Luka Bakar dan Cedera Mata Mewarnai Laga Eredivisie: Suporter Feyenoord Lempar Petasan
Baca dalam 60 detik
- Laga SC Cambuur vs Feyenoord di Kooi Stadion terhenti 10 menit setelah suporter tamu meluncurkan petasan dan suar, melukai lima pendukung tuan rumah.
- Insiden ini memicu evaluasi protokol keamanan Eredivisie, dengan KNVB mempertimbangkan perubahan aturan setelah kejadian serupa musim lalu.
- Feyenoord meminta maaf dan berjanji menindak pelaku, sementara otoritas setempat membuka penyelidikan untuk mencegah terulangnya aksi serupa.

Laga pekan ketiga Eredivisie antara SC Cambuur dan Feyenoord di Stadion Kooi, Leeuwarden, Minggu (25/8), berubah menjadi mimpi buruk. Sekelompok suporter Feyenoord meluncurkan petasan dan suar merah ke arah tribun penonton tuan rumah, menyebabkan lima pendukung Cambuur mengalami luka bakar, gangguan pendengaran, dan cedera mata. Pertandingan pun sempat dihentikan selama sepuluh menit di babak pertama, tepatnya pada menit ke-12, sebelum akhirnya dilanjutkan.
Insiden ini bukan yang pertama di liga Belanda. Musim lalu, laga Ajax melawan Groningen di Johan Cruyff Arena harus dihentikan setelah suar dan petasan dinyalakan di belakang gawang. Namun, kali ini cedera yang ditimbulkan lebih serius, memicu kecaman dari berbagai pihak. SC Cambuur, yang baru promosi ke Eredivisie setelah tiga musim di divisi dua, menegaskan bahwa aksi semacam itu tidak dapat ditoleransi. "Menyalakan dan menembakkan petasan sama sekali tidak dapat diterima dan tidak memiliki tempat di stadion sepak bola," demikian pernyataan resmi klub.
Feyenoord, yang akhirnya menang telak 5-2, bukannya tanpa rasa bersalah. Manajer umum Robert Eenhoorn mengaku tidak bisa bahagia dengan kemenangan tersebut. "Rasa frustrasi terlalu besar untuk itu," ujarnya. Pelatih kepala Giovanni van Bronckhorst, yang musim lalu menjadi asisten Arne Slot di Liverpool, secara pribadi meminta maaf kepada manajemen Cambuur setelah pertandingan. Feyenoord juga menyatakan akan meminta rekaman kamera untuk mengidentifikasi pelaku dan bekerja sama dengan pihak berwenang.
Di sisi lain, Wali Kota Leeuwarden, Foort van Oosten, mengutuk keras insiden ini dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) pun berjanji meninjau kembali protokol penanganan kerusuhan. Jan Bluyssen, manajer kompetisi profesional KNVB, menyatakan bahwa aturan saat ini terasa tidak adil. "Itu tidak terasa benar," katanya kepada kantor berita ANP. "Kami perlu memeriksa apakah protokol masih sesuai dan bagaimana kami mungkin ingin menyesuaikannya."
Menariknya, pertandingan tetap dilanjutkan meski ada korban luka. Namun, jika petasan mengenai pemain atau ofisial, laga akan langsung dihentikan. Kebijakan ini dinilai kontroversial, karena mengabaikan keselamatan penonton. Beberapa pengamat menilai, prioritas sepak bola Belanda masih terlalu fokus pada kelancaran pertandingan daripada keamanan penonton.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan suporter. Liga Indonesia kerap diwarnai aksi serupa, mulai dari suar hingga lemparan benda ke lapangan. Federasi dan klub diharapkan dapat belajar dari Belanda, yang meski memiliki infrastruktur dan regulasi lebih baik, tetap menghadapi tantangan serius. Pertanyaannya, apakah PSSI dan klub-klub Liga 1 akan lebih proaktif dalam mencegah aksi anarkis suporter, atau justru menunggu hingga terjadi korban jiwa?
Ke depan, KNVB dihadapkan pada dilema: mengetatkan aturan dengan risiko mengalienasi suporter, atau mempertahankan status quo dengan konsekuensi keselamatan yang terancam. Sementara itu, Feyenoord dan Cambuur harus bekerja sama dengan polisi untuk memastikan pelaku mendapat hukuman setimpal. Insiden ini juga membuka kembali perdebatan tentang penggunaan kembang api di stadion, yang di beberapa negara justru diizinkan dengan pengawasan ketat. Namun, di Belanda, tampaknya langkah yang lebih represif akan diambil.



