AS Batalkan Latihan Amfibi Bersama Korsel di Tengah Perang Iran, Sinyal Perubahan Prioritas Militer?
Baca dalam 60 detik
- Washington membatalkan latihan amfibi Ssangyong dengan Seoul bulan depan, buntut keterlibatan militer AS di Timur Tengah.
- Langkah ini menyusul pemangkasan latihan Ulchi Freedom Shield, mengindikasikan pergeseran fokus pertahanan AS dari Semenanjung Korea.
- Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan dan memicu kekhawatiran Seoul akan komitmen keamanan AS.

Washington secara resmi membatalkan latihan pendaratan amfibi gabungan dengan Korea Selatan yang dijadwalkan bulan depan, menyusul keterbatasan kapasitas pasukan AS akibat perang dengan Iran. Pengumuman ini disampaikan juru bicara Korps Marinir Korea Selatan, Han Seung-jeon, dalam konferensi pers di Seoul, Senin (24/8).
Latihan Ssangyong yang digelar dua tahun sekali itu merupakan ajang uji kemampuan operasi gabungan pasukan marinir kedua negara, melibatkan kapal perang, pesawat, dan pasukan darat dalam simulasi pendaratan. Pembatalan ini menandai pertama kalinya latihan tersebut ditunda dalam beberapa tahun terakhir, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memangkas latihan Ulchi Freedom Shield dari 11 hari menjadi lima hari pekan lalu.
Keputusan Trump untuk mengecilkan latihan militer bersama Korsel dinilai sebagai upaya untuk mencairkan hubungan dengan Korea Utara. Trump sendiri mengaku ingin "rukun" dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, dan menyebut Pyongyang kini memiliki 57 hulu ledak nuklir yang "sangat kuat". Sementara itu, Seoul memperkirakan jumlah senjata nuklir Korut berkisar antara 80 hingga 120 unit.
Pembatalan latihan Ssangyong dan pemangkasan Ulchi Freedom Shield memicu pertanyaan tentang komitmen AS terhadap keamanan Semenanjung Korea di tengah prioritas baru di Timur Tengah. Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat kawasan Indo-Pasifik menjadi pusat perhatian global. Perubahan postur militer AS di Asia Timur dapat berdampak pada keseimbangan kekuatan regional, yang turut memengaruhi stabilitas keamanan di Asia Tenggara.
Menurut Han Seung-jeon, Korps Marinir AS telah memberi tahu pihaknya pada Juni lalu bahwa kemampuan pengerahan pasukan untuk latihan tahun ini akan terkendala situasi Timur Tengah. Seoul dan Washington masih berkomunikasi untuk membahas kemungkinan melanjutkan latihan tersebut, namun rincian lebih lanjut belum diungkapkan. Pentagon belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman Seoul.
"Korps Marinir AS secara resmi memberi tahu pasukan kami pada Juni bahwa kemampuannya untuk mengerahkan pasukan selama latihan Ssangyong tahun ini akan terkendala karena situasi di Timur Tengah," ujar Han Seung-jeon.
Langkah ini mempertegas pergeseran fokus militer AS dari Semenanjung Korea ke kawasan Timur Tengah. Meski Trump menekankan pentingnya hubungan personal dengan Kim Jong-un, para analis menilai pengurangan latihan militer justru dapat mengurangi tekanan terhadap Korut, yang selama ini menjadi alat negosiasi. Sejarah mencatat, setelah kegagalan KTT Hanoi pada 2019, Pyongyang justru mempercepat program nuklirnya.
Ke depan, keputusan AS ini berpotensi mengubah peta keamanan di Asia Timur. Apakah Seoul akan mencari mitra keamanan alternatif, atau justru semakin memperkuat aliansi dengan Washington? Pertanyaan ini menjadi krusial, tidak hanya bagi Korea Selatan, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang menjadi perhatian utama Indonesia.



