Kembali ke Inggris: Ketika Mimpi Amerika Pangeran Harry dan Meghan Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Keputusan Pangeran Harry dan Meghan Markle untuk kembali menetap di Inggris menandai akhir dari eksperimen kehidupan mereka di Amerika Serikat.
- Mantan kepala staf kerajaan menilai berbagai kegagalan komersial, termasuk kontrak dengan Netflix dan Spotify, menjadi bukti bahwa rencana awal mereka tidak berjalan mulus.
- Kepulangan ini juga membuka peluang rekonsiliasi dengan Raja Charles III, yang selama ini berjuang melawan kanker, namun menyisakan pertanyaan tentang masa depan permanen mereka di tanah kelahiran Harry.

Keputusan Pangeran Harry dan Meghan Markle untuk kembali menetap di Inggris bersama kedua anak mereka, Pangeran Archie dan Putri Lilibet, menandai babak baru yang mengejutkan banyak pihak. Enam tahun setelah memilih mundur dari tugas kerajaan dan pindah ke California demi mengejar kemandirian finansial, pasangan ini justru memilih pulang. Langkah ini tidak hanya mengakhiri eksperimen kehidupan mereka di Amerika Serikat, tetapi juga memicu spekulasi tentang alasan di balik keputusan tersebut.
Mantan kepala staf kerajaan, Grant Harrold, yang pernah bekerja untuk keluarga kerajaan, menilai bahwa periode tinggal Harry dan Meghan di Amerika tidak berjalan sesuai harapan. Menurutnya, berbagai kesepakatan bisnis yang mereka tandatangani, termasuk dengan Netflix dan Spotify, tidak memberikan hasil yang memuaskan. "Mimpi kehidupan di AS yang mereka bayangkan tidak terwujud," ujarnya dalam wawancara dengan Us Weekly. Harrold menambahkan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan ini, mulai dari respons publik hingga dinamika internal keluarga.
Kembalinya pasangan ini ke Inggris juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan Raja Charles III yang mengidap kanker. Harry, yang sebelumnya memiliki hubungan renggang dengan sang ayah, kini disebut ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Harrold meyakini bahwa Raja Charles telah mengetahui rencana ini sebelumnya, meskipun konfirmasi resmi baru diberikan akhir pekan lalu. "Harry tahu bahwa melakukan ini di belakang ayahnya hanya akan memperburuk keadaan. Saya membayangkan dia melakukan segala cara untuk menjaga hubungan tetap harmonis," kata Harrold.
Meski demikian, keputusan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan, terutama terkait keamanan. Sebelumnya, Harry pernah menyatakan kekhawatirannya tentang keselamatan keluarganya di Inggris tanpa perlindungan polisi. Namun, hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai perubahan pengaturan keamanan mereka. Selain itu, pasangan ini berencana mempertahankan rumah mereka di Montecito, California, serta properti di Portugal yang mereka beli pada 2023. Meghan juga akan melanjutkan bisnis gaya hidupnya, As Ever, dari Inggris.
Bagi publik Indonesia, kisah ini menarik untuk disimak karena menggambarkan dinamika keluarga kerajaan yang jarang terlihat, sekaligus menjadi pelajaran tentang kompleksitas kehidupan publik dan pribadi. Keputusan Harry dan Meghan untuk kembali ke Inggris juga dapat menjadi sorotan bagi mereka yang mengikuti perkembangan monarki Inggris, yang kerap menjadi sorotan media global. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah kepulangan ini bersifat permanen atau hanya sementara. Sumber internal menyebutkan keluarga tersebut akan tinggal di Inggris "untuk waktu yang lama", namun belum ada keputusan final. Apakah ini awal dari rekonsiliasi penuh dengan keluarga kerajaan, atau hanya jeda sebelum babak berikutnya?



