Raygun Buka Suara: Panic Attack Hingga Konspirasi di Balik Penampilan Olimpiade yang Viral
Baca dalam 60 detik
- Atlet breaking Australia, Rachael Gunn, mengaku sempat mengalami serangan panik sebelum tampil di Olimpiade Paris 2024.
- Penampilan kreatifnya yang viral justru memicu perundungan daring dan teori konspirasi yang berdampak pada kesehatan mentalnya.
- Melalui film dokumenter Netflix, Gunn berharap dapat merebut kembali kendali atas narasi dan masa depannya.

Rachael Gunn, yang dikenal sebagai Raygun, mengungkapkan bahwa ia mengalami serangan panik di tengah Olimpiade Paris 2024, hanya beberapa jam sebelum mewakili Australia dalam upacara pembukaan. Perasaan menjadi penipu menghantuinya saat ia menyadari dirinya berada di antara para atlet berpengalaman, padahal kesehariannya adalah seorang dosen universitas.
Gunn, 38 tahun, yang berkompetisi dalam cabang olahraga breaking yang baru pertama kali dipertandingkan di Olimpiade, menceritakan pengalaman ini dalam sebuah film dokumenter Netflix. "Saya tidak bisa berhenti menangis... Saya mengalami serangan panik. 'Apa yang saya lakukan? Apa yang telah saya perbuat? Haruskah saya melakukan ini?'" kenangnya. Namun, beberapa jam kemudian, ia sudah berada di atas perahu di Sungai Seine, melambaikan tangan kepada penonton.
Perjalanan Olimpiadenya berakhir kurang dari dua minggu kemudian. Gunn gagal memenangkan satu pun dari tiga pertarungannya, tetapi ia mengaku puas dengan penampilannya. "Di ronde terakhir, juara dunia Nicka memberi saya pujian, MC merayakan aksi saya, dan suasananya sangat positif," katanya kepada BBC Sport. Namun, yang tidak ia duga adalah salah satu penampilannya, yang menampilkan gerakan tidak konvensional seperti 'sprinkler' dan 'lompatan kanguru', menjadi viral di media sosial.
Dari meme hingga sketsa di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, hingga referensi dari Adele dalam konsernya dan pembelaan dari Chris Hemsworth, nama Raygun mendadak menjadi perbincangan global. Bahkan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, ikut angkat bicara memujinya. "Cukup gila bagaimana saya menjadi topik pembicaraan di ruang yang tidak pernah saya bayangkan," ujar Gunn. Namun, di balik ejekan ringan, muncul konspirasi yang lebih gelap, termasuk tuduhan nepotisme yang melibatkan suaminya, Samuel Free, yang dituduh menjadi bagian dari komite seleksi, padahal tidak.
"Sungguh berat ketika kredibilitas, etika, dan motivasi saya serta Sammy dipertanyakan," kata Gunn. "Anda bisa menghabiskan 30 detik untuk riset dan menemukan banyak sumber untuk membantah konspirasi ini, tapi bukan begitu cara orang menggunakan internet sekarang." Tekanan ini berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. "Saya merasa seluruh hidup saya hancur... dan saya hanya berusaha melewati hari," ungkapnya dalam film tersebut.
Proses pembuatan film dokumenter ini, menurut Gunn, membantunya mendapatkan kembali kendali. "Butuh waktu lama bagi saya untuk memproses apa yang terjadi," katanya. "Sangat menyenangkan akhirnya bisa bersuara lagi." Dalam film tersebut, terungkap juga bahwa ibunya menderita tiga aneurisma otak, dan Gunn sendiri mulai mengonsumsi antidepresan untuk mengatasi kecemasan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa ia tidak akan berhenti dari breaking, meskipun ada laporan yang mengatakan sebaliknya. "Saya tidak akan membiarkan apa yang terjadi merenggut tarian dari saya. Saya cinta breaking, saya akan selalu menjadi bagian dari komunitas ini," tegasnya.
Kisah Gunn menyoroti tekanan psikologis yang dihadapi atlet di era media sosial, terutama ketika performa mereka menjadi bahan olok-olok publik. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana atlet atau publik figur menjadi sasaran ujaran kebencian daring yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental. Hal ini menegaskan pentingnya literasi digital dan dukungan psikologis bagi mereka yang berada di sorotan publik.
Gunn berharap film dokumenternya dapat menggeser percakapan dari sekadar meme menjadi pemahaman yang lebih dalam tentang tekanan yang ia alami. "Rasanya menyenangkan bisa membeberkan semuanya dan sekarang bisa melihat ke masa depan. Saya sebenarnya bersemangat dengan apa yang akan datang, ini pertama kalinya dalam beberapa waktu," tuturnya. Pertanyaannya, akankah publik belajar dari kisahnya untuk lebih bijak dalam merespons kegagalan atlet, atau justru akan terus mengulang siklus perundungan yang sama?



