Kurikulum Baru Jepang Masukkan AI ke Semua Mata Pelajaran: Guru Diuji, Indonesia Bisa Meniru?
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan Jepang memasukkan literasi AI ke dalam draf kurikulum baru, tidak hanya di mata pelajaran informatika, tetapi juga bahasa asing, matematika, dan IPS.
- Kebijakan ini menekankan keseimbangan antara pemanfaatan AI dan risiko, dengan alokasi jam pelajaran baru yang mengurangi porsi mata pelajaran lain.
- Para ahli menilai kesiapan guru menjadi kunci keberhasilan, dan Indonesia dapat menjadikan langkah ini sebagai referensi dalam merumuskan kebijakan serupa.

Kementerian Pendidikan Jepang resmi memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam draf kurikulum nasional yang akan berlaku pada tahun fiskal 2030. Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang hanya menempatkan AI sebagai materi di mata pelajaran informatika, draf yang dirilis 31 Agustus lalu ini mengintegrasikan AI ke berbagai bidang studi, mulai dari bahasa asing, matematika, hingga ilmu sosial. Langkah ini sekaligus menjadi ujian besar bagi para guru yang dituntut menguasai teknologi sekaligus menjelaskan risikonya kepada siswa.
Dalam draf tersebut, misalnya, pelajaran bahasa asing didorong untuk memanfaatkan AI sebagai mitra latihan percakapan. Sementara itu, untuk matematika, pemerintah justru menekankan pentingnya literasi matematis agar siswa tidak mudah terpengaruh oleh hasil AI. Di mata pelajaran IPS, ditegaskan bahwa meskipun AI digunakan, siswa tetap harus berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri. Seorang pejabat Kementerian Pendidikan Jepang mengungkapkan, "AI punya keunggulan jika digunakan dengan bijak, tetapi kami tidak ingin siswa menggunakannya tanpa berpikir. Karena itu, sebagian isi draf ini memang bernada peringatan."
Perubahan paling mencolok adalah penambahan jam pelajaran untuk mata pelajaran baru bernama "informasi dan teknologi" di tingkat SMP, serta "domain informasi" di SD. Namun, total jam belajar tahunan tetap sama, sehingga jam untuk mata pelajaran lain otomatis berkurang. Untuk mengantisipasi hal ini, kementerian berencana memindahkan materi yang selama ini tersebar, seperti pemrograman di matematika SD dan analisis data di matematika SMP, ke dalam mata pelajaran baru tersebut. Strategi ini diharapkan mampu meminimalkan pemangkasan materi yang tidak perlu.
Kekhawatiran tentang kesiapan guru pun mengemuka. Seorang administrator SMP negeri di Tokyo menilai, guru bahasa Jepang dan IPS juga harus mampu mengajar dengan mempertimbangkan AI. "Ketertarikan guru terhadap AI akan diuji, dan perbedaan pendekatan antar sekolah mungkin akan muncul," ujarnya. Sementara itu, Kazunori Sato, profesor teknologi pendidikan di Universitas Shinshu yang juga mantan guru SD, mengapresiasi posisi AI dalam kurikulum baru. Menurutnya, sekolah dan guru yang memiliki visi jelas dalam mendidik anak akan mampu memanfaatkan AI dengan baik. Namun, ia juga menyoroti bahwa masih banyak guru yang belum paham cara menggunakan AI, sehingga pelatihan guru oleh pemerintah daerah menjadi sangat penting.
Konteks Indonesia: Langkah Jepang ini relevan dengan wacana penguatan literasi digital di tanah air. Meski belum ada kebijakan serupa yang terintegrasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mendorong penggunaan teknologi dalam pembelajaran, termasuk melalui platform Merdeka Mengajar. Namun, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa integrasi AI dalam kurikulum bukan sekadar menambah materi, melainkan juga mengubah cara guru mengajar dan menilai. Jika Indonesia ingin meniru, kesiapan infrastruktur dan pelatihan guru menjadi prasyarat mutlak, mengingat disparitas akses teknologi antar daerah masih tinggi.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada desain kurikulum, tetapi juga pada kemampuan guru untuk beradaptasi. Seperti diungkapkan Sato, guru perlu dilibatkan secara aktif dalam penggunaan AI, baik dalam tugas sehari-hari maupun kehidupan pribadi, agar mampu menjelaskan risiko dan manfaatnya kepada siswa. Apakah Indonesia siap mengambil langkah serupa? Atau justru akan tertinggal dalam pemanfaatan AI di pendidikan?



