Kroenke Perluas Imperium Olahraga: Akuisisi LA Angels Senilai Rp64 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Kroenke Sports & Entertainment resmi mengambil alih LA Angels, memecahkan rekor akuisisi termahal dalam sejarah MLB.
- Kepemilikan baru ini mengakhiri 23 tahun era Arte Moreno, yang gagal membawa Angels ke postseason selama 11 musim.
- Langkah ini menegaskan dominasi Kroenke di enam liga olahraga besar, termasuk Arsenal, dan membuka babak baru bagi franchise yang tengah berjuang.

Stan Kroenke, pemilik mayoritas Arsenal, resmi mengakuisisi klub bisbol Los Angeles Angels dalam kesepakatan yang dilaporkan mencapai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp64 triliun. Transaksi ini memecahkan rekor harga termahal untuk sebuah franchise Major League Baseball (MLB), melampaui nilai jual San Diego Padres yang mencapai 3,9 miliar dolar AS pada Agustus lalu. Dengan akuisisi ini, Kroenke semakin memperluas imperium olahraganya yang sudah mencakup enam liga profesional bergengsi di Amerika Serikat dan Inggris.
Kroenke, yang pertama kali membeli saham Arsenal pada 2007 dan mengambil kendali penuh sejak 2011, kini menambahkan Angels ke dalam portofolio yang sudah mencakup Los Angeles Rams (NFL), Denver Nuggets (NBA), Colorado Avalanche (NHL), dan Colorado Rapids (MLS). Pria berusia 79 tahun itu dikenal sebagai salah satu pengusaha paling agresif dalam mengakuisisi tim olahraga, dengan strategi investasi jangka panjang yang kerap menuai kontroversi namun juga sukses secara finansial.
Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi para penggemar Angels yang selama lebih dari satu dekade harus menyaksikan tim kesayangannya gagal menembus babak playoff. Sejak terakhir kali tampil di postseason pada 2014, Angels selalu terpuruk di klasemen. Musim ini, dengan sisa kurang dari satu bulan pertandingan reguler, mereka diprediksi kembali absen dari playoff untuk ke-12 kalinya secara berturut-turutโrekor terlama di MLB saat ini. Kondisi tersebut memicu aksi protes dari suporter, termasuk gerakan "Tarps Off" yang sempat viral di media sosial, di mana para fans melepas kemeja dan mengibarkannya di atas kepala sebagai bentuk kekecewaan.
Arte Moreno, pemilik sebelumnya yang membeli Angels pada 2003, mengakui bahwa tekanan dari penggemar menjadi salah satu alasan dirinya melepas klub. Dalam pernyataannya, Moreno menyatakan kepercayaannya bahwa Kroenke Sports & Entertainment (KSE) adalah penerus yang tepat. "Keluarga Moreno merasa terhormat telah mengelola Angels selama 23 tahun, dan kami yakin dengan pengalaman serta kesuksesan KSE, mereka adalah pemilik terbaik berikutnya untuk franchise ini," ujarnya. Moreno juga menghadapi kritik karena dianggap kurang agresif dalam belanja pemain, meski klub memiliki bintang seperti Mike Trout dan Shohei Ohtani.
Bagi pengamat olahraga, akuisisi ini menandai pergeseran besar dalam lanskap kepemilikan tim di Amerika Serikat. Kroenke dikenal dengan pendekatan bisnis yang ketat, sering kali memindahkan tim ke kota yang lebih menguntungkan secara finansialโseperti yang dilakukannya pada Rams yang pindah dari St. Louis ke Los Angeles pada 2016. Pertanyaannya, apakah ia akan menerapkan strategi serupa pada Angels, atau justru berinvestasi besar untuk membangun tim yang kompetitif? Para penggemar berharap KSE tidak hanya melihat Angels sebagai aset bisnis, tetapi juga berkomitmen untuk mengakhiri kutukan playoff yang telah lama menghantui franchise tersebut.
Di Indonesia, berita ini mungkin terasa jauh dari keseharian, tetapi memiliki relevansi dalam konteks industri olahraga global. Fenomena konglomerat yang menguasai banyak klub di berbagai cabang olahraga semakin marak, dan hal ini berdampak pada dinamika kompetisi, harga tiket, serta hak siar. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti Arsenal, kepemilikan Kroenke yang semakin meluas bisa menjadi sinyal tentang arah kebijakan transfer dan investasi klub. Meski demikian, belum ada indikasi bahwa akuisisi Angels akan memengaruhi operasional Arsenal secara langsung.
Ke depan, sorotan akan tertuju pada langkah pertama Kroenke sebagai pemilik baru Angels. Apakah ia akan membersihkan manajemen, merekrut eksekutif baru, atau bahkan memindahkan stadion? Satu hal yang pasti: dengan sumber daya finansial yang besar, Angels kini memiliki peluang untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kesuksesan di lapangan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya investasi. Pertanyaan yang menggantung: mampukah Kroenke mengulang kesuksesannya bersama Rams yang berhasil memenangkan Super Bowl, atau justru mengulang kegagalan Arsenal yang kerap dikritik karena minim gelar?



