Messi Kembali ke Panggung Kejayaan: Final Piala Dunia 2026 Jadi Puncak Karier
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi akan memainkan final Piala Dunia keduanya berturut-turut pada Minggu ini, delapan tahun setelah nyaris pensiun usai kekalahan di final Copa America 2016.
- Peran Messi sebagai kapten dan motor permainan Argentina menjadi kunci dominasi tim dalam lima tahun terakhir, termasuk gelar Piala Dunia 2022 dan dua Copa America.
- Kontraknya bersama Inter Miami hingga 2028 membuat masa depan Messi di tim nasional masih terbuka, namun gelar keempat akan memperkuat statusnya sebagai legenda.

Lionel Messi kembali membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk bersinar di panggung tertinggi sepak bola. Pada Minggu ini, ia akan memimpin Argentina dalam partai final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol di stadion yang sama—MetLife Stadium, New Jersey—yang delapan tahun lalu menjadi saksi kepedihannya usai kalah di final Copa America 2016. Kala itu, Messi yang baru berusia 29 tahun mengumumkan pensiun dari tim nasional dengan perasaan putus asa. Kini, ia berpeluang meraih gelar juara dunia keduanya secara beruntun, sebuah pencapaian yang hanya pernah dilakukan oleh segelintir pemain legendaris.
Perjalanan Messi dari titik nadir menuju puncak kejayaan tidaklah mudah. Setelah tiga kali gagal di final Copa America dan satu kali di final Piala Dunia 2014, banyak yang meragukan kemampuannya untuk membawa pulang trofi internasional. Namun, dukungan publik Argentina yang luar biasa berhasil membujuknya kembali. Hasilnya, sejak 2021, Argentina telah memenangkan Copa America 2021, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024. Dominasi ini tidak lepas dari peran sentral Messi, yang tidak hanya menjadi pencetak gol dan pengumpan ulung, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan nasional yang mampu membangkitkan semangat rekan setimnya di saat-saat kritis.
Dalam semifinal melawan Inggris, misalnya, Messi memberikan assist kepada Lautaro Martinez yang mencetak gol kemenangan di masa injury time. Martinez, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Messi adalah contoh terbaik bagi seluruh tim. "Kami memiliki pemain terbaik di dunia sebagai panutan," ujarnya. Ketangguhan Messi juga terlihat dari statistik: ia bermain penuh di setiap laga knockout Piala Dunia ini, termasuk dua pertandingan yang harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Di usianya yang kini 39 tahun, daya tahan semacam ini jarang ditemukan pada pemain sekelasnya.
Kemenangan pada Minggu nanti akan menjadi mahkota bagi karier gemilang Messi. Jika berhasil, ia akan menjadi pemain pertama sejak era Diego Maradona atau Pele yang memiliki pengaruh individu sebesar itu terhadap kesuksesan tim di Piala Dunia. Namun, Messi juga menunjukkan bahwa ia tidak hanya bergantung pada bakat individu. Tim Argentina, yang dikenal solid secara kolektif, mampu bangkit dari keterpurukan berkat kepemimpinan dan keteladanan Messi di lapangan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Messi ini memberikan pelajaran berharga tentang ketekunan dan kerja keras. Di tengah hiruk-pikuk kompetisi domestik dan internasional, kisah Messi menjadi inspirasi bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan batu loncatan menuju kesuksesan. Selain itu, dominasi Argentina juga menunjukkan pentingnya keseimbangan antara bintang individu dan kekuatan tim—sebuah pelajaran yang relevan bagi perkembangan sepak bola Indonesia yang tengah berbenah.
Messi sendiri masih memiliki kontrak dengan Inter Miami hingga akhir musim 2028 MLS, dan ia belum memberikan isyarat bahwa final ini akan menjadi laga terakhirnya bersama tim nasional. Namun, apa pun keputusannya, ia telah membuktikan bahwa ia layak menentukan sendiri kapan waktunya berhenti. Pertanyaan besarnya kini: mampukah Spanyol, yang mengandalkan permainan kolektif, mematahkan dominasi Argentina dan Messi? Atau akankah malam Minggu nanti menjadi saksi lahirnya legenda baru yang tak terbantahkan?



