Bencana Himalaya: 3.000 Lebih Hilang, Nepal dan China Berlomba Lawan Waktu
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 3.000 orang dinyatakan hilang dan 768 tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di perbatasan Nepal-Tiongkok.
- Tim penyelamat berupaya menjangkau pekerja pembangkit listrik yang terjebak di terowongan, sementara danau baru terbentuk akibat longsor menambah risiko.
- Bantuan internasional mengalir, tetapi Nepal membutuhkan teknologi canggih dan dana miliaran dolar untuk rekonstruksi.

Bencana dahsyat yang melanda kawasan Himalaya pada Rabu pagi telah menewaskan sedikitnya 768 orang dan membuat lebih dari 3.000 lainnya hilang, memicu operasi pencarian besar-besaran di Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok. Tim penyelamat harus berjuang melawan lumpur setinggi lutut, sungai yang meluap, dan ancaman danau baru yang terbentuk akibat longsor susulan, Minggu (30/8).
Menurut data terbaru dari kedua negara, 3.048 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan warga asing. Otoritas Nepal telah mulai menguburkan sebagian jenazah setelah mengambil sampel DNA untuk memudahkan keluarga mengidentifikasi dan melakukan ritual pemakaman. Sementara itu, laporan menyebutkan beberapa jenazah mungkin terbawa arus hingga ke India.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di lereng selatan Puncak Lirung, Nepal, yang memicu longsoran es dan batuan. Material tersebut kemudian membentuk aliran debris sejauh lebih dari 20 kilometer sebelum menghantam Pelabuhan Gyirong di Tibet. US Geological Survey mengonfirmasi bahwa peristiwa ini adalah kombinasi dari runtuhnya gletser dan aliran air yang sangat deras.
Di Nepal, tentara dan insinyur berhasil memasukkan pipa ke terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A, tempat puluhan pekerja diduga terjebak. Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, menyatakan bahwa udara telah dialirkan melalui celah kecil tersebut. Namun, hujan deras dan naiknya permukaan sungai sempat menghambat upaya evakuasi. Dari total korban hilang, 933 di antaranya adalah pekerja proyek infrastruktur energi yang tersebar di lembah sungai.
Di sisi Tiongkok, tim penyelamat di dekat Pelabuhan Gyirong terpaksa dievakuasi ke lokasi aman setelah muncul danau baru akibat longsor. Meski demikian, CCTV melaporkan bahwa danau tersebut telah mengering secara alami. Sekitar 2.141 personel dikerahkan di lokasi tersebut, sementara 555 turis asing dan 499 warga Tiongkok telah dievakuasi dari Tibet.
Kepala iklim PBB, Simon Stiell, menyebut bencana ini sebagai pengingat akan kerapuhan lingkungan pegunungan. Sementara itu, warga yang selamat seperti Buddhi Ram Dangol dari Nuwakot menggambarkan bagaimana seluruh pemukiman di dekat sungai tersapu bersih. Keluarga yang cemas berkumpul di pangkalan militer Bidur untuk mencari nama kerabat mereka dalam daftar korban selamat.
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, memperkirakan biaya rekonstruksi bisa mencapai miliaran dolar. Ia meminta bantuan internasional berupa drone angkut berat dan teknologi untuk mendeteksi korban terjebak. Khanal juga meminta peralatan forensik dan unit pendingin untuk mengawetkan jenazah, mengingat kondisi tubuh yang terendam air dapat mempercepat pembusukan. Malaysia telah berjanji mengirim tim SAR khusus.
Bencana ini juga berdampak pada wisatawan, termasuk 80 anggota Isha Foundation yang dipimpin guru spiritual Sadhguru. Yayasan tersebut menyatakan belum ada indikasi adanya yang selamat di area kantor imigrasi setempat. Sementara itu, Tiongkok dan Nepal sepakat berbagi data satelit dan hidrologi untuk memantau risiko banjir susulan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan iklim. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, risiko tanah longsor dan banjir bandang di daerah pegunungan seperti Papua dan Sumatera tetap tinggi. Kerja sama regional dalam berbagi data dan teknologi mitigasi bencana menjadi semakin krusial.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah kedua negara mampu mempercepat proses pencarian dan pemulihan, serta bagaimana komunitas internasional akan merespons kebutuhan jangka panjang Nepal. Akankah tragedi ini mendorong investasi lebih besar dalam sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan iklim di kawasan rawan?



