulai merawat Gunaseelan sejak usianya tujuh tahun. Saat teman-temannya bermain di taman, ia justru duduk di samping adiknya yang didiagnosis cerebral palsy di usia tiga tahun. “Jika Anda bertanya kapan stres saya dimulai, itu dimulai sejak saya berusia sekitar tujuh atau delapan tahun,” kenangnya. Ia bahkan sempat bekerja di kedai kopi untuk membantu kebutuhan keluarga, meski harus mengorbankan waktu belajar dan masa kecilnya.
Setelah orang tua mereka bercerai dan ibunya meninggal pada 2009, Suresh menjadi pengasuh utama Gunaseelan. Tanggung jawabnya meningkat drastis, namun ia menjalaninya dengan ikhlas. “Bukankah sudah menjadi tugasku sebagai saudara untuk merawatnya?” ujarnya. Baginya, merawat adiknya adalah sebuah kehormatan, bukan beban.
Ketika Gunaseelan meninggal dalam pelukannya setelah mengalami demam dan kejang, Suresh tidak merasa bebas dari tanggung jawabnya. Sebaliknya, ia justru berduka karena tidak bisa lagi merawatnya. “Aku tidak tahu bagaimana menghadapi masa depan tanpa rutinitas itu—mengganti popok, memandikannya, mencukurnya,” katanya. “Aku tidak lelah dan tidak akan pernah lelah. Justru aku sedih karena tidak bisa lagi melakukan tugas ini.”
Kisah keduanya sempat viral pada Desember 2024 setelah video perselisihan di lobi lift VivoCity beredar. Suresh yang sedang mendorong kursi roda adiknya tidak sengaja menabrak seorang pria, memicu pertengkaran. Insiden itu ia gunakan untuk menyuarakan tekanan yang dihadapi pengasuh disabilitas di ruang publik dan perlunya kesadaran masyarakat.
Bagi Suresh, perhatian publik bukanlah tujuan. Yang terpenting adalah memastikan adiknya mendapatkan perawatan terbaik. Ia bahkan mengabadikan momen bersama adiknya melalui media sosial, menjadi advokat bagi penyandang disabilitas dan pengasuh mereka. Kariernya sebagai pembawa acara dan koreografer tari pun berawal dari keinginannya menghibur sang adik. “Dia adalah role model saya,” akunya.
Uang dari pekerjaannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan adiknya dan berlibur bersama. Mereka pernah ke Thailand, India, Indonesia, dan setiap tahun menaiki 300 anak tangga Batu Caves di Malaysia. Rencana liburan ke Australia pada Desember pun batal. Kini, Suresh mengaku kehilangan semangat untuk tampil dan mungkin akan berhenti total.
Kisah Suresh mencerminkan perjuangan banyak pengasuh disabilitas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, beban pengasuh seringkali tidak terlihat dan kurang didukung. Data menunjukkan banyak keluarga yang merawat anggota dengan disabilitas tanpa bantuan profesional, menghadapi tekanan finansial dan mental yang besar. Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan sosial dan kebijakan yang ramah disabilitas.
Meski berduka, Suresh bertekad melanjutkan advokasinya. “Aku akan berbicara tentang warisannya, bagaimana dia menjalani hidup, dan bagaimana kita bisa mendorong pengasuh untuk memberikan hati dan jiwa mereka,” ujarnya. “Sebagai pengasuh, tidak pernah mudah. Tapi aku bertahan karena adikku mengajarkan nilai kehidupan.”
Ke depan, pertanyaannya adalah: bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat lebih mendukung para pengasuh disabilitas agar mereka tidak merasa sendirian? Kisah Suresh adalah cermin bagi kita semua untuk lebih peduli dan menghargai peran pengasuh yang seringkali terlupakan.



