Seruan Mojtaba Khamenei: Dunia Islam Diminta Sadar Musuh Sejati di Tengah Runtuhnya Gencatan Senjata
Baca dalam 60 detik
- Putra Pemimpin Tertinggi Iran menyerukan persatuan negara-negara Islam untuk menghadapi AS dan Israel, menyusul gagalnya kesepakatan damai April-Juni.
- Serangan balasan Iran ke pangkalan AS di negara tetangga menunjukkan eskalasi yang berisiko mengguncang stabilitas kawasan dan harga energi global.
- Ketidakpastian gencatan senjata baru berpotensi memicu gejolak pasar minyak dan memperumit kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah.

Putra Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mendesak para pemimpin negara Islam untuk menyatukan barisan melawan apa yang ia sebut sebagai "musuh sejati" โ Amerika Serikat dan Israel โ di tengah hancurnya kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diratifikasi beberapa bulan lalu. Seruan ini disampaikan dalam rangka Pekan Persatuan Islam dan disiarkan langsung oleh televisi nasional IRIB, menandakan urgensi politik yang tinggi di tengah ketegangan regional yang kembali memanas.
Dalam pernyataannya, Khamenei menekankan bahwa persatuan umat Islam bukan sekadar wacana, melainkan prasyarat untuk membangun peradaban Islam yang kuat dan berdaulat. Ia secara eksplisit menyebut Washington dan Tel Aviv sebagai penghalang utama persaudaraan antarsesama Muslim, bukan hanya musuh Iran. "Rekomendasi berulang dan empati saya kepada para pemimpin negara Islam, khususnya di Asia Barat dan kawasan Teluk, adalah supaya mereka dapat melihat musuh sejati, memahami rencana musuh itu, dan melawannya," ujarnya, seperti dikutip media lokal.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita mancanegara. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Jakarta memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Teluk. Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan minyak global, yang berdampak langsung pada harga energi domestik dan inflasi. Selain itu, posisi Indonesia yang selama ini menjalin hubungan baik dengan Iran dan negara-negara Teluk menuntut kebijakan luar negeri yang hati-hati agar tidak terseret dalam polarisasi baru.
Pernyataan Mojtaba Khamenei juga menyiratkan pergeseran narasi di internal Iran. Dengan menyebut AS dan Israel sebagai musuh bersama seluruh dunia Islam, ia mencoba membangun legitimasi atas kebijakan luar negeri Iran di mata negara-negara Muslim lain. Analis menilai langkah ini sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar Teheran di tengah isolasi internasional, sekaligus menguji solidaritas negara-negara Teluk yang selama ini berada di bawah payung keamanan AS.
Di sisi lain, sikap Washington yang berubah-ubah โ dari agresif ke diplomatis dalam hitungan minggu โ menunjukkan kebijakan Timur Tengah yang tidak konsisten. Hal ini membuka ruang bagi aktor regional seperti Iran untuk memanfaatkan celah tersebut. Namun, risiko perang terbuka masih tetap tinggi, terutama jika negosiasi baru kembali gagal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah seruan persatuan Islam ini mendapat sambutan nyata dari para pemimpin negara Muslim, atau hanya menjadi retorika kosong di tengah kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan? Bagi Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri dan stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.



