Piala Dunia 2026: Dari Posh Spice Hingga Bebek Merlin, Momen Viral yang Mewarnai Turnamen
Baca dalam 60 detik
- Momen-momen tak terduga seperti reaksi dingin Victoria Beckham dan aksi kiper Cape Verde Vozinha mendominasi percakapan digital selama Piala Dunia 2026.
- Kolaborasi FIFA dengan kreator konten seperti IShowSpeed dan penampilan pundit Emma Hayes menjadi sorotan, menunjukkan pergeseran strategi penyiaran olahraga.
- Dampak sosial turnamen terlihat dari ikatan kota Boston-Glasgow berkat suporter Skotlandia, serta fenomena lagu 'Wonderwall' yang kembali populer.

Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan pertandingan sepak bola kelas dunia, tetapi juga melahirkan sederet momen viral yang mendominasi linimasa media sosial. Dari reaksi tenang Victoria Beckham di tribun VIP hingga aksi heroik kiper Cape Verde berusia 40 tahun, turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini membuktikan bahwa sepak bola adalah panggung bagi drama di luar lapangan yang tak kalah menarik.
Salah satu gambar yang paling banyak dibagikan adalah potret Victoria Beckham yang duduk tenang di kotak eksekutif saat suaminya, David Beckham, bersorak gembira menyaksikan kemenangan Inggris atas Norwegia. Ekspresi datar mantan personel Spice Girls itu langsung menjadi bahan candaan warganet, termasuk komedian Jenny Johnson yang menyebutnya "energinya listrik". Beckham pun membela istrinya dengan mengatakan bahwa Victoria sebenarnya ikut merayakan, hanya saja reaksinya lebih lambat.
Di sisi lain, suporter Skotlandia yang sudah tersisih di fase grup justru mencuri perhatian. Ribuan penggemar yang dikenal sebagai Tartan Army berparade di Boston dengan diiringi bagpipe, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan Skotlandia seperti "Yes Sir, I Can Boogie" dan "I'm Gonna Be (500 Miles)". Aksi mereka di Fenway Park membuat para pemain bisbol AS terkesan, bahkan Wali Kota Boston Michelle Wu berencana menjalin kemitraan resmi antara kota tersebut dengan Glasgow. Kehangatan suporter Skotlandia ini menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menjembatani budaya lintas benua.
Dari sisi penyiaran, kehadiran kreator konten IShowSpeed menjadi gebrakan tersendiri. Streamer dengan 52 juta pengikut ini tidak hanya menjadi bintang di upacara penutupan, tetapi juga mengadakan pesta menonton langsung dari dalam stadion berkat kerja sama dengan Fox dan FIFA. Menurut komentator Chris Latchem, FIFA sengaja mendekatkan diri dengan Speed karena ia mampu menarik bintang-bintang sepak bola legendaris yang ingin dekat dengan generasi muda. Puncaknya, Speed mendapat hadiah sepatu bekas pakai dari idolanya, Cristiano Ronaldo.
Momen kontroversial juga tak terhindarkan. Keputusan FIFA yang membatalkan kartu merah Folarin Balogun setelah panggilan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino memicu perdebatan. Balogun pun bisa bermain melawan Belgia, meski akhirnya timnya tetap kalah telak. Striker Belgia Romelu Lukaku merayakan golnya dengan menunjuk ke arah tribun VIP dan memimpin tarian yang dianggap mengejek gerakan khas Trump, diiringi lagu YMCA yang sering diputar dalam kampanye presiden AS tersebut.
Di luar hiruk-pikuk itu, kisah mengharukan datang dari kiper Cape Verde, Vozinha. Penampilannya yang cemerlang melawan Spanyol membuatnya dipertemukan kembali dengan sang ibu, Ana Cรขndida รvora, yang awalnya tak bisa bepergian karena biaya visa AS. Berkat bantuan pejabat Washington, sang ibu tiba tepat waktu untuk memeluk putranya di sesi latihan sebelum pertandingan melawan Uruguay. Sementara itu, winger Sidny Cabral mencetak gol penyeimbang dramatis melawan Argentina dan langsung berlari ke tribun untuk memeluk kerabatnya, seperti petenis yang baru memenangkan Wimbledon.
Fenomena lain yang tak kalah viral adalah kebersamaan Erling Haaland dan Jude Bellingham. Foto-foto lama mereka saat masih di Borussia Dortmund kembali beredar, memperkuat narasi "bromance" di antara dua bintang muda ini. Haaland, yang mencetak tujuh gol selama turnamen, juga memimpin para penggemar Norwegia dalam tradisi "Viking row" setelah kemenangan besar atas Brasil. Namun, tidak semua suporter antusias; Emil Anners Lappen terlihat duduk diam di tengah kerumunan, seperti Posh Spice, dan menyebut aksi tersebut "bodoh" serta tidak akurat secara historis karena bangsa Viking berlayar, bukan mendayung.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 memberikan gambaran bagaimana sepak bola bisa menjadi alat diplomasi budaya dan hiburan digital. Momen seperti suporter Skotlandia yang menjalin hubungan antarkota, atau kolaborasi FIFA dengan kreator konten, bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan sepak bola nasional. Apakah PSSI dan pemerintah akan memanfaatkan tren serupa untuk mendekatkan sepak bola dengan generasi muda Indonesia? Atau justru akan terjebak dalam kontroversi yang menguras energi? Jawabannya masih harus ditunggu, namun satu hal pasti: Piala Dunia selalu meninggalkan cerita yang lebih dari sekadar skor akhir.



