Martin Short Rilis Dokumenter di Tengah Duka: Menyoroti Penyakit Mental yang Merenggut Putrinya
Baca dalam 60 detik
- Aktor Martin Short memutuskan tetap merilis dokumenter Netflix 'Marty, Life Is Short' setelah putrinya meninggal, untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit mental.
- Keputusan ini didukung oleh sutradara Lawrence Kasdan dan menjadi sorotan karena mengangkat isu kesehatan mental yang sering dianggap tabu.
- Dokumenter tersebut kini meraih tiga nominasi Emmy, menegaskan bahwa kisah pribadi dapat menjadi medium edukasi publik yang kuat.

Martin Short, aktor kawakan Hollywood yang dikenal lewat serial komedi "Only Murders in the Building", memilih untuk tetap merilis dokumenter Netflix berjudul "Marty, Life Is Short" meski baru saja kehilangan putrinya, Katherine, yang meninggal dunia pada Februari lalu di usia 42 tahun. Keputusan ini bukan tanpa perhitungan: ia ingin menyoroti perjuangan putrinya melawan gangguan mental yang ia sebut sebagai penyakit "terminal".
Dalam wawancara dengan Variety, Short mengungkapkan bahwa sutradara Lawrence Kasdan, yang juga sahabat lamanya, menawarkan untuk menunda perilisan film demi menghormati duka yang sedang dialaminya. Namun, Short justru memilih untuk melanjutkan rencana rilis yang sudah dijadwalkan pada Mei. "Kami bertemu di rumahnya beberapa minggu setelah kejadian, dan dia berkata, 'Netflix akan melakukan apa pun yang kamu mau, dan aku juga akan melakukan apa pun yang kamu mau,'" kenang Short. Ia lalu menambahkan, "Saya berpikir, ini benar-benar bisa disebut 'Cinta, Kehilangan, dan Bertahan Hidup.' Seperti yang pernah saya katakan, putri saya berjuang melawan masalah kesehatan mental. Dan itu adalah penyakit."
Bagi Short, penyakit mental sama mematikannya dengan kanker. "Beberapa penyakit bersifat terminal, entah itu kanker atau kesehatan mental," tegasnya. Dengan merilis dokumenter ini, ia berharap bisa membuka mata publik bahwa gangguan jiwa bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang serius dan membutuhkan perhatian. Keputusan ini pun mendapat sambutan hangat dari penonton. Sejak film tersebut tayang perdana, Short mengaku banyak yang menghubunginya dan mengapresiasi cara ia menghadapi berbagai kehilangan dalam hidupnyaโbukan hanya sang putri, tetapi juga istrinya, Nancy, yang wafat pada 2010 akibat kanker ovarium.
Dokumenter ini menjadi semakin personal karena Short memiliki kebiasaan mendokumentasikan kehidupan keluarganya dengan kamera video sejak bertahun-tahun lalu. "Selama ini, saya selalu punya camcorder. Dengan semua anak saya, saya selalu merekam dan mengubahnya menjadi DVD," ujarnya. Berkat kepercayaan yang terjalin lama dengan Kasdan, Short menyerahkan seluruh koleksi rekaman tersebut untuk diolah menjadi film. Bahkan, sahabatnya, Steven Spielberg, turut menyumbangkan rekaman rumah yang menampilkan Short. "Jadi Larry punya banyak sekali bahan berharga," kata Short.
Keputusan Martin Short untuk tetap merilis dokumenter ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya kesehatan mental. Di Indonesia, isu ini juga semakin relevan mengingat tingginya angka gangguan jiwa di masyarakat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia mencapai 9,8 persen, dan angka bunuh diri terus menjadi perhatian serius. Kisah Short bisa menjadi pengingat bahwa penyakit mental adalah masalah nyata yang tidak boleh diabaikan, dan bahwa berbagi cerita bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi stigma.
Di tengah duka, Short justru melihat momen ini sebagai kesempatan untuk menyuarakan pesan yang lebih besar. Ia mengaku bangga atas pengakuan yang diterimanya, termasuk tiga nominasi Emmy untuk dokumenter tersebut dan nominasi untuk aktingnya di "Only Murders in the Building" serta pembawa acara di "Match Game". "Mari kita gunakan klise, ini adalah kehormatan luar biasa untuk diakui oleh rekan-rekan sejawat," ujarnya dengan nada rendah hati.
Keputusan Martin Short untuk tidak menunda rilis dokumenter ini menunjukkan keberanian untuk menghadapi duka secara terbuka. Ia tidak hanya mengenang putrinya, tetapi juga mengubah tragedi pribadi menjadi edukasi publik. Pertanyaannya, akankah langkah ini menginspirasi lebih banyak figur publik untuk berbicara terbuka tentang kesehatan mental, terutama di negara-negara yang masih menganggap tabu? Dengan semakin banyaknya suara yang berani, mungkin stigma yang selama ini membelenggu akan mulai terkikis.



