Roger Federer Resmi Masuk Hall of Fame Tenis: 'Ini Bukan Perpisahan'
Baca dalam 60 detik
- Legenda tenis Swiss, Roger Federer, resmi dilantik ke International Tennis Hall of Fame di Newport, Rhode Island, Sabtu (29/8), bersamaan dengan jurnalis Mary Carillo.
- Dalam pidato emosionalnya, Federer menegaskan bahwa ketenaran bukanlah tujuan, melainkan kecintaannya pada olahraga yang telah memberinya 20 gelar Grand Slam dan 103 gelar ATP.
- Federer berharap tenis modern tetap mempertahankan semangat amatir dan persahabatan antar pemain, seiring dengan semakin cepat dan globalnya olahraga ini.

Roger Federer, legenda tenis Swiss dengan 20 gelar Grand Slam, secara resmi dilantik ke International Tennis Hall of Fame di Newport, Rhode Island, pada Sabtu (29/8). Dalam pidato yang penuh haru, ia menyebut penghargaan ini sebagai salah satu kehormatan terbesar dalam hidupnya, namun menegaskan bahwa ketenaran bukanlah tujuan utamanya. “Tujuan saya adalah menghabiskan hidup melakukan sesuatu yang saya cintai, bersama orang-orang yang juga mencintainya,” ujarnya.
Federer, yang pensiun pada 2022 dengan 103 gelar ATP Tour, menghabiskan 310 minggu sebagai petenis nomor satu dunia. Ia memegang rekor delapan gelar Wimbledon, enam gelar Australia Terbuka, lima gelar AS Terbuka, dan satu gelar Prancis Terbuka. Gaya bermainnya yang elegan, dengan headband khas dan dua pasang kaus kaki, menjadi ciri yang melekat di hati penggemar. Ia bahkan bercanda telah memakai lebih dari 5.000 headband sepanjang kariernya.
Dalam pidatonya, Federer mengenang perjalanan kariernya yang dimulai sebagai ball boy di Basel saat berusia 13 tahun. Ia mengaku bangga bahwa Swiss “ikut” bersamanya dalam pelantikan ini. “Tenis adalah segalanya bagi saya. Bukan hanya bermain atau menang, tetapi menciptakan sesuatu yang baru,” katanya. Ia juga menyebut inovasi seperti SABR (Sneak Attack by Roger) sebagai bagian dari mentalitasnya di lapangan.
Federer tidak hanya melihat ke belakang, tetapi juga ke depan. Ia berharap tenis yang semakin cepat dan global tetap mempertahankan semangat amatir dan kebersamaan antarpemain. “Kita semua akan meninggalkan lapangan suatu hari nanti, tetapi olahraga ini terus berkembang. Saya berharap para pemain tetap muda di hati, jujur pada diri sendiri, dan tidak pernah berhenti bertanya atau mengambil risiko,” pesannya.
Bagi Indonesia, momen ini menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan usia dini dan inovasi dalam olahraga. Federer, yang memulai dari bawah, membuktikan bahwa dedikasi dan kecintaan pada olahraga dapat mengantarkan seseorang ke puncak dunia. Hal ini relevan dengan upaya pengembangan tenis di tanah air yang masih membutuhkan lebih banyak fasilitas dan pembinaan berkelanjutan.
Federer juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pelatih, dokter, dan keluarga, terutama istrinya, Mirka, yang ia sebut sebagai pilar kehidupannya. Ia mengaku “sangat beruntung” bisa bermain melawan generasi-generasi hebat, dari Andre Agassi hingga Rafael Nadal dan Novak Djokovic. Namun, ia menegaskan bahwa ini bukanlah akhir. “Saya masih menulis surat cinta untuk tenis. Ini bukan perpisahan,” tutupnya.
Dengan masuknya Federer ke Hall of Fame, dunia tenis kembali diingatkan pada sosok yang tidak hanya hebat di lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Pertanyaannya, akankah muncul penerus yang mampu meniru jejak Federer, baik dalam prestasi maupun sportivitas? Atau justru era baru tenis akan melahirkan gaya yang berbeda, tetapi tetap menghormati nilai-nilai yang ia junjung?



