Deschamps Buka Suara soal Kontroversi Rabiot: Gelandang AC Milan Minta Ditarik
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Prancis Didier Deschamps mengungkapkan bahwa Adrien Rabiot meminta ditarik keluar saat jeda hidrasi pertama laga semifinal Piala Dunia 2026 melawan Spanyol.
- Keputusan Deschamps mengganti Rabiot di babak pertama menuai kritik di Prancis, namun ia beralasan untuk menghindari risiko kartu merah yang bisa membuat sang pemain absen di final.
- Prancis akan menghadapi Inggris pada perebutan tempat ketiga, sementara Deschamps membela strateginya di tengah sorotan media dan suporter.

Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi keputusannya menarik keluar gelandang AC Milan, Adrien Rabiot, saat jeda babak pertama semifinal Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Dalam konferensi pers jelang laga perebutan tempat ketiga melawan Inggris, Deschamps mengungkapkan bahwa Rabiot sendiri yang meminta untuk ditarik keluar karena merasa tidak bisa tampil maksimal.
Prancis yang sebelumnya tak terkalahkan dan dijagokan juara harus menelan kekalahan 0-2 dari Spanyol di semifinal. Kekalahan itu memicu perdebatan di Prancis, terutama terkait keputusan Deschamps yang lebih memilih Aurelien Tchouameni ketimbang Manu Kone sebagai starter, serta mengganti Rabiot di babak pertama sementara Tchouameni tetap di lapangan. Media L'Equipe melaporkan bahwa keputusan tersebut membingungkan dan membuat frustrasi sejumlah pemain di skuad Les Bleus.
Namun, Deschamps memberikan versi berbeda. “Pada jeda hidrasi pertama, dia (Rabiot) mendatangi saya dan berkata: ‘Saya tidak bisa lagi bermain seperti biasa.’ Saya pernah menjadi pemain, jadi saya sangat memahami perasaan itu,” ujar Deschamps, seperti dikutip Football Italia. Rabiot mendapatkan kartu kuning di babak pertama dan berisiko mendapat kartu kuning kedua yang bisa berujung kartu merah. Meskipun kartu kuning dihapus setelah perempat final, kartu merah tetap berarti skorsing jika Prancis lolos ke final.
Deschamps menambahkan bahwa ia memahami situasi yang dialami Rabiot karena ia sendiri pernah mengalami hal serupa saat menjadi pemain. “Di lini tengah, permainan sangat terbuka, ancaman bisa datang dari mana saja. Saya bilang padanya, kamu bisa mengaturnya, jangan meninggalkan kaki. Ada satu situasi yang hampir terjadi. Saya pernah berada di pertandingan seperti itu, saya seperti bayangan dari diri saya sendiri, dengan pedang Damocles di atas kepala,” kenang mantan gelandang Juventus tersebut.
Meskipun Rabiot dianggap tampil cukup baik pada laga tersebut, Deschamps memilih untuk menariknya keluar saat jeda babak pertama. “Saya kehilangan seorang pemain yang sedang dalam performa terbaiknya untuk pertandingan itu. Ini adalah penilaian risiko, jeda babak pertama adalah kesempatan untuk melakukan pergantian,” tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen risiko dalam pertandingan besar. Keputusan Deschamps menunjukkan bahwa faktor psikologis pemain—seperti kekhawatiran terkena kartu—dapat memengaruhi performa dan strategi pelatih. Di level tertinggi, komunikasi antara pelatih dan pemain menjadi krusial, seperti yang terlihat dari pengakuan Rabiot yang meminta ditarik keluar.
Prancis kini bersiap menghadapi Inggris pada laga perebutan tempat ketiga yang akan digelar Sabtu mendatang. Pertanyaan yang mengemuka: akankah Deschamps kembali mengambil risiko serupa, atau justru memberikan kepercayaan penuh kepada pemain yang tengah dalam tekanan? Satu hal yang pasti, keputusan pelatih di momen krusial selalu menjadi sorotan, terutama ketika hasil akhir tidak sesuai harapan.



