FIFA Usut Kericuhan Final Piala Dunia: Paredes Jadi Biang Keladi
Baca dalam 60 detik
- FIFA menunjuk jaksa disiplin dan etika untuk menyelidiki kericuhan setelah laga final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina.
- Insiden dipicu oleh benturan Leandro Paredes dengan pemain Spanyol usai kekalahan Argentina di babak perpanjangan waktu.
- Investigasi tidak memiliki batas waktu, dan hasilnya bisa berujung pada sanksi bagi pemain atau tim yang terlibat.

FIFA resmi menunjuk jaksa disiplin dan etika untuk menyelidiki kericuhan yang pecah setelah pertandingan final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina, Minggu (20/7) dini hari WIB. Laga yang berakhir dengan skor 1-0 untuk Spanyol itu diwarnai aksi saling dorong dan pukul antar pemain di lapangan.
Kericuhan dipicu oleh gelandang Argentina, Leandro Paredes, yang terlibat cekcok dengan beberapa pemain Spanyol, termasuk Eric Garcia dan Gavi, begitu peluit panjang dibunyikan. Aksi Paredes memicu reaksi berantai: para pemain dari kedua tim saling berdesakan dan harus dipisahkan oleh ofisial. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, terlihat berusaha menenangkan anak asuhnya di tengah ketegangan yang memanas.
Pertandingan sendiri berlangsung sengit sejak awal. Argentina harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-93 setelah Enzo Fernandez mendapat kartu kuning kedua. Spanyol akhirnya memastikan gelar juara kedua mereka berkat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Kekalahan pahit itu diduga menjadi pemicu emosi pemain Argentina yang meluap begitu pertandingan usai.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa tingginya tensi emosi dalam pertandingan sepak bola level dunia. Meski tidak melibatkan tim nasional Indonesia, kejadian serupa pernah terjadi di kompetisi domestik, seperti kericuhan antara pemain Persija dan Persib beberapa waktu lalu. FIFA yang kini menerapkan aturan disiplin ketat diharapkan dapat memberikan efek jera, tidak hanya bagi pemain di level internasional tetapi juga menjadi contoh bagi federasi sepak bola di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut analis sepak bola, tindakan FIFA ini menunjukkan komitmen untuk menjaga citra olahraga. โInvestigasi semacam ini penting untuk memastikan bahwa sepak bola tetap menjadi tontonan yang sportif. Jika terbukti bersalah, pemain atau tim bisa menghadapi sanksi berat, mulai dari denda hingga larangan bertanding,โ ujar pengamat olahraga dari Universitas Indonesia.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah FIFA akan menjatuhkan sanksi tegas kepada para pemain yang terlibat, terutama Paredes. Dengan tidak adanya batas waktu investigasi, publik menanti apakah langkah FIFA ini sekadar formalitas atau benar-benar akan membawa perubahan dalam tata kelola disiplin pertandingan.



