Muktamar NU di Jombang: Keputusan Final Hanya di Tangan Peserta, Ketegangan Mulai Mereda
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PBNU menegaskan otoritas tertinggi muktamar berhak mengubah keputusan lama, asalkan melalui mekanisme persetujuan peserta.
- Suasana di arena Muktamar ke-35 NU dilaporkan kembali kondusif setelah sempat terjadi ketegangan akibat ketidakpuasan simpatisan calon.
- Pagar Nusa memastikan netralitas pengamanan dan menyerukan penyelesaian perbedaan melalui jalur musyawarah, bukan tekanan.

Jombang, LyndHub โ Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menegaskan bahwa setiap keputusan yang lahir dari Muktamar ke-35 NU bersifat final dan mengikat seluruh peserta, namun bukan berarti tertutup untuk direvisi di kemudian hari. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela sidang yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Minggu, sekaligus menjawab spekulasi tentang kemungkinan perubahan atas hasil musyawarah yang tengah berjalan.
Menurut Gus Ipul, posisi muktamar sebagai forum tertinggi dalam hierarki organisasi memberikan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan apa pun, termasuk mengoreksi ketetapan yang pernah diambil sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa perubahan semacam itu tidak bisa dilakukan secara sepihak; semuanya bergantung pada musyawarah dan persetujuan para muktamirin yang memiliki hak suara. "Keputusan-keputusan di sini adalah keputusan yang mengikat," ujarnya, menegaskan bahwa mekanisme internal tetap menjadi satu-satunya jalan sah untuk melakukan penyesuaian.
Pernyataan tersebut muncul di tengah dinamika yang sempat memanas di luar area sidang. Sejumlah simpatisan salah satu calon mengungkapkan ketidakpuasan terhadap jalannya mekanisme persidangan, yang sempat memicu ketegangan. Namun, Gus Ipul memastikan bahwa situasi telah mencair dan seluruh pihak kini kembali duduk bersama mencari solusi terbaik. "Dan sekarang suasananya sudah reda, sedang musyawarah mencari jalan yang terbaik. Itulah NU," katanya, menggambarkan semangat konsensus yang menjadi ciri khas organisasi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, turut angkat bicara. Ia mengimbau seluruh elemen yang terlibat untuk menahan diri dan menghormati mekanisme persidangan. Pagar Nusa, menurut Nabil, hadir murni untuk menjalankan tugas khidmah menjaga keamanan dan ketertiban, tanpa berpihak pada kandidat atau kelompok mana pun. "Kami tidak berada pada kepentingan kandidat atau kelompok mana pun," tegasnya, seraya mengingatkan bahwa perbedaan pandangan adalah hal lumrah dalam organisasi, tetapi tidak boleh diekspresikan dengan cara yang mengganggu jalannya muktamar.
Nabil juga menggarisbawahi nilai historis lokasi muktamar yang sarat makna perjuangan para pendiri NU, termasuk K.H. Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. Ia mengajak semua pihak menjaga adab di hadapan para masyayikh, agar tempat bersejarah ini tidak ternoda oleh pertengkaran yang dapat merusak persaudaraan sesama nahdliyin. Instruksi tegas pun diberikan kepada seluruh personel Pagar Nusa untuk bertindak terukur, tidak provokatif, dan mengedepankan pendekatan persuasif dalam setiap penanganan.
Bagi warga Nahdliyin dan masyarakat luas, muktamar ini bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan cerminan bagaimana organisasi keagamaan terbesar di Indonesia mengelola perbedaan. Proses yang transparan dan damai akan memperkuat legitimasi hasil muktamar, sekaligus menjadi contoh bagi organisasi kemasyarakatan lain dalam menyelesaikan konflik internal. Sebaliknya, jika dinamika di lapangan tak terkendali, citra NU sebagai perekat kebangsaan bisa tercoreng.
Hingga berita ini diturunkan, panitia terus memfasilitasi pembahasan materi agar seluruh agenda dapat diselesaikan tepat waktu. Pertanyaan yang menggantung di benak publik: akankah mekanisme musyawarah yang ditempuh mampu mengakomodasi semua aspirasi tanpa meninggalkan luka berkepanjangan? Jawabannya akan menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.



