Perang Saraf di Scrum: Erasmus Menolak Tuduhan Rennie soal 'Berjalan' di Set Piece
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Afrika Selatan, Rassie Erasmus, mengecam pernyataan rekannya dari Selandia Baru, Dave Rennie, yang menuduh skrum Springboks bergerak ilegal untuk mendapatkan keuntungan.
- Kemenangan 33-26 di Cape Town membuat kedudukan seri 1-1 menjelang dua laga tersisa, dengan tensi yang meningkat di antara kedua kubu.
- Erasmus menantang Rennie untuk membuktikan tuduhannya, sambil menyoroti inkonsistensi wasit dalam menangani pelanggaran di area lain.

Pertarungan sengit di lapangan rupanya belum cukup; kini perang kata-kata ikut mewarnai rivalitas klasik Rugby Championship antara Afrika Selatan dan Selandia Baru. Pelatih Springboks, Rassie Erasmus, dengan tegas membantah tuduhan rekannya, Dave Rennie, bahwa skrum andalan mereka kerap 'berjalan' atau bergerak maju secara ilegal untuk menekan lawan. Pernyataan ini muncul setelah kemenangan dramatis 33-26 di Cape Town, yang menyamakan kedudukan seri menjadi 1-1 dalam rangkaian empat pertandingan.
Dalam laga yang berlangsung ketat, skrum menjadi senjata utama Afrika Selatan, terutama pada pertemuan pertama. Namun, pada duel kedua, Selandia Baru dinilai mampu memberikan perlawanan yang lebih baik di area tersebut. Meski demikian, Rennie tetap melayangkan protes, menyebut bahwa Springboks 'masih bermasalah dengan kebiasaan berjalan' dan berencana menyampaikan kekhawatirannya kepada World Rugby. Tuduhan ini langsung memantik reaksi keras dari kubu Afrika Selatan.
Erasmus menilai pernyataan Rennie hanyalah upaya untuk memengaruhi persepsi wasit di tengah persaingan yang semakin panas. "Kami sudah bermain dengan paket penyerang yang sama cukup lama, dan ini pertama kalinya dalam sejarah kami dituduh berjalan," ujarnya kepada awak media. Ia juga menyoroti enam skrum pertama Selandia Baru yang semuanya roboh dan harus diulang, mempertanyakan mengapa justru timnya yang dituduh melakukan pelanggaran.
Lebih lanjut, Erasmus mengkritik sikap Rennie yang dianggapnya terlalu banyak mengeluh. Ia mencontohkan lemparan lineout yang miring dari lawan, yang tidak ia permasalahkan, serta kontak kepala yang terjadi di pertandingan sebelumnya. "Minggu lalu kami tidak mengeluh meski ada kontak kepala yang jelas. Hari ini, di 40 menit pertama, ada empat kontak kepala dan tidak ada tindakan apa pun," tegasnya. Baginya, tuduhan tersebut hanyalah upaya mengalihkan perhatian dari tekanan yang dihadapi timnya.
Bagi pengamat rugby di Indonesia, perseteruan ini menambah bumbu menjelang putaran final yang menjanjikan. Meski rugby belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan olahraga ini cukup pesat, dengan timnas yang mulai berkiprah di kancah regional. Ketegangan antara dua raksasa belahan selatan ini menjadi tontonan menarik, sekaligus pelajaran tentang manajemen tekanan dan strategi mental di level tertinggi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Rennie dan timnya mampu membuktikan tuduhannya di lapangan, atau justru semakin tertekan oleh permainan fisik dan psikologis yang diusung Erasmus? Dengan dua laga tersisa, termasuk satu di Amerika Serikat yang tidak biasa, dinamika ini bisa menjadi penentu juara. Satu hal yang pasti, rivalitas ini belum berakhir dan akan terus menyajikan drama hingga peluit akhir berbunyi.



