Kevin Keegan Tutup Usia: Legenda Sepak Bola yang Hidup untuk Suporter
Baca dalam 60 detik
- Mantan striker Timnas Inggris dan manajer Newcastle, Kevin Keegan, meninggal dunia di usia 75 tahun akibat kanker.
- Keegan dikenal sebagai pemain dan pelatih berkarisma yang selalu dekat dengan suporter, meski karier manajerialnya penuh pasang surut.
- Warisan Keegan sebagai satu-satunya pemain Inggris peraih Ballon d'Or dua kali akan terus dikenang, termasuk di Indonesia yang menggemari sepak bola Inggris.

Kevin Keegan, mantan penyerang Timnas Inggris dan manajer legendaris Newcastle United, meninggal dunia pada usia 75 tahun setelah berjuang melawan kanker. Sosok yang dikenal dengan julukan 'Mighty Mouse' dan 'King Kev' ini meninggalkan warisan sebagai pemain berkelas dunia dan figur yang selalu dekat dengan suporter.
Keegan memulai karier profesionalnya di Scunthorpe United, klub divisi bawah yang menjadi batu loncatan sebelum ia direkrut manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, pada 1971. Di Liverpool, ia tampil dalam 323 pertandingan dan mencetak 100 gol, mempersembahkan tiga gelar liga, satu Piala FA, dua Piala UEFA, dan satu Piala Eropa di pertandingan terakhirnya bersama The Reds. Kepindahannya ke Hamburg SV pada 1977 menjadi langkah berani yang membawanya meraih penghargaan European Footballer of the Year dua kali (1978 dan 1979) dan menjadi satu-satunya pemain Inggris yang memenangkan Ballon d'Or dua kali.
Namun, kiprah Keegan tidak hanya gemilang di atas lapangan. Sebagai manajer, ia menjadi pahlawan di Newcastle United ketika kembali pada 1992 untuk menyelamatkan klub dari degradasi ke divisi tiga. Dalam waktu singkat, ia membawa The Magpies kembali ke papan atas Liga Inggris dengan gaya menyerang yang atraktif. Musim 1995-96 menjadi puncak karier manajerialnya ketika Newcastle sempat unggul 12 poin di puncak klasemen, meski akhirnya tersusul Manchester United milik Alex Ferguson. Momen ikonik terjadi saat ia melontarkan kalimat "I would love it if we beat them. Love it." dalam wawancara televisi yang penuh emosi setelah mengalahkan Leeds United.
Karier manajerial Keegan di Timnas Inggris (1999-2000) berakhir tragis setelah kekalahan 1-0 dari Jerman di pertandingan terakhir Stadion Wembley lama. Ia mengundurkan diri di toilet stadion, mengaku tidak mampu memotivasi para pemain. Meski demikian, pengaruhnya terhadap sepak bola Inggris tetap besar. Mantan striker Newcastle dan Inggris, Alan Shearer, yang mengidolakannya sejak kecil, menyerukan pembangunan patung Keegan di luar St James' Park. "Kevin adalah salah satu legenda Newcastle modern terbesar yang pernah kami miliki. Ia seperti Pied Piper, ratusan anak mengejarnya, dan saya salah satunya," ujar Shearer.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, Keegan adalah simbol era ketika sepak bola Inggris mulai populer di Tanah Air. Gaya bermainnya yang penuh semangat dan kedekatannya dengan suporter menjadi inspirasi bagi banyak pemain dan pelatih lokal. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisannya sebagai pemain yang selalu memberikan segalanya untuk klub dan negara akan terus hidup. Pertanyaan kini mengemuka: akankah ada lagi sosok seperti Keegan yang mampu memadukan bakat, kerja keras, dan cinta murni pada sepak bola?



