Duo Eks Man City di Chelsea: Bisakah Alonso Padukan Rogers dan Palmer?
Baca dalam 60 detik
- Morgan Rogers bergabung ke Chelsea dari Aston Villa dengan nilai transfer £117 juta, langsung menyebut persahabatannya dengan Cole Palmer sebagai faktor utama.
- Pelatih anyar Chelsea, Xabi Alonso, ditantang meramu formasi yang bisa mengakomodasi dua pemain bertipe serupa di lini serang.
- Rogers dan Palmer pernah membawa Manchester City juara FA Youth Cup 2020; kini mereka diharapkan menjadi duet mematikan di Premier League.

Morgan Rogers akhirnya berseragam Chelsea setelah ditebus dari Aston Villa dengan banderol mencapai £117 juta. Pemain berusia 22 tahun itu tidak menyembunyikan antusiasmenya bersatu kembali dengan sahabat karibnya, Cole Palmer. “Kami sudah membicarakan ini sejak lama—bahwa kami ingin sekali bermain bersama,” ujar Rogers dalam pernyataan resminya. “Telepon saya terus berdering, pesan dari dia tak henti. Ini yang paling istimewa, bermain dengan sahabat terbaik dan berada di dekatnya setiap hari.”
Namun, euforia reuni ini menyisakan pekerjaan rumah besar bagi pelatih anyar Chelsea, Xabi Alonso. Mantan arsitek Bayer Leverkusen itu harus meracik taktik yang bisa memaksimalkan dua pemain dengan profil hampir identik: sama-sama gelandang serang yang suka menusuk dari sayap ke tengah. Pertanyaannya, mampukah Alonso menciptakan harmoni di atas lapangan?
Rogers bukan tipikal pemain yang mudah dikotak-kotakkan. Di bawah asuhan Unai Emery di Aston Villa, ia kerap beroperasi dari sisi kiri formasi 4-2-3-1, memotong ke dalam untuk melepaskan tembakan melengkung ke tiang jauh. Kecepatan dan fisiknya yang prima membuatnya efektif dalam transisi cepat, sesuatu yang menjadi ciri khas Villa saat itu. Namun, Alonso justru dikenal sebagai pelatih penguasaan bola yang membangun serangan dari bawah. Perbedaan filosofi ini sempat menimbulkan keraguan.
Kendati demikian, Alonso bukan pelatih kaku. Kekalahan 0-3 dari Atalanta di final Liga Europa 2024 menjadi titik balik. Saat itu, Leverkusen kewalahan menghadapi pressing ketat lawan. Alonso kemudian mengakui, “Kami mungkin terlalu banyak mengoper di fase awal, seharusnya kami menarik pemain lawan lalu langsung mengirim bola panjang.” Pelajaran itu membuatnya lebih pragmatis. Rogers, dengan kemampuan menahan bola dan memenangi duel satu lawan satu, menjadi solusi ideal untuk menghadapi tekanan man-to-man yang kian marak di Premier League.
Alonso diprediksi akan mempertahankan formasi 3-2-2-3 yang membawanya sukses di Leverkusen. Dalam skema itu, Rogers akan mengisi posisi gelandang serang kiri, sementara Palmer di kanan. Keduanya bisa saling bertukar posisi dan menusuk ke kotak penalti. Kehadiran bek sayap yang melebar akan memberikan ruang bagi mereka untuk memotong ke dalam. Jika menggunakan formasi 4-2-3-1, salah satu dari mereka bisa menjadi gelandang serang sentral, sementara yang lain memulai dari sayap lalu bergerak ke tengah.
Kunci keberhasilan duet ini terletak pada pemahaman instingtif yang sudah terjalin sejak masa junior. Rogers dan Palmer sama-sama lulusan akademi Manchester City dan pernah mempersembahkan FA Youth Cup pada 2020. “Kami tahu pergerakan satu sama lain tanpa perlu bicara,” kata Palmer dalam wawancara terpisah. Kombinasi umpan-umpan pendek dan pergerakan tanpa bola yang cerdas bisa menjadi senjata ampuh untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini menambah daftar panjang pemain muda Inggris yang meramaikan Premier League. Chelsea yang musim lalu tampil inkonsisten kini mulai membangun ulang skuad dengan talenta-talenta segar. Jika Alonso berhasil memaksimalkan Rogers dan Palmer, bukan tidak mungkin The Blues kembali bersaing di papan atas. Namun, apakah persahabatan di luar lapangan cukup untuk menjamin kesuksesan di dalam lapangan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



