Pitso Mosimane Kembali Memimpin Bafana Bafana: Tantangan Berat di Kualifikasi Piala Afrika 2027
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Afrika Selatan, Pitso Mosimane, resmi ditunjuk sebagai nahkoda timnas untuk periode ketiga, menggantikan Hugo Broos yang pensiun.
- Dengan pengalaman memenangkan tiga gelar Liga Champions Afrika bersama Sundowns dan Al Ahly, Mosimane diharapkan membawa stabilitas baru bagi skuad Bafana Bafana.
- Laga perdana melawan Guinea pada akhir September akan menjadi ujian awal bagi Mosimane dalam membangun tim yang kompetitif untuk putaran final Piala Afrika 2027.

Pitso Mosimane resmi kembali memegang kendali tim nasional Afrika Selatan untuk ketiga kalinya. Federasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) mengumumkan penunjukan pelatih berusia 62 tahun itu pada Selasa (1/9), menggantikan Hugo Broos asal Belgia yang memutuskan pensiun. Keputusan ini diambil setelah SAFA menyatakan Mosimane sebagai kandidat utama sejak tiga pekan lalu.
Karier Mosimane bersama Bafana Bafana memang penuh lika-liku. Ia sempat menjadi pelatih interim dalam tujuh pertandingan pada 2007 sebelum kedatangan Carlos Alberto Parreira. Kemudian, ia dipercaya menukangi timnas pasca-Piala Dunia 2010, namun dipecat setelah gagal membawa Afrika Selatan lolos ke Piala Afrika 2012. Kini, dengan rekam jejak mentereng di level klub, publik Afrika Selatan kembali menaruh harapan besar padanya.
Kesuksesan Mosimane tidak perlu diragukan lagi. Selama menukangi Mamelodi Sundowns dan Al Ahly asal Mesir, ia berhasil mempersembahkan tiga gelar Liga Champions Afrika serta berbagai trofi domestik. Pengalaman ini menjadi modal berharga untuk membangun kembali kejayaan timnas yang sempat meredup. Namun, tantangan langsung menghadang: laga pembuka kualifikasi Piala Afrika 2027 melawan Guinea di kandang sendiri pada akhir bulan ini.
Setelah itu, Afrika Selatan akan menjalani laga tandang melawan Eritrea di Mesir (netral), serta bersaing dengan Kenya yang menjadi tuan rumah bersama. Grup ini jelas tidak mudah, dan Mosimane harus segera meramu strategi agar timnya mampu bersaing memperebutkan tiket ke putaran final. Para pengamat menilai bahwa pengalaman Mosimane di kompetisi Afrika akan menjadi kunci untuk membaca kekuatan lawan-lawan tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika sepak bola Afrika Selatan ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks persaingan di level Asia dan global. Meski berbeda zona, gaya kepelatihan Mosimane yang mengedepankan disiplin taktik dan penguasaan bola bisa menjadi referensi bagi pelatih-pelatih lokal. Selain itu, pengalaman Mosimane menangani klub-klub besar seperti Al Ahly menunjukkan bahwa pelatih asal Afrika mampu bersaing di pentas tertinggi, sebuah pelajaran bahwa kualitas kepelatihan tidak selalu datang dari Eropa atau Amerika Selatan.
Menariknya, penunjukan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian dunia pada sepak bola Afrika, terutama setelah sukses Piala Afrika 2023 di Pantai Gading. Mosimane sendiri dikenal sebagai sosok yang vokal dan karismatik, sering memberikan komentar tajam tentang perkembangan sepak bola Afrika. Dalam pernyataannya setelah dilantik, ia menegaskan, "Saya tidak datang untuk sekadar berpartisipasi. Target saya adalah membawa Afrika Selatan kembali ke peta sepak bola Afrika." Pernyataan ini menunjukkan ambisi besarnya untuk mengembalikan kejayaan Bafana Bafana yang terakhir kali meraih gelar Piala Afrika pada 1996.
Namun, skeptisisme tetap ada. Beberapa pengamat mengingatkan bahwa kegagalan di masa lalu bisa terulang jika manajemen tim tidak solid. Selain itu, persaingan di grup kualifikasi cukup ketat, dengan kehadiran Kenya yang akan tampil di hadapan pendukungnya sendiri. Mosimane juga harus bekerja cepat karena waktu persiapan yang singkat. Pertanyaannya, apakah ia mampu membangun chemistry tim dalam hitungan minggu? Atau justru pengalamannya menjadi pembeda yang membuat Bafana Bafana tampil mengejutkan? Semua akan terjawab di lapangan.



