Australia Taklukkan Argentina 27-21 di Laga Uji Coba, Les Kiss Catat Kemenangan Ketiga Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan perdana Australia di kandang Argentina sejak 2016, sekaligus modal berharga jelang Piala Dunia 2027.
- Penampilan impresif lini belakang Australia, terutama Tom Hooper, menjadi pembeda dalam duel yang berlangsung ketat.
- Hasil ini menegaskan progres positif Argentina di bawah asuhan pelatih baru, meski masih banyak pekerjaan rumah.

Kebangkitan Australia di bawah kepelatihan Les Kiss berlanjut. Pada laga uji coba pertama dari dua pertandingan yang digelar di San Salvador de Jujuy, Sabtu (29/8) waktu setempat, tim tamu menang tipis 27-21 atas Argentina yang diperkuat banyak pemain muda. Kemenangan ini menjadi yang ketiga beruntun bagi Kiss sejak mengambil alih kursi pelatih, sekaligus bukti nyata bahwa skuad asuhannya mulai menemukan ritme permainan.
Pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal. Australia unggul lewat empat try yang masing-masing dicetak oleh Brandon Paenga-Amosa, Carter Gordon, Fraser McReight, dan Tom Hooper. Sementara tuan rumah membalas lewat tiga try dari Geronimo Prisciantelli, Joaquin Moro, dan Boris Wenger. Keunggulan tipis 22-14 di babak pertama sempat terpangkas menjadi satu poin setelah Wenger mencetak skor di babak kedua, namun Hooper langsung memastikan kemenangan dengan try keduanya tak lama berselang.
Kemenangan ini bukan sekadar angka. Bagi Kiss, ini adalah ujian sesungguhnya pertamanya melawan tim yang tidak diunggulkan namun memiliki determinasi tinggi. Argentina, yang sebagian besar pemainnya berusia di bawah 25 tahun, baru saja menekan juara dunia Afrika Selatan dengan selisih tipis awal bulan ini. Mereka tampil agresif dan mengandalkan kecepatan, tetapi kurang pengalaman dalam menjaga konsistensi di menit-menit krusial.
Fraser McReight, yang tampil impresif di lini belakang, mengakui pertandingan berjalan tidak mudah. "Ini laga yang bolak-balik. Argentina bermain sangat baik dan kami sempat kehilangan fokus di beberapa sektor. Tapi saya bangga dengan cara tim bangkit dari kesalahan dan kembali berkonsentrasi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya masih dalam proses membangun kekuatan.
Dari sisi taktik, Australia unggul dalam penguasaan bola dan efektivitas penyelesaian peluang. Mereka juga sukses meredam tekanan Argentina saat bermain dengan 14 orang setelah Harry Potter terkena kartu kuning akibat sengaja menjatuhkan bola. Argentina sebenarnya sempat menekan di akhir laga, namun kesalahan sendiri membuat mereka gagal menciptakan peluang emas.
Bagi Argentina, kekalahan ini tetap menyisakan catatan positif. Mereka mampu bersaing dengan tim peringkat atas dunia dan menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pelatih Argentina, yang tengah membangun tim muda, pasti akan mengevaluasi beberapa kelemahan, terutama dalam penguasaan bola dan penyelesaian akhir.
Dari perspektif Indonesia, pertandingan ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bahwa tim-tim non-unggulan seperti Argentina mampu tampil percaya diri melawan raksasa rugby. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan olahraga di Indonesia, yang sedang giat membina bakat muda di berbagai cabang. Selain itu, keberhasilan Australia meraih kemenangan di kandang lawan menunjukkan pentingnya mentalitas dan strategi yang matang dalam turnamen internasional.
Laga kedua antara kedua tim akan digelar di Mendoza pada Sabtu depan. Argentina dipastikan akan tampil lebih baik, sementara Australia berusaha mempertahankan tren positif. Pertanyaannya, mampukah Argentina memanfaatkan dukungan publik untuk membalas kekalahan? Atau akankah Australia kembali menunjukkan dominasinya?



