Kejutan di Coppa Italia: Cremonese Tumbangkan Parma, Monza Singkirkan Torino
Baca dalam 60 detik
- Cremonese, tim Serie B, menang 2-0 atas Parma di kandang lawan, sekaligus memastikan langkah ke babak 16 besar Coppa Italia.
- Monza mengalahkan Torino 1-0 di Turin, memperpanjang rentetan kekalahan tuan rumah dan berhak menantang AC Milan di fase berikutnya.
- Kemenangan ini diikuti pemecatan pelatih Cremonese, Marco Giampaolo, hanya beberapa jam setelah laga usai.

Dua laga pembuka babak 32 besar Coppa Italia menyajikan kejutan besar, dengan tim-tim unggulan tumbang di kandang sendiri. Cremonese, yang berkompetisi di Serie B, sukses menaklukkan Parma 2-0 di Stadio Tardini, sementara Monza menundukkan Torino 1-0 di Turin. Hasil ini mengirimkan pesan jelas bahwa tidak ada tim yang aman di kompetisi kalah-menang, sekaligus menghadirkan dinamika baru bagi klub-klub yang tengah berjuang di papan bawah liga masing-masing.
Parma, yang baru saja menelan dua kekalahan beruntun di Serie A, kembali dipermalukan oleh tim tamu. Gol-gol Cremonese tercipta di babak pertama melalui skema serangan balik yang memanfaatkan kelengahan lini belakang tuan rumah. Simone Lottici Tessadri membuka keunggulan setelah berlari bebas di sisi kiri pertahanan Parma, sebelum Adina Licina menggandakan skor lewat penyelesaian apik setelah berkolaborasi dengan Tommaso Berti. Kekalahan ini menambah daftar panjang krisis Parma yang kini juga harus tersingkir dari ajang domestik.
Di sisi lain, kemenangan Cremonese ternyata tidak menyelamatkan posisi pelatih Marco Giampaolo. Beberapa jam setelah laga usai, manajemen klub mengumumkan pemecatan sang pelatih. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Giampaolo baru saja membawa tim meraih kemenangan penting. Namun, tekanan dari hasil buruk di liga dan ekspektasi tinggi dari manajemen tampaknya menjadi alasan di balik langkah kontroversial ini.
Di laga lainnya, Torino kembali menunjukkan performa buruk. Kekalahan dari Monza menjadi yang ketiga beruntun bagi tim asuhan Ignazio Abate, setelah sebelumnya juga tumbang di Serie A. Monza tampil percaya diri sejak awal, bahkan sempat hampir mencetak gol melalui sundulan Dany Mota Carvalho yang membentur mistar gawang. Namun, sang penyerang akhirnya memecah kebuntuan pada menit-menit akhir babak pertama, memanfaatkan kemelut di depan gawang setelah bola liar jatuh ke kakinya.
Torino berusaha bangkit di babak kedua, tetapi Monza justru beberapa kali mengancam melalui tendangan jarak jauh Jay Robinson. Di masa injury time, tuan rumah sempat mendapat hadiah penalti setelah insiden handsball Lucchesi, namun wasit menganulir keputusan tersebut setelah meninjau VAR. Aturan baru mengharuskan lengan pemain bergerak menuju bola untuk dianggap pelanggaran, dan dalam insiden ini lengan Lucchesi dianggap pasif. Keputusan ini menjadi sorotan karena akan berbeda jika kejadian serupa terjadi musim lalu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, hasil ini mengingatkan bahwa kompetisi piala sering menjadi panggung kejutan. Di Coppa Italia, tim-tim kecil bisa mengalahkan raksasa, seperti yang dilakukan Cremonese dan Monza. Ini juga menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap meremehkan lawan dari kasta bawah. Konsistensi dan mentalitas juara menjadi kunci, sebagaimana ditunjukkan oleh tim-tim Italia tersebut.
Dengan hasil ini, Cremonese akan berhadapan dengan Como di babak 16 besar, sementara Monza menantang AC Milan. Kedua laga dipastikan menarik, terutama bagi Monza yang akan menghadapi tim sekota dengan rivalitas tinggi. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mempertahankan performa impresif ini, atau akankah kejutan hanya berhenti di babak ini? Bagi Cremonese, tantangan berikutnya adalah menemukan pelatih baru yang bisa membawa tim melaju lebih jauh, sementara Parma dan Torino harus segera berbenah sebelum musim semakin terpuruk.



