Mark Gatiss: Doctor Who Perlu Istirahat Panjang agar Dikenang Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Mantan penulis Doctor Who, Mark Gatiss, menilai iterasi saat ini sudah jenuh dan menyarankan jeda panjang agar penonton merindukannya.
- BBC telah mengumumkan proses tender kompetitif untuk kelanjutan serial, sekaligus membatalkan episode spesial Natal yang sempat direncanakan.
- Keputusan ini mengingatkan pada jeda 16 tahun (1989โ2005) yang justru melahirkan kebangkitan besar Doctor Who di era modern.

Penulis senior Doctor Who, Mark Gatiss, kembali melontarkan pandangan kontroversial mengenai masa depan serial fiksi ilmiah legendaris BBC itu. Menurutnya, "iterasi saat ini" dari Doctor Who sudah "kehabisan jalan cerita" dan sudah waktunya untuk beristirahat sejenak agar para penggemar merindukannya.
Gatiss, yang telah menulis sejumlah episode ikonik serial ini, menyampaikan pendapatnya dalam wawancara dengan Digital Spy. Ia menilai bahwa jeda panjang justru akan menjadi berkah, terutama setelah BBC memutuskan untuk membuka proses tender kompetitif bagi produksi Doctor Who ke depan. "Secara pribadi, saya pikir serial ini perlu beristirahat cukup lama," ujarnya. "Tidak ada yang tahu pasti... seseorang bisa datang, mereinvensi total, dan tidak ada yang keberatan jika serial ini off air selama tiga atau empat tahun."
Gatiss menekankan pentingnya rasa rindu dari penonton. Ia membayangkan sebuah siklus di mana generasi baru akan berkata, "Ini acara saya," sementara orang tua mereka bernostalgia dengan "Dokter" versi mereka masing-masing, dan kakek-nenek mereka samar-samar mengingat sosok Tom Baker. "Kemudian roda berputar lagi," katanya.
Ia juga mengaitkan situasi ini dengan sejarah kelam Doctor Who di akhir 1980-an. Saat itu, BBC sempat berjanji akan mempertahankan serial ini "melewati tahun 1990-an", namun kenyataannya Doctor Who justru hiatus dari 1989 hingga 2005. "Ini aneh, bukan? Ini aneh," ujarnya, mengutip Mark Twain: "Sejarah tidak berulang, tetapi kadang ia berima."
Konteks Indonesia: Bagi penggemar Doctor Who di Indonesia, kabar ini tentu mengecewakan, apalagi dengan dibatalkannya episode spesial Natal yang biasanya menjadi momen yang dinanti. Namun, jeda panjang bukanlah hal baru bagi serial ini. Sejarah membuktikan bahwa hiatus 16 tahun justru melahirkan era baru yang lebih sukses dengan sentuhan Russell T Davies pada 2005. Kini, dengan proses tender yang sedang berlangsung, pertanyaannya adalah: akankah ada rumah produksi baru yang mampu menghidupkan kembali TARDIS dengan cara yang segar dan relevan bagi generasi muda, termasuk di Indonesia?
BBC sendiri telah mengonfirmasi bahwa mereka akan membuka proses tender untuk Doctor Who, sejalan dengan kewajiban Piagam dan Perjanjian BBC. Dalam pernyataan resminya, BBC menegaskan bahwa Doctor Who tetap menjadi bagian penting dari korporasi, dan tender ini adalah bentuk komitmen jangka panjang agar serial ini terus dinikmati publik. Keputusan untuk membatalkan episode Natal diambil bersama antara BBC, Russell T Davies, dan Bad Wolf, dengan alasan untuk fokus pada investasi jangka panjang demi masa depan serial yang lebih gemilang.
Gatiss, yang juga dikenal sebagai kreator serial Bookish, menilai bahwa keputusan ini adalah langkah positif jika diikuti dengan jeda yang cukup. "Anda ingin orang merindukannya," katanya. "Dan generasi yang sama sekali baru akan berkata, 'Ini acara saya'." Ia optimistis bahwa siklus ini akan berulang, seperti yang terjadi pada era 2005 ketika Christopher Eccleston dan kemudian David Tennant berhasil memikat jutaan penggemar baru.
Pertanyaan besarnya kini: akankah proses tender ini menghasilkan rumah produksi yang mampu membawa Doctor Who ke level berikutnya? Atau justru akan menjadi akhir dari perjalanan panjang serial yang telah berlangsung lebih dari enam dekade ini? Satu hal yang pasti, keputusan ini akan menjadi titik balik penting dalam sejarah Doctor Who, dan penggemar di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menantikan dengan napas tertahan.



