Roger Federer Resmi Masuk Hall of Fame Tenis: 'Fame Bukan Tujuan, Tapi Cinta pada Olahraga'
Baca dalam 60 detik
- Legenda tenis Swiss, Roger Federer, dilantik ke International Tennis Hall of Fame di Newport, Rhode Island, dengan mata berkaca-kaca.
- Sepanjang kariernya, Federer mengoleksi 20 gelar Grand Slam dan memegang rekor 310 pekan sebagai petenis nomor satu dunia.
- Federer menekankan bahwa ketenaran bukanlah targetnya, melainkan dedikasi untuk menekuni olahraga yang ia cintai bersama orang-orang terdekat.

Roger Federer, legenda tenis Swiss yang telah memenangi 20 gelar Grand Slam, resmi dilantik ke International Tennis Hall of Fame pada upacara di Newport, Rhode Island, Senin (15/7). Momen ini ia sebut sebagai salah satu kehormatan terbesar dalam hidupnya, dan air matanya tak terbendung saat mengenang perjalanan karier yang gemilang di hadapan para tokoh tenis seperti Billie Jean King dan John McEnroe.
Federer, yang pensiun pada 2022, memulai debut profesionalnya pada 1998 di usia 16 tahun. Selama lebih dari dua dekade, ia berhasil memecahkan rekor dengan meraih delapan gelar Wimbledon, enam gelar Australia Terbuka, lima gelar AS Terbuka, dan satu gelar Prancis Terbuka. Prestasi ini menempatkannya di jajaran petenis terbaik sepanjang masa, hanya kalah dari Rafael Nadal (22 gelar) dan Novak Djokovic (24 gelar) dalam perolehan gelar Grand Slam tunggal putra.
Dalam pidatonya, Federer mengaku bahwa ketenaran bukanlah tujuan utamanya. "Mereka menyebutnya Hall of Fame, tapi fame tidak pernah menjadi target. Tujuanku adalah menghabiskan hidup melakukan sesuatu yang kucintai, bersama orang-orang yang juga mencintainya," ujarnya. Ia juga menyoroti statistik unik dari kariernya, seperti mengenakan lebih dari 5.000 ikat kepala dan 7.000 pasang kaus kakiโjumlah yang ia klaim melebihi kombinasi Bjorn Borg dan John McEnroe.
Karier Federer tidak hanya diukur dari gelar Grand Slam. Ia juga meraih medali emas ganda Olimpiade Beijing 2008 bersama Stan Wawrinka, serta medali perak tunggal di London 2012. Selain itu, ia menjadi bagian dari tim Swiss yang memenangkan Piala Davis untuk pertama kalinya pada 2014. Federer menghabiskan 310 pekan sebagai petenis nomor satu dunia, sebuah rekor yang kemudian dipecahkan oleh Djokovic.
Di tengah suasana haru, Federer menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang istri, Mirka, idolanya Stefan Edberg, serta para ball kid yang setia mendukungnya. Ia juga mengaku beruntung bisa bermain di era yang mempertemukannya dengan generasi berbeda, dari Andre Agassi hingga Nadal dan Djokovic. "Tenis adalah segalanya bagiku. Ini bukan hanya olahraga, tapi juga keluarga, persahabatan, dan masa depan yang kami bangun," tuturnya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, pelantikan Federer menjadi pengingat akan kehebatan seorang atlet yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menginspirasi jutaan orang. Di tengah maraknya turnamen tenis yang disiarkan di tanah air, sosok Federer tetap menjadi panutan bagi para petenis muda yang bercita-cita menembus panggung dunia. Pertanyaannya, akankah ada penerus Federer yang mampu meniru jejaknya, baik dari segi prestasi maupun dedikasi? Hanya waktu yang akan menjawab.



