20 Toko Buku Independen Singapura Gelar Festival Perdana: Rayakan Komunitas Literasi, Bukan Sekadar Jualan
Baca dalam 60 detik
- Singapura akan menggelar Singapore Indie Bookshop Day (SGIBD) 2026 pada 2-4 Oktober, melibatkan 20 toko buku independen di berbagai lokasi.
- Acara ini dirancang untuk memperkuat komunitas pembaca dan menghidupkan ruang toko buku, dengan program seperti lokakarya, diskusi, dan perburuan stempel.
- SGIBD diharapkan menjadi agenda tahunan yang mengubah persepsi toko buku dari sekadar tempat transaksi menjadi pusat interaksi sosial dan budaya.

Dua puluh toko buku independen di Singapura akan menggelar perayaan literasi perdana bertajuk Singapore Indie Bookshop Day (SGIBD) 2026 pada 2โ4 Oktober. Alih-alih memusatkan kegiatan di satu lokasi, festival ini justru menyebar di dalam toko-toko buku itu sendiri, dengan beragam program yang dirancang untuk menarik pengunjung masuk ke dalam ekosistem komunitas pembaca yang selama ini mungkin terlewatkan.
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi para penjual buku independen bersama Singapore Book Publishers Association, serta mendapat dukungan National Arts Council dan penerbit internasional Hachette Book Group. Inspirasi penyelenggaraan diambil dari perayaan serupa di Inggris dan Amerika Serikat, seperti Independent Booksellers Week dan Independent Bookstore Day. Namun, pelaksanaannya sengaja dibuat berbeda: setiap toko diberi kebebasan penuh untuk menyusun acara sesuai karakter dan identitasnya masing-masing.
Menurut Ibrahim Tahir, pendiri Wardah Books yang berlokasi di Kampong Glam, SGIBD bukan sekadar ajang menjual buku, melainkan upaya untuk merayakan ruang toko buku dan mengundang lebih banyak orang masuk ke dalam dunia para penjual buku. Senada dengan itu, Ho TingXuan dari toko daring Wormhole menegaskan bahwa program yang disusun sangat beragam karena setiap toko memiliki cara pandang yang berbeda dalam merayakan buku dan membaca.
Beragam kegiatan pun ditawarkan, mulai dari rekomendasi buku Presiden Tharman Shanmugaratnam di Book Bar, tukar buku buta dan papan kenangan di Epigram Books, hingga konsultasi padu padan buku dengan batik di Wardah Books. Ada juga demonstrasi sketsa langsung di Basheer Graphic Books, lokakarya zine di City Book Room, hingga sesi mendongeng di Eliko Picture Books & Things. Pengunjung juga dapat mendengar kisah komik dan penerbitan mandiri di Dakota Dreams, mendapatkan potret gratis di Bommoi, atau menerima puisi Melayu yang diketik langsung di mesin tik di Nurul Anwar Bookstore.
Untuk memperkuat interaksi antar pembaca, Wormhole akan menggelar pop-up akhir pekan dengan permainan sastra dan pesta PowerPoint, sementara Woods in the Books akan merayakan peluncuran ulang buku Alfian Sa'at, The Invisible Manuscript. Salah satu daya tarik utama adalah SGIBD Passport, semacam direktori sekaligus perburuan stempel. Pengunjung yang berhasil mengumpulkan stempel dari separuh toko yang berpartisipasi berkesempatan memenangkan hadiah berupa voucher buku dan paket buku pilihan.
Passport ini dirancang agar tetap berguna setelah acara usai, memuat peta dan informasi untuk membantu pembaca menjelajahi toko-toko buku di kawasan seperti Chinatown, Bras Basah, dan Joo Chiat. Panitia juga menyiapkan rute jalan kaki yang menghubungkan antar toko, serta tur bus berbayar bagi yang ingin mengunjungi banyak toko dalam satu perjalanan. Selain itu, akan ada bookmark edisi terbatas yang dibagikan selama persediaan masih ada.
Bagi para penyelenggara, SGIBD lebih dari sekadar memetakan 20 toko buku. Mereka ingin menyoroti komunitas, percakapan, dan interaksi yang selama ini terjadi di sekitar toko buku. Ibrahim menegaskan bahwa persepsi masyarakat tentang penjualan buku sering kali hanya dilihat sebagai transaksi belaka, padahal toko buku adalah ruang untuk membangun komunitas, mendidik, dan mempertemukan orang-orang. Yuree Hwang, pendiri Bommoi, menambahkan bahwa dukungan pelanggannya begitu besar hingga banyak yang menawarkan diri untuk menjaga toko secara sukarela. Hal ini menunjukkan bahwa pembaca siap hadir untuk toko buku, dan acara ini adalah bentuk apresiasi balik dari para penjual buku.
Meski buku kini mudah dibeli secara daring atau dipinjam dari perpustakaan, para penyelenggara meyakini toko buku independen menawarkan nilai lebih dari sekadar transaksi jual beli. Ibrahim mengingatkan bahwa jika sebuah toko buku tutup, yang hilang bukan hanya tempat membeli buku, melainkan juga komunitas, percakapan, dan pertemuan yang tak ternilai. Pertanyaannya, apakah inisiatif seperti SGIBD dapat menjadi katalis untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap toko buku, dan apakah model serupa akan diadopsi di negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia?



