Duel Como vs Napoli: Capello Beberkan Perbedaan Gaya Fabregas dan Allegri
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello menilai Fabregas membangun Como dengan visi jangka panjang, dari Serie B hingga Liga Champions.
- Allegri dianggap pragmatis dan berorientasi pada hasil, tetapi tantangannya di Napoli adalah membangun tim baru.
- Laga pekan kedua Serie A ini menjadi ujian awal bagi kedua pelatih dalam perburuan empat besar.

Duel antara Como dan Napoli pada pekan kedua Serie A, Minggu (30/8/2026) malam WIB, tidak hanya mempertemukan dua tim yang musim lalu finis di posisi kedua dan keempat. Lebih dari itu, laga ini menjadi ajang pembuktian dua filosofi kepelatihan yang bertolak belakang, sebagaimana diulas legenda sepak bola Italia, Fabio Capello, dalam kolomnya di La Gazzetta dello Sport.
Como datang dengan status kuda hitam setelah dibangun ulang secara masif oleh Cesc Fabregas. Dalam tiga musim, mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu membawa klub promosi dari Serie B ke Liga Champions. Capello menilai keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan buah dari perencanaan yang matang sejak awal.
“Sejak memulai dari tim muda, Fabregas sudah punya gambaran jelas tentang sepak bola yang ia inginkan. Ia merekrut pemain yang kuat secara teknis, punya kepribadian, dan mau berkorban untuk tim,” tulis Capello. Gaya bermain Como, menurutnya, selalu mengarah ke depan, tidak mundur, dan dibangun di atas kolektivitas yang solid.
Namun, Capello mengingatkan bahwa Liga Champions adalah lompatan ganda yang akan menguji Fabregas. “Mereka tidak lagi menjadi kejutan. Mereka sudah menghabiskan banyak uang dan sekarang harus tampil konsisten,” ujarnya. Como dijadwalkan menghadapi Barcelona—klub lama Fabregas—serta Paris Saint-Germain dan Manchester United di fase grup.
Di sisi lain, Napoli di bawah Massimiliano Allegri menghadapi tantangan berbeda. Capello menyoroti bahwa Allegri, yang sempat gagal di AC Milan musim lalu, harus membangun tim dari nol setelah ditinggalkan Antonio Conte. “Allegri selalu pragmatis, tahu cara mencetak gol, dan mengandalkan individualitas pemain. Tapi sekarang ia harus menyatukan pemain yang sebelumnya hanya ia kenal sebagai lawan,” kata Capello.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, duel ini menarik karena menunjukkan bagaimana dua pendekatan berbeda bisa sukses di kompetisi elite Eropa. Fabregas mewakili generasi pelatih muda yang berani bereksperimen, sementara Allegri adalah representasi pragmatisme klasik Italia. Keduanya sama-sama berambisi membawa timnya ke Liga Champions musim depan, dan hasil laga ini akan menjadi indikator awal siapa yang lebih siap.
Capello juga menyoroti bahwa Allegri harus mampu menjadikan Napoli penantang utama Inter Milan di liga, sekaligus membangun tim yang kompetitif di Eropa. “Ia punya pengalaman dan mentalitas pemenang, tetapi tantangan terbesarnya adalah adaptasi cepat,” tulisnya.
Pertanyaan besarnya, akankah Fabregas mampu mempertahankan konsistensi di tengah jadwal padat Liga Champions? Atau justru Allegri yang akan membuktikan bahwa pengalaman masih menjadi faktor penentu di Serie A? Laga Minggu malam akan memberikan jawaban awal.



