Götze Buka Suara soal Klopp: Manajemen Manusia Kunci Sukses, Bukan Sekadar Taktik
Baca dalam 60 detik
- Mario Götze memuji kemampuan Jürgen Klopp dalam mengelola pemain dan ekspektasi, menyebutnya sebagai faktor utama kesuksesan pelatih asal Jerman itu.
- Klopp dikabarkan semakin dekat menggantikan Julian Nagelsmann sebagai pelatih kepala Timnas Jerman setelah negosiasi dengan federasi sepak bola Jerman berjalan positif.
- Götze mengaku hampir bergabung dengan Klopp di Liverpool pada 2016, namun urung karena perbedaan level kompetisi antara Bayern Munich dan Liverpool saat itu.

Mario Götze, gelandang Eintracht Frankfurt yang pernah menjadi pahlawan Jerman di Piala Dunia 2014, memberikan pujian setinggi langit kepada Jürgen Klopp. Bukan soal taktik atau strategi, melainkan kemampuan sang pelatih dalam mengelola manusia—sebuah aspek yang menurut Götze membedakan Klopp dari kebanyakan koleganya. Pujian ini muncul di tengah kabar bahwa Klopp semakin dekat untuk kembali ke kursi kepelatihan, kali ini sebagai nahkoda Timnas Jerman.
Götze, yang meraih dua gelar Bundesliga dan satu DFB-Pokal bersama Klopp di Borussia Dortmund, menilai bahwa kehebatan Klopp tidak hanya terletak pada skema permainan. "Apa yang dia pahami, dan yang mungkin tidak dipahami kebanyakan pelatih, adalah cara mengelola orang," ujar Götze kepada The Athletic. "Mengelola pemain, mengelola ekspektasi, menyatukan mereka sebagai satu kesatuan—dia melakukannya dengan cara yang sempurna. Dia bisa sangat tegas tentang apa yang dia inginkan dan tuntut. Itulah mengapa dia begitu sukses."
Klopp, yang kini menjabat sebagai Kepala Sepak Bola Global Red Bull sejak 1 Januari 2025, dikabarkan tengah dalam pembicaraan intensif dengan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) untuk menggantikan Julian Nagelsmann. Nagelsmann mengundurkan diri setelah Jerman tersingkir secara mengejutkan di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Paraguay. Klopp sendiri mengakui bahwa negosiasi berjalan "ke arah yang benar".
Götze juga mengungkapkan bahwa ia nyaris bersatu kembali dengan Klopp di Liverpool pada 2016, saat masih menjadi pemain Bayern Munich. "Liverpool sangat dekat. Klopp ada di sana. Saya mengunjunginya di Liverpool," kenang Götze. "Saya sangat menyukai ide untuk bergabung dengannya, tetapi klub sedang dalam situasi yang kurang baik. Mereka bermain di Liga Europa, sementara saya datang dari Bayern, memenangi Piala Dunia, selalu bermain di Liga Champions, dan itu adalah ekspektasi saya." Alih-alih ke Anfield, Götze akhirnya kembali ke Dortmund, lalu pindah ke PSV Eindhoven, dan kini menjalani musim kelima bersama Frankfurt.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bahwa kualitas kepelatihan tidak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan personal. Klopp, yang dikenal dengan gaya "heavy metal football"-nya, membuktikan bahwa sentuhan manusiawi menjadi fondasi kesuksesan jangka panjang. Jika ia resmi menangani Jerman, publik sepak bola Tanah Air bisa menyaksikan bagaimana pendekatan ini diterapkan di level tim nasional—sebuah pelajaran berharga bagi pelatih lokal yang kerap mengandalkan taktik semata.
Klopp kini berada di persimpangan karier. Setelah sukses di Dortmund dan Liverpool, tantangan membangkitkan kembali kejayaan Jerman pasca-kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi ujian baru. Mampukah ia mengulang formula manajemen manusia yang dipuji Götze untuk menyatukan skuad yang sempat tercerai-berai? Atau justru tekanan publik Jerman yang tinggi akan menjadi batu sandungan? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



