Kisah Louise Truman: Korban Kekerasan Seksual yang Mengubah Trauma Menjadi Bisnis Perjalanan Senilai Rp28 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Plotpackers, Louise Truman, mengungkap pengalaman pahit kekerasan seksual saat backpacking yang menjadi titik balik lahirnya perusahaan travel kelompok.
- Dalam penampilannya di Dragons' Den, ia berhasil meyakinkan para investor dan mendapatkan pendanaan £60.000 dengan valuasi bisnis yang menjanjikan.
- Kisah Truman menyoroti isu keamanan perempuan dalam perjalanan solo, sebuah topik yang relevan dengan tren pariwisata Indonesia.

Louise Truman, pendiri perusahaan perjalanan kelompok Plotpackers, mengaku sangat beruntung bisa hidup setelah mengalami kekerasan seksual yang sangat brutal saat melakukan perjalanan backpacking sendirian di usia 21 tahun. Pengalaman traumatis itu justru menjadi pendorong baginya untuk menciptakan solusi perjalanan yang lebih aman bagi perempuan, yang kini berkembang menjadi bisnis dengan omzet lebih dari £1,36 juta atau sekitar Rp28 miliar.
Kisah Truman terungkap dalam episode terbaru acara BBC Dragons' Den yang tayang Kamis malam (20/8). Di hadapan para investor terkenal seperti Deborah Meaden, Peter Jones, dan Steven Bartlett, ia menceritakan bagaimana peristiwa kelam itu hampir menghancurkannya, tetapi akhirnya mengubah arah hidupnya. "Saya diperkosa dengan sangat brutal dan menganggap diri saya sangat beruntung masih hidup," ujarnya dengan tegas di hadapan para 'naga' yang tampak terpukul mendengar pengakuannya.
Truman, yang kini berusia 25 tahun, menceritakan bahwa kecintaannya pada traveling sudah tumbuh sejak kecil. Namun, pengalaman buruk saat solo traveling membuatnya sadar akan risiko keamanan yang dihadapi perempuan. "Saya bukan orang yang asing dengan bahaya perjalanan, baik dampak lingkungan maupun risiko keselamatan pribadi yang saya hadapi," katanya. Peristiwa traumatis itu mendorongnya untuk mencari alternatif perjalanan yang lebih aman, dan ia menemukan bahwa pilihan perjalanan kelompok yang terjangkau dan berkelanjutan sangat langka.
Dari sanalah Plotpackers lahir pada September 2023. Dengan modal awal hanya £3.000 dari tabungan pribadi, Truman berhasil membangun perusahaan yang dalam setahun mencatatkan penjualan lebih dari £1,5 juta dengan omzet £1,36 juta. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dan menarik perhatian para investor di Dragons' Den. Ketika Peter Jones bertanya mengapa ia tidak menjelaskan peristiwa yang memicu berdirinya perusahaan, Truman dengan berani menjawab bahwa meskipun topik itu menyakitkan, hal itu adalah alasan besar di balik usahanya.
"Tujuh puluh persen orang yang bepergian dengan kami adalah perempuan, dan jika Anda melihat studi, kekhawatiran utama perempuan saat bepergian solo adalah keselamatan. Perjalanan kelompok memang tidak menghilangkan semua risiko, tetapi memberikan lapisan perlindungan tambahan," jelas Truman. Pernyataan ini menggarisbawahi isu yang relevan secara global, termasuk di Indonesia, di mana angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi dan kesadaran akan keamanan perjalanan semakin meningkat.
Di akhir episode, persaingan sengit terjadi di antara para investor. Steven Bartlett menawarkan £60.000 untuk enam persen saham, Susie Ma memberikan tawaran yang sama, sementara Deborah Meaden menawarkan £60.000 untuk lima persen. Truman, yang sempat meminta saran dari Jenna Meek, akhirnya memilih tawaran Deborah dan Steven, menerima pendanaan £60.000 dengan imbalan lima persen saham perusahaannya. Keputusan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi pertumbuhan Plotpackers di pasar perjalanan kelompok yang semakin diminati.
Kisah Truman bukan hanya tentang kesuksesan bisnis, tetapi juga tentang ketahanan dan transformasi trauma menjadi aksi positif. Di Indonesia, di mana industri pariwisata terus berkembang dan semakin banyak perempuan yang melakukan perjalanan solo, cerita ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan dan dukungan bagi para pelancong. Pertanyaannya, apakah akan muncul lebih banyak inisiatif serupa di tanah air yang mengedepankan aspek keselamatan perempuan dalam berwisata? Dengan meningkatnya kesadaran akan isu ini, harapannya, semakin banyak pelaku industri yang terinspirasi untuk menciptakan solusi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga aman bagi semua.



