Kehilangan Ozzy, Kelly Osbourne Buka Suara soal Perjuangan Mental dan Body-Shaming
Baca dalam 60 detik
- Kelly Osbourne mengaku sempat sakit parah secara fisik dan mental setelah kepergian sang ayah, Ozzy Osbourne, pada Juli 2025.
- Ia mengkritik publik yang sibuk mengomentari berat badannya di tengah duka, seraya menekankan pentingnya dukungan nyata dari orang-orang terdekat.
- Melalui terapi, Kelly bertekad membangun kembali hidupnya, meski ia sadar proses pemulihan akan berlangsung seumur hidup.

Kehilangan figur sentral dalam hidupnya, Kelly Osbourne, putri legenda rock Ozzy Osbourne, akhirnya angkat bicara mengenai kondisi fisik dan mentalnya yang sempat kolaps pasca-kepergian sang ayah pada Juli 2025. Dalam wawancara terbaru dengan majalah HELLO!, perempuan 41 tahun itu mengaku bahwa dirinya "sangat sakit" dan tidak mampu menghadapi sorotan publik yang justru sibuk memperdebatkan perubahan berat badannya di tengah masa duka.
Kelly, yang dikenal luas lewat acara Fashion Police, menyebut periode setelah kematian Ozzy sebagai "tahun terberat" dalam hidupnya. Ia bahkan merasa "sebagian dari dirinya ikut mati" dan mengakui bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi pribadi yang sama seperti sebelumnya. Pernyataan ini menjadi pengakuan jujur tentang betapa dalamnya luka yang ia rasakan, jauh melampaui sekadar kesedihan biasa.
Yang menarik, Kelly justru menyoroti perilaku publik yang lebih fokus pada penampilan fisiknya ketimbang empati atas kehilangannya. "Bagaimana mungkin saya bisa menghadapi kekejaman seperti itu ketika saya sedang sekarat?" ujarnya dengan nada getir. Ia menegaskan bahwa komentar-komentar tentang berat badannya hanya menambah beban psikologis yang sudah berat, bukan membantu proses pemulihannya.
Di tengah badai tersebut, Kelly mengaku bersyukur memiliki tim pendukung yang solidโmereka yang tetap bertahan saat banyak orang lain justru menjauh. "Saat berduka, Anda akan menyadari siapa teman sejati," katanya. Ia juga menyebut perpisahannya dengan Sid Wilson, ayah dari putranya yang berusia tiga tahun, Sydney, sebagai bagian dari rangkaian ujian hidup yang harus ia lalui tahun ini.
Dalam proses penyembuhannya, Kelly menemukan terapi sebagai alat yang sangat membantu. Ia mengaku banyak belajar tentang dirinya sendiri, termasuk memahami pola perilaku yang berakar dari masa kecil. "Anda harus memperbaiki pikiran sebelum tubuh," katanya, menekankan bahwa pemulihan tidak bisa instan. "Ini bukan soal satu sesi terapi, melainkan pekerjaan seumur hidup."
Kisah Kelly Osbourne ini relevan bagi banyak orang Indonesia yang mungkin mengalami kehilangan serupa. Di tengah budaya yang kerap menempatkan penampilan fisik sebagai tolok ukur kebahagiaan, pengakuannya menjadi pengingat bahwa duka adalah proses yang kompleks dan tidak boleh disederhanakan. Komentar pedas di media sosial, yang juga marak di Indonesia, bisa menjadi racun bagi mereka yang sedang berjuang.
Para ahli kesehatan mental di Indonesia pun sering menggarisbawahi pentingnya dukungan sosial yang tepat bagi mereka yang berduka. Alih-alih menghakimi, kehadiran yang mendengarkan tanpa syarat justru lebih bermakna. Kelly sendiri menegaskan bahwa ia beruntung memiliki "tim luar biasa" yang membantunya bertahan, sebuah pelajaran bahwa komunitas yang suportif adalah kunci pemulihan.
Ke depan, Kelly bertekad untuk terus melangkah, meski ia sadar bahwa dirinya tidak akan pernah sama. "Saya hanya menjalani hari demi hari, menyusun kembali pecahan hidup saya," ujarnya. Pertanyaannya, akankah publik belajar untuk lebih berempati pada mereka yang sedang berduka, atau justru terus terjebak pada komentar dangkal tentang penampilan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi kisah Kelly setidaknya membuka ruang refleksi bagi kita semua.



