Musim Panas Terpanas Sepanjang Sejarah Inggris Kembali Terpecah, Ilmuwan Sebut Tanda Darurat Iklim
Baca dalam 60 detik
- Inggris mencatat musim panas terpanas kedua berturut-turut dengan suhu rata-rata 16 derajat Celsius, memecahkan rekor tahun lalu.
- Analisis Met Office menyebut emisi gas rumah kaca membuat rekor suhu ini 130 kali lebih mungkin terjadi, menegaskan peran aktivitas manusia.
- Gelombang panas ekstrem memicu kekeringan luas dan ribuan kematian berlebih, memicu peringatan tentang kesiapan infrastruktur.

Inggris kembali mencatatkan rekor baru yang mengkhawatirkan: musim panas 2026 resmi menjadi yang terpanas sepanjang sejarah, menembus rekor yang baru saja dibuat tahun lalu. Pengumuman dari Met Office, badan meteorologi nasional Inggris, pada Selasa (1/9) ini langsung memicu peringatan keras dari para ilmuwan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Sepanjang Juni hingga Agustus, suhu rata-rata di Inggris mencapai 16 derajat Celsius, sedikit lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang tercatat 16,1 derajat pada 2025. Meski selisihnya tipis, para ahli menilai lonjakan ini sangat signifikan karena terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun. Menurut analisis Met Office, kemungkinan terjadinya musim panas sepanas ini meningkat 130 kali lipat akibat emisi gas rumah kaca yang disebabkan aktivitas manusia.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data dari lembaga pemantau iklim Eropa, Copernicus, menunjukkan setidaknya 33 negara dari Eropa Barat hingga Sahel dan Amerika Tengah mencatat Juli terpanas mereka tahun ini. Inggris sendiri mengalami Juli terpanas kedua, sementara Juni menjadi yang terhangat sepanjang catatan. Gelombang panas yang beruntun ini juga memicu kekeringan di hampir tiga perempat wilayah Inggris dan seluruh Wales, dengan curah hujan yang sangat minim.
"Rekor-rekor ini kini pecah dengan frekuensi yang meningkat, mencerminkan pengaruh perubahan iklim akibat ulah manusia terhadap suhu yang kita alami di Inggris," ujar Amy Doherty dari Met Office, seperti dikutip dalam laporan tersebut. Ia menyoroti betapa cepatnya rekor suhu rata-rata musim panas terlewati, hanya berselang setahun setelah rekor sebelumnya ditetapkan.
Dampak nyata dari panas ekstrem ini sudah terasa di sektor kesehatan. Badan Keamanan Kesehatan Inggris memperkirakan gelombang panas pada Mei dan Juni menyebabkan 2.877 kematian berlebih di Inggris, hampir dua kali lipat dari total kematian akibat panas sepanjang musim panas 2025. Angka ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan sekadar soal kenaikan suhu, tetapi juga ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa.
Para ahli iklim juga menggarisbawahi bahwa Inggris belum siap menghadapi konsekuensi perubahan iklim. Rumah-rumah dan infrastruktur publik dinilai tidak dirancang untuk musim panas yang lebih hangat dan kering. "Dalam iklim yang tidak terpengaruh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, musim panas seperti ini akan sangat tidak mungkin terjadi," tegas Mark McCarthy, meteorolog Met Office. Pernyataan ini menegaskan bahwa anomali suhu yang terjadi bukanlah variasi alam biasa, melainkan akibat langsung dari ulah manusia.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi cermin yang relevan. Sebagai negara tropis dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia menghadapi risiko serupa: kenaikan suhu, kekeringan, dan cuaca ekstrem yang semakin sering. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia yang konsisten dalam beberapa dekade terakhir. Jika negara maju seperti Inggris saja kewalahan, Indonesia yang infrastrukturnya lebih rentan tentu membutuhkan langkah adaptasi yang lebih serius, baik dari sisi tata kota, ketahanan pangan, maupun sistem kesehatan.
Met Office dalam laporannya menegaskan bahwa proyeksi iklim menunjukkan musim panas di Inggris akan terus memanas, sebuah tren yang sudah terbukti dari data observasi. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan iklim terjadi, tetapi seberapa cepat kita bisa beradaptasi dan menekan emisi sebelum rekor-rekor baru kembali tercipta. Apakah dunia, termasuk Indonesia, mampu bergerak lebih cepat dari laju pemanasan global?



