Teleskop Luar Angkasa Roman Milik NASA Sukses Mengorbit: Misi Mengungkap Misteri Alam Semesta
Baca dalam 60 detik
- NASA berhasil meluncurkan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, observatorium senilai US$4 miliar, dengan roket Falcon Heavy dari Florida.
- Teleskop ini dirancang untuk memetakan lebih dari dua miliar galaksi dan menyelidiki energi gelap serta materi gelap, yang diyakini membentuk 95% alam semesta.
- Keberhasilan misi ini dapat mengubah pemahaman manusia tentang kosmos, sekaligus membuka peluang kolaborasi ilmiah global, termasuk bagi para astronom Indonesia.

NASA resmi mengirim Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman ke orbit pada Minggu (30/8) dari Kennedy Space Center, Florida. Misi senilai US$4 miliar ini diusung roket Falcon Heavy milik SpaceX, menandai babak baru penjelajahan manusia untuk mengungkap misteri terbesar astrofisika dan kosmologi.
Teleskop yang dinamai dari astronom perempuan pertama di NASA ini membawa misi ambisius: menyelidiki energi gelap dan materi gelap, dua komponen misterius yang diperkirakan membentuk 95% isi alam semesta. Selain itu, Roman juga akan menguji teori gravitasi pada skala kosmik dan berburu eksoplanet—planet di luar tata surya kita—dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Kehadiran Roman melengkapi dua pendahulunya, Hubble yang telah beroperasi sejak 1990 dan James Webb yang diluncurkan 2021. Jika Webb berperan seperti lensa zoom untuk mengamati objek jauh secara detail, Roman diibaratkan lensa wide-angle yang mampu memotret panorama langit dengan sangat cepat. Julie McEnery, ilmuwan senior proyek Roman di Goddard Space Flight Center, mengungkapkan bahwa satu bulan pengamatan Roman dapat memetakan seluruh galaksi Bima Sakti—pekerjaan yang membutuhkan sekitar satu abad jika menggunakan Hubble.
"Seolah-olah Hubble dan James Webb mengintip alam semesta melalui lubang kunci, sementara Nancy Grace Roman akan mendobrak pintunya," ujar Nicola Fox, kepala Direktorat Misi Sains NASA, dalam konferensi pers. Roman akan menempati posisi di Titik Lagrange 2, sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi, dengan misi utama lima tahun dan potensi perpanjangan lima tahun berkat sisa bahan bakar.
Misi utama Roman adalah menciptakan peta 3D alam semesta paling komprehensif yang pernah ada, mencakup lebih dari dua miliar galaksi. Survei ini akan memakan waktu lebih dari setahun dan menjadi kunci untuk memahami percepatan ekspansi alam semesta yang pertama kali ditemukan pada 1998. Para ilmuwan meyakini energi gelap adalah pendorong percepatan tersebut, sementara materi gelap memengaruhi gravitasi galaksi dan bintang. Dengan mengukur tarikan materi gelap dan dorongan energi gelap, Roman diharapkan mampu membawa manusia lebih dekat pada pemecahan kedua teka-teki kosmik ini.
Selain memetakan galaksi, Roman akan melakukan pencarian eksoplanet paling ekstensif. Diperkirakan teleskop ini akan menemukan ribuan dunia baru dan memberikan sensus statistik pertama sistem planet yang mirip dengan tata surya kita. "Salah satu aspek paling menarik dari Roman adalah potensi penemuannya. Secara historis, observatorium besar sering kali membuat terobosan di area yang tidak diduga para ilmuwan sebelum peluncuran," kata Mustapha Ishak, kosmolog dari University of Texas at Dallas yang terlibat dalam kolaborasi ilmiah Roman.
Bagi Indonesia, misi ini membuka peluang partisipasi dalam riset astrofisika global. Data yang dikumpulkan Roman akan tersedia untuk publik, memungkinkan para astronom dan peneliti di Tanah Air untuk turut menganalisis peta kosmik dan data eksoplanet. Kolaborasi semacam ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam kancah sains antariksa internasional, sejalan dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap astronomi dan teknologi antariksa.
Meskipun sempat menghadapi ancaman pemotongan anggaran dari pemerintahan Trump, Kongres AS tetap mempertahankan pendanaan proyek ini. Kini, dengan peluncuran yang sukses, pertanyaan besarnya adalah: apakah Roman akan mampu mengungkap sifat sejati energi gelap dan materi gelap, atau justru menemukan hal-hal yang lebih mengejutkan di luar dugaan para ilmuwan?



