Les Kiss Pertahankan Suaalii di Posisi Center, Wallabies Siap Hadapi Argentina
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Australia, Les Kiss, menegaskan Joseph-Aukuso Suaalii tetap menjadi andalan di posisi outside center meski ada opsi lain.
- Kiss tengah membangun fleksibilitas skuad dengan meminta pemain mengisi beberapa posisi, namun prioritas utama tetap pada Suaalii di nomor 13.
- Duel melawan Argentina menjadi ujian krusial bagi Australia dalam persiapan menuju Piala Dunia 2027 di kandang sendiri.

Pelatih tim nasional Australia, Les Kiss, menegaskan bahwa Joseph-Aukuso Suaalii tidak akan dipindahkan ke posisi sayap atau fullback, meski persaingan di lini tengah Wallabies semakin ketat menjelang dua laga uji coba melawan Argentina. Suaalii, yang sebelumnya bermain di posisi sayap untuk tim nasional dan fullback untuk New South Wales Waratahs di Super Rugby Pacific, tetap diplot sebagai outside center.
Keputusan ini diambil Kiss setelah Suaalii pulih dari cedera hamstring yang membuatnya absen pada laga terakhir melawan Jepang. Dalam ketidakhadirannya, Isaac Henry tampil impresif di nomor 13 saat berpasangan dengan Hunter Paisami di Townsville. Kembalinya Len Ikitau dari cedera juga memberi Kiss opsi tambahan di sektor tengah.
"Tidak. Sejak awal niat kami adalah mempertahankannya di outside center, dan itu tetap menjadi posisi yang diinginkan untuk saat ini," ujar Kiss kepada wartawan di San Salvador, seperti dikutip dari Channel News Asia. Namun, ia menambahkan bahwa fleksibilitas pemain di lini belakang tetap penting. "Para pemain diminta untuk mengisi posisi lain yang produktif, sehingga tim bisa memperluas opsi seleksi dan menghadapi berbagai situasi," jelasnya.
Sejak mengambil alih tim untuk seri melawan Jepang, Kiss memang dikenal berani bereksperimen. Salah satu inovasinya adalah memainkan dua pemain perebut bola (poacher) di lini belakang saat melawan Jepang, dengan menurunkan Fraser McReight bersama Carlo Tizzano di babak kedua. Taktik ini terbukti efektif dan mengingatkan pada kombinasi David Pocock dan Michael Hooper yang membawa Australia ke final Piala Dunia 2015.
Kiss menyebut duet McReight dan Tizzano "sangat menggoda" untuk diulang, tetapi ia tidak melihatnya sebagai pakem tetap. "Ada kombinasi lain yang melibatkan kekuatan lini belakang yang ingin kami eksplorasi," katanya. Ia juga memuji para pemain yang cepat beradaptasi dengan mekanisme dan ide baru dari staf pelatih anyar, termasuk kerja sama pertahanan di bawah arahan Scott McLeod, mantan asisten pelatih All Blacks di dua Piala Dunia terakhir.
Menghadapi Argentina, Kiss mengakui atmosfer stadion bisa menjadi tantangan tersendiri. "Begitu penonton (Argentina) mulai bergemuruh, lingkungan bisa menjadi sangat sulit, jadi Australia harus cukup baik untuk meredam dan bertahan," ujarnya. Dua laga ini akan menjadi tolok ukur kemajuan tim asuhannya.
Bagi pengamat rugbi di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim-tim besar membangun kedalaman skuad. Meski rugbi belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, strategi manajemen pemain seperti yang dilakukan Kiss bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan olahraga di Indonesia, terutama dalam hal fleksibilitas posisi dan rotasi pemain.
Dengan Piala Dunia 2027 yang akan digelar di Australia, Kiss tampaknya ingin membangun fondasi yang kokoh. Pertanyaannya, apakah keputusan mempertahankan Suaalii di posisi center akan membawa hasil maksimal, atau justru menjadi bumerang ketika menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Argentina? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah Kiss menunjukkan komitmennya pada visi jangka panjang.



