GK Barry Buka Suara soal Kekerasan Seksual: 'Kita Tak Perlu Malu, Bicarakanlah'
Baca dalam 60 detik
- Bintang Loose Women, GK Barry, mengungkap pengalaman pahitnya menjadi korban pemerkosaan saat remaja dalam buku terbarunya.
- Ia mendorong publik untuk tidak lagi menganggap tabu pembicaraan tentang kekerasan seksual, termasuk yang terjadi di lingkaran terdekat.
- Pengakuan ini membuka ruang diskusi tentang pentingnya dukungan bagi korban dan edukasi consent di Indonesia.

Bintang acara Loose Women, GK Barry, yang bernama asli Grace, memutuskan untuk membuka lembaran kelam masa lalunya. Dalam buku perdananya yang berjudul It's Giving Life, perempuan 27 tahun ini mengisahkan secara gamblang pengalamannya menjadi korban pemerkosaan saat usianya masih 17 tahun. Lebih dari sekadar curhat, ia ingin mengajak publik untuk berani berbicara tentang kekerasan seksual tanpa rasa malu.
Grace mengaku butuh waktu lama untuk bisa mengakui apa yang terjadi padanya. "Butuh waktu sepuluh tahun bagi saya untuk menyadari bahwa itu adalah pemerkosaan. Saya baru paham sekarang bahwa pelaku memiliki posisi kuasa atas diri saya," tuturnya seperti dikutip The Sun. Ia menambahkan, pelaku yang jauh lebih tua darinya seharusnya tidak melakukan perbuatan itu. Pengakuan ini menjadi bagian dari upayanya untuk mendobrak stigma yang kerap membungkam korban.
Dalam wawancaranya dengan majalah new!, Grace menekankan bahwa kekerasan seksual tidak selalu datang dari orang asing. "Saya berharap dulu tahu bahwa kita bisa berkata tidak, bahwa pemerkosaan bisa terjadi dengan teman, orang dekat, bahkan atasan," ujarnya. Ia menilai masyarakat terlalu sering menyalahkan korban, padahal pelaku bisa berasal dari lingkaran terdekat sekalipun. Grace berharap buku ini bisa menjadi medium edukasi bagi pembaca, terutama mereka yang mungkin mengalami hal serupa.
Buku It's Giving Life tidak hanya berisi kisah kelam. Grace menyebut mayoritas isinya justru cerita-cerita lucu dan konyol dari kehidupannya. Namun, ia sadar ada bagian-bagian yang membuatnya gugup untuk dibagikan. "Ibu saya sudah membaca beberapa halaman pertama, tapi dia belum tahu apa yang akan datang. Ada beberapa cerita yang cukup vulgar," katanya sambil bercanda bahwa ia mungkin tidak akan sanggup menatap mata orang tuanya selama beberapa bulan ke depan.
Kisah Grace bermula saat ia menjalani praktik kerja seminggu di tahun kedua kuliahnya. Seorang pria yang lebih tua awalnya tampak ramah dan menawarkan tumpangan. Namun, situasi berubah ketika pria itu malah membawanya ke taman sepi dan memaksa melakukan oral seks. Grace memilih melanjutkan praktik karena merasa itu adalah momen penentu setelah gagal di GCSE. Di hari terakhir, saat staf lain sudah pulang, pria itu menguncinya di sebuah ruangan dan memperkosanya. Saat itu, Grace justru menyalahkan dirinya sendiri.
Kekerasan seksual masih menjadi isu yang sensitif di banyak negara, termasuk Indonesia. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ribuan kasus kekerasan seksual setiap tahunnya, namun banyak korban yang enggan melapor karena stigma dan rasa malu. Kisah GK Barry menjadi pengingat bahwa korban seringkali menyalahkan diri sendiri, padahal pelakulah yang seharusnya bertanggung jawab. Di Indonesia, upaya edukasi tentang consent dan dukungan bagi korban terus digalakkan, namun masih perlu diperkuat.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Nurul Hartini, menilai pengakuan publik seperti yang dilakukan GK Barry dapat membantu mengurangi stigma. "Ketika figur publik berani berbicara, korban lain merasa tidak sendirian. Ini bisa mendorong mereka untuk mencari bantuan profesional," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap korban memiliki proses pemulihan yang berbeda, dan dukungan lingkungan sangat menentukan.
Buku It's Giving Life diharapkan menjadi jembatan bagi pembaca untuk memahami kompleksitas trauma dan pentingnya keberanian untuk bersuara. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia sudah siap mendengar dan mendukung korban yang berani berbicara? Atau justru masih ada tembok stigma yang harus dirobohkan?



