Gayle King Kecam Pernyataan Ibu Hayden Panettiere: 'Terima Kasih, Bu, atas Dukunganmu'
Baca dalam 60 detik
- Kritik tajam dilontarkan Gayle King terhadap komentar Lesley Vogel yang menilai mendiang Hayden Panettiere 'tersesat', dianggap tidak pantas dan menambah luka.
- Hubungan Hayden dengan ibunya memang rumit, terbukti dari pengakuannya bahwa ibunya lebih berperan sebagai manajer ketimbang ibu, hingga akhirnya ia memutuskan berhenti bekerja sama.
- Publik dan rekan media menilai seharusnya sang ibu fokus berduka, bukan mengungkit masa lalu yang justru memicu perdebatan soal tanggung jawab orang tua di industri hiburan.

Presenter CBS Mornings, Gayle King, melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Lesley Vogel, ibu dari mendiang aktris Hayden Panettiere, yang menilai putrinya "sungguh tersesat" sesaat setelah kematiannya. Dalam acara yang dipandunya, King mengaku geram membaca komentar tersebut dan menyindir, "Terima kasih, Bu, atas dukunganmu."
Hayden Panettiere, yang dikenal lewat perannya dalam serial Heroes dan Nashville, meninggal dunia pada Minggu (16/8) di usia 36 tahun. Dua hari setelah kepergiannya, Lesley Vogel memberikan wawancara kepada NBC News dan menyebut putrinya sebagai sosok berbakat namun "sangat sulit untuk tetap menjadi diri sendiri" di tengah kerasnya industri hiburan. Ia juga mengungkapkan penyesalan karena Hayden "tidak mampu bertahan pada jalur yang benar".
Pernyataan tersebut sontak memicu reaksi keras, tidak hanya dari Gayle King, tetapi juga rekan-rekannya di CBS Mornings. Vladimir Duthiers menilai komentar Lesley sangat tidak pantas, mengingat Hayden selama bertahun-tahun secara terbuka mengakui perjuangannya melawan kecanduan dan trauma masa lalu. "Dia tidak bisa lagi membela diri. Sangat tidak etis jika sang ibu justru mengungkit luka lama di hari-hari berkabung," ujarnya.
Kritik juga datang dari Kelly O'Grady yang menegaskan bahwa publik akan lebih menghargai jika Lesley berhenti pada pujian bahwa Hayden adalah sosok yang luar biasa dan berbakat. Sementara itu, Gayle King menggarisbawahi bahwa hubungan Hayden dengan ibunya memang rumit, terutama karena Lesley sempat menjadi manajernya hingga Hayden berusia 19 tahun. "Kita bisa mendengar sendiri bagaimana Hayden menggambarkan ibunya sebagai sosok yang lebih banyak berbisnis daripada menjadi ibu," kata King.
Kisah Hayden Panettiere menjadi pengingat akan kerasnya industri hiburan, terutama bagi aktor cilik yang tumbuh di bawah bayang-bayang orang tua yang merangkap sebagai manajer. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana orang tua bertindak sebagai manajer bagi anak-anak yang berkarier di dunia akting atau musik. Psikolog anak dan remaja, seperti Ratih Ibrahim, pernah mengingatkan bahwa peran ganda ini dapat mengaburkan batas antara kasih sayang dan tuntutan profesional, yang berisiko memicu tekanan psikologis berkepanjangan.
Hayden sendiri pernah menceritakan pengalamannya dalam podcast On Purpose with Jay Shetty pada Mei lalu. Ia mengaku menjadi "teman curhat, asisten, terapis, dan bahu untuk menangis" bagi ibunya, tetapi tidak pernah merasa menjadi anak. Ketika ia memutuskan untuk mencari manajemen baru demi memperbaiki hubungan personal, ibunya justru menuntut balas budi. "Dia bilang, 'Kamu berhutang padaku'. Saya kecewa karena saya tahu dia bicara soal uang," kenang Hayden.
Di tengah duka, pernyataan Lesley Vogel justru memicu perdebatan publik tentang bagaimana seharusnya orang tua bersikap ketika anaknya meninggal. Gayle King menegaskan bahwa momen berkabung seharusnya diisi dengan mengenang kebaikan, bukan mengungkit kegagalan. Ia bahkan mencontohkan pernyataan Alan Panettiere, ayah Hayden, yang menyebut putrinya sebagai "cahaya yang luar biasa dan kekuatan alam" yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah komentar Lesley Vogel merupakan bentuk penyesalan yang tulus, atau justru upaya membela diri atas tuduhan selama ini? Yang jelas, publik menilai bahwa seorang ibu seharusnya lebih memilih untuk berduka dalam diam daripada menambah luka di hati para penggemar yang juga kehilangan. Ke depan, kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi industri hiburan, khususnya di Indonesia, untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mental para artis muda dan pentingnya batas sehat antara peran orang tua dan manajer.



