Gen Z Berbondong-bondong ke Kamera Analog: Perlawanan terhadap Belenggu Algoritma
Baca dalam 60 detik
- Pada 2025, 35% dari 42 juta pengguna kamera film global berusia 18–30 tahun, menandai kebangkitan fotografi analog di kalangan Gen Z.
- Fenomena ini dipicu oleh kejenuhan terhadap media sosial dan algoritma, serta kerinduan akan interaksi fisik dan 'ruang ketiga' yang autentik.
- Tren serupa juga terlihat di Indonesia, di mana komunitas film dan toko kamera analog mulai menjamur di kota-kota besar.

Fotografi analog, yang sempat dianggap hampir punah, kini bangkit kembali dengan kekuatan tak terduga: generasi Z. Alih-alih sekadar nostalgia, perpindahan massal anak muda ke kamera film merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya digital yang dianggap menjebak mereka dalam algoritma dan isolasi sosial.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2025, sekitar 35 persen dari 42 juta pengguna aktif kamera film di seluruh dunia berada dalam rentang usia 18 hingga 30 tahun. Angka ini diperkuat oleh lonjakan 41 persen pencarian daring terkait fotografi analog pada tahun sebelumnya. Penjualan kamera sekali pakai pun terus merangkak naik sejak 2023, dan jurnal PetaPixel bahkan menyebut 2024 sebagai tahun terbaik bagi industri film dalam beberapa dekade.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Menurut para pengamat, dorongan utama di balik kebangkitan ini adalah keinginan untuk melepaskan diri dari dominasi media sosial. Generasi Z, yang tumbuh dengan layar dan algoritma, mulai merindukan interaksi yang lebih lambat, personal, dan nyata. Fotografi analog menawarkan proses yang penuh kesadaran: mulai dari memilih gulungan film, membidik dengan cermat karena jumlah bingkai terbatas, hingga menanti hasil cetakan dengan penuh antisipasi.
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Komunitas fotografi film seperti “Film Fotografi Indonesia” dan “Analog Culture” aktif menggelar workshop dan hunting foto bersama. Toko-toko kamera analog bekas di Pasar Baru, Jakarta, dan kawasan Bandung kebanjiran pembeli muda. Bahkan, beberapa kafe di Yogyakarta dan Surabaya menyediakan layanan cuci cetak film untuk menarik pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena global ini memiliki resonansi kuat di dalam negeri, terutama di kalangan anak muda perkotaan yang jenuh dengan hiruk-pikuk digital.
Para ahli melihat kebangkitan ini sebagai pencarian akan “ruang ketiga”—istilah yang dipopulerkan sosiolog Ray Oldenburg untuk menggambarkan tempat di luar rumah dan kantor yang memungkinkan interaksi sosial dan kreativitas. Komunitas fotografi analog, toko film, dan acara seperti AnalogCon di Los Angeles menjadi wadah bagi anak muda untuk berkumpul, bertukar ide, dan membangun koneksi nyata. Ini adalah antitesis dari media sosial yang justru sering memicu kecemasan dan perbandingan sosial.
“Fotografi analog bukan sekadar tren, melainkan bentuk perlawanan terhadap budaya digital yang dirancang untuk memupuk rasa iri dan kemarahan,” ujar seorang sejarawan fotografi dari University of Southern California.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kebangkitan ini akan bertahan atau hanya sekadar fase. Namun, dengan semakin banyaknya produsen yang merilis kamera film baru dan menjamurnya komunitas analog, tampaknya fotografi film akan terus menjadi alternatif yang dicari oleh mereka yang ingin memperlambat laju hidup dan menemukan kembali keindahan dalam proses yang sengaja dibuat lambat.



