Serangan Siber Novocure Bocorkan Data 1.400 Pasien AS: Sinyal Rentannya Sektor Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan onkologi Novocure mengonfirmasi akses ilegal ke sistemnya pada pertengahan Agustus, memaparkan catatan internal lebih dari 1.400 pasien di Amerika Serikat.
- Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber yang menargetkan industri kesehatan global, termasuk raksasa alat medis dan farmasi, menyoroti kerentanan data pasien yang kian genting.
- Meski Novocure mengklaim dampak finansial tidak signifikan dan perangkat medisnya aman, kebocoran ini memicu pertanyaan tentang kesiapan rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan di Indonesia menghadapi ancaman serupa.

Serangan siber yang membidik perusahaan onkologi Novocure pada pertengahan Agustus lalu telah membuka akses tidak sah ke data internal lebih dari 1.400 pasien di Amerika Serikat. Insiden ini menjadi alarm baru bagi industri kesehatan global yang kian rentan terhadap peretasan, sekaligus menggugah kewaspadaan sektor kesehatan di Indonesia yang tengah bertransformasi digital.
Novocure, yang berbasis di Swiss dan terkenal dengan terapi medan listrik untuk tumor otak, mengumumkan temuan ini pada Selasa (1/9). Dalam keterangan resminya, perusahaan menyatakan telah mengaktifkan rencana tanggap darurat siber, menerapkan langkah-langkah penahanan, dan membuka investigasi internal. Data yang terekspos mencakup nomor identifikasi pasien internal, informasi kontak umum penyedia layanan kesehatan mitra, serta data karyawan seperti jabatan dan nomor telepon. Yang lebih memprihatinkan, kurang dari 50 pasien di wilayah barat AS juga terdampak dengan bocornya informasi identitas tambahan yang lebih sensitif.
Insiden ini bukan kasus terisolasi. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah raksasa industri kesehatan menjadi korban serangan serupa, mulai dari produsen alat medis seperti Abbott, Stryker, Medtronic, dan Boston Scientific, hingga perusahaan farmasi Novo Nordisk dan pemasok peralatan medis West Pharmaceutical Services. Pola ini menunjukkan bahwa peretas semakin menargetkan institusi yang menyimpan data kesehatan bernilai tinggi, baik untuk pemerasan maupun pencurian identitas.
Menariknya, Novocure menegaskan bahwa akses ke perangkat perawatan medisnya tidak berhasil ditembus, dan seluruh sistemnya tetap berfungsi penuh. Perusahaan juga memperkirakan insiden ini tidak akan berdampak material terhadap keuangan mereka. Namun, pernyataan tersebut tidak serta-merta meredakan kekhawatiran akan keamanan data pasien yang kian terfragmentasi di berbagai platform digital.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Meski sektor kesehatan nasional belum mengalami serangan sebesar itu, adopsi teknologi digital yang pesat—mulai dari rekam medis elektronik hingga telemedicine—meningkatkan permukaan serangan. Rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan di Tanah Air perlu memperkuat sistem keamanan siber mereka, terutama dalam melindungi data pasien yang sangat sensitif. Regulasi seperti UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang baru disahkan juga menuntut keseriusan dalam tata kelola data, termasuk sanksi tegas bagi yang lalai.
Para analis keamanan siber menilai bahwa serangan terhadap Novocure menyoroti kelemahan mendasar dalam rantai pasok kesehatan: banyak perusahaan yang mengandalkan sistem lama dan kurangnya investasi dalam keamanan berlapis. Mereka memperkirakan tren ini akan terus meningkat, seiring dengan semakin bernilainya data kesehatan di pasar gelap. Di sisi lain, insiden ini juga membuka peluang bagi penyedia solusi keamanan siber untuk menawarkan layanan yang lebih tangguh bagi institusi kesehatan.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah Novocure dan perusahaan sejenis akan cukup transparan dalam mengungkap detail serangan, dan apakah regulator di berbagai negara akan memperketat standar keamanan data di sektor kesehatan? Bagi Indonesia, momentum ini seharusnya menjadi pemicu untuk segera mengevaluasi kesiapan siber di seluruh ekosistem layanan kesehatan, sebelum insiden serupa terjadi di dalam negeri.


