Laba Tesla Anjlok di Bawah Ekspektasi, Belanja Modal Membengkak Dua Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Tesla naik 26% menjadi US$28,2 miliar, tetapi laba bersih turun 5% menjadi US$1,1 miliar akibat diskon besar-besaran dan biaya garansi energi.
- Belanja modal Tesla melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$5,8 miliar, dipacu proyek ambisius seperti Cybercab dan pabrik chip Terabab senilai US$20 miliar.
- Analis menyoroti kurangnya transparansi Tesla soal imbal hasil investasi, sementara spekulasi merger dengan SpaceX makin kencang setelah IPO SpaceX sukses.

Laba bersih Tesla pada kuartal kedua tahun ini anjlok di bawah perkiraan analis, meskipun volume penjualan kendaraan listriknya meningkat. Pendapatan yang lebih tinggi tidak mampu menutup tekanan dari pemotongan harga, berkurangnya kredit regulasi, dan lonjakan belanja modal yang dua kali lipat lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu.
Produsen mobil asal Amerika Serikat itu membukukan laba US$1,1 miliar atau setara 33 sen per saham, jauh dari konsensus pasar yang memperkirakan 53 sen per saham. Pendapatan kuartal kedua mencapai US$28,2 miliar, naik 26% secara tahunan. Sebelumnya, Tesla sempat mengejutkan pasar dengan angka pengiriman kendaraan yang lebih tinggi dari dugaan, terutama berkat pemulihan permintaan di Eropa.
Namun, dalam laporan laba yang dirilis Rabu (22/7) waktu setempat, manajemen Tesla mengakui profitabilitas tergerus oleh harga jual kendaraan yang lebih rendah, pendapatan dari kredit regulasi yang menyusut, serta biaya garansi energi yang tidak disebutkan rinciannya. Faktor lainnya adalah belanja modal yang membengkak menjadi US$5,8 miliar, lebih dari dua kali lipat dibanding kuartal kedua tahun lalu. Elon Musk menyebut ekspansi pabrik yang sedang berlangsung sebagai "skala industri tercepat di Amerika sejak Perang Dunia II".
Sebagian besar belanja tersebut dialokasikan untuk proyek-proyek ambisius, termasuk produksi kendaraan otonom Cybercab yang sudah dimulai di Texas, serta pengembangan truk listrik Tesla Semi yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Tesla juga terlibat dalam proyek Terabab di Austin, Texasโsebuah inisiatif pembuatan chip senilai US$20 miliar yang melibatkan SpaceX dan xAI, dua perusahaan lain milik Musk.
Di sisi lain, Tesla mencatat peningkatan jumlah pelanggan berbayar untuk program bantuan pengemudi FSD (Full Self-Driving), yang turut mendongkrak pendapatan. Meski demikian, Musk masih enggan memberikan tolok ukur yang jelas untuk menilai kemajuan layanan robotaxi. Ia hanya menyatakan keyakinan bahwa produk tersebut akan memiliki permintaan tinggi dan Tesla sedang bekerja untuk mencapai keandalan "hampir sempurna". "Berapa angka sembilan keandalan yang dibutuhkan untuk skala besar? Idealnya 99,99999 persen," ujarnya dalam konferensi dengan analis.
Analis CFRA Research, Garrett Nelson, menilai pengeluaran besar-besaran Tesla menjadi beban bagi harga saham. "Mereka belum cukup transparan soal imbal hasil dari dolar yang sudah dibelanjakan," katanya. Sementara itu, CFO Vaibhav Taneja mengonfirmasi bahwa beban operasional untuk riset dan pengembangan akan terus meningkat pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Musk sendiri tak terlalu khawatir soal efisiensi modal. "Kita harus membelanjakan capex secepat mungkin... tanpa terlalu boros. Tidak apa-apa jika efisiensi modal sedikit berkurang asalkan semuanya selesai lebih cepat," tegasnya.
Laporan keuangan ini menjadi yang pertama sejak SpaceX resmi melantai di bursa pada Juni lalu. Kesuksesan IPO SpaceX sempat mendorong kekayaan Musk menembus US$1 triliun, meski kemudian mereda. Valuasi SpaceX yang kini mencapai sekitar US$1,5 triliun memicu spekulasi bahwa kedua perusahaan bisa saja bergabung. Namun, Musk hanya berkomentar diplomatis: "Ada banyak kolaborasi antara Tesla dan SpaceX. Tapi soal merger, kami tidak bisa membahasnya di sini. Harus melalui proses yang tepat."
Saham Tesla langsung tertekan 4,1% dalam perdagangan setelah jam bursa. Pertanyaannya, akankah investor terus bersabar dengan strategi ekspansi agresif Musk yang mengorbankan profit jangka pendek, atau mulai menuntut kejelasan soal kapan investasi raksasa itu akan membuahkan hasil?



