Gitaris Television Richard Lloyd Berjuang Melawan Kanker Saluran Empedu: Dana Pengobatan Terkumpul Setengah Jalan
Baca dalam 60 detik
- Richard Lloyd, gitaris dan salah satu pendiri band legendaris Television, didiagnosis menderita kolangiokarsinoma, sebuah kanker saluran empedu yang agresif.
- Kondisi kesehatannya yang memburuk, termasuk tumor di hati yang dekat dengan pembuluh darah besar, memaksanya berhenti tur dan kehilangan sumber pendapatan utama.
- Sebuah penggalangan dana online telah diluncurkan untuk membantu biaya pengobatan dan biaya hidupnya, dan telah mencapai setengah dari target US$80.000.

Richard Lloyd, gitaris dan salah satu pendiri band punk rock legendaris Television, tengah berjuang melawan kolangiokarsinoma atau kanker saluran empedu. Kondisi ini memaksanya berhenti dari aktivitas tur yang menjadi sumber penghasilan utamanya, dan kini ia harus menghadapi beban finansial yang semakin berat di tengah perawatan medis yang intensif.
Kabar ini mencuat setelah sebuah penggalangan dana di GoFundMe dibuat oleh Sean Seymour, rekan satu bandnya di Richard Lloyd Group. Dalam keterangannya, Seymour mengungkapkan bahwa Lloyd menghadapi tumor di hati, salah satunya berada di posisi yang sangat dekat dengan pembuluh darah besar. Posisi ini membuat operasi pengangkatan tumor menjadi sangat berisiko, karena dokter khawatir akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
Perjalanan penyakit Lloyd tidaklah mudah. Ia telah menjalani tujuh kali perawatan intensif di ICU dan dua kali mengalami sepsis yang mengancam nyawa. Komplikasi pada hati dan ginjal juga turut memperumit kondisinya. Kondisi ini jelas berbeda dengan masa-masa kejayaannya di era 1970-an, ketika Television menjadi salah satu pelopor gerakan punk rock di New York dengan album debut mereka yang legendaris, Marquee Moon.
Bagi musisi seperti Lloyd, ketidakmampuan untuk tampil bukan hanya kehilangan passion, tetapi juga kehilangan mata pencaharian. Seymour menegaskan, "Bagi seorang musisi pekerja, ini adalah pukulan telak. Selain karena bermusik adalah yang ia cintai, tur adalah sumber pendapatan utamanya." Lebih jauh, ia juga menyoroti masalah royalti yang belum terselesaikan sejak dua tahun terakhir, yang semakin menambah beban finansial di tengah situasi yang sudah sulit.
Dalam pesan pribadinya, Lloyd mengaku biasanya ia adalah pribadi yang optimis, tetapi kini ia merasa kewalahan. "Saya biasanya orang yang ceria dan saya menghadapi ini dengan tenang, tetapi ini menjadi sangat sulit jika dijalani sendiri, dan secara finansial kami terhimpit. Itulah mengapa saya meminta bantuan," ujarnya. Ia pun meminta para penggemar untuk menyumbang atau setidaknya membagikan informasi penggalangan dana ini.
Kabar ini tentu mengguncang para penggemar musik rock, terutama di Indonesia yang memiliki basis penggemar setia musik era 70-an. Meskipun tidak ada kabar mengenai tur Television ke Indonesia, pengaruh mereka terhadap musisi-musisi tanah air, seperti dalam perkembangan musik indie dan punk, tidak dapat dipungkiri. Kisah Lloyd juga menjadi pengingat akan pentingnya dukungan finansial bagi musisi yang sedang sakit, terutama di tengah ketidakpastian industri musik yang kerap kali tidak memberikan jaring pengaman.
Hingga berita ini diturunkan, penggalangan dana terus berjalan dan dukungan mengalir dari berbagai kalangan. Namun, pertanyaan yang lebih besar muncul: bagaimana nasib musisi legendaris lainnya yang mungkin menghadapi situasi serupa tanpa publisitas sebesar ini? Industri musik, baik di Indonesia maupun global, perlu merenungkan kembali sistem dukungan bagi para senimannya yang telah memberikan kontribusi besar tetapi rentan secara finansial di masa sulit.



