Tuchel Gagal Bawa Inggris ke Final: Keputusan Defensif yang Berujung Petaka
Baca dalam 60 detik
- Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia setelah unggul lebih dulu, akibat perubahan taktik defensif yang dilakukan pelatih Thomas Tuchel.
- Tuchel menarik keluar penyerang dan memasukkan tiga pemain bertahan, membuat Inggris hanya memiliki 12% penguasaan bola setelah gol pertama hingga kebobolan.
- Kekalahan ini memicu kritik dari para legenda sepak bola Inggris yang menilai Tuchel mengulangi kesalahan era Gareth Southgate.

Keputusan pelatih Thomas Tuchel untuk mengubah strategi menjadi defensif setelah unggul 1-0 justru menjadi bumerang yang membuat Inggris harus tersingkir dari semifinal Piala Dunia. Tim berjuluk Three Lions itu kalah 1-2 dari Argentina di Atlanta Stadium, Rabu (14/7) waktu setempat, setelah gol penyeimbang Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan sundulan Lautaro Martinez di masa injury time menghancurkan mimpi mereka menembus final untuk pertama kalinya sejak 1966.
Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 melalui serangan balik cepat. Namun, alih-alih terus menekan, Tuchel justru menarik keluar Gordon pada menit ke-72 dan menggantinya dengan bek Ezri Konsa, mengubah formasi menjadi lima pemain belakang. Dua menit berselang, ia kembali memasukkan bek Dan Burn dan Nico O'Reilly. Penyerang seperti Marcus Rashford dan Ivan Toney baru dimasukkan pada menit ke-90, saat Argentina sudah membalikkan keadaan.
Statistik menunjukkan betapa drastisnya perubahan permainan Inggris. Setelah unggul, mereka hanya menguasai bola 12% hingga gol kedua Argentina tercipta. Mantan kapten Inggris Wayne Rooney menilai kegagalan ini dimulai dari bangku pelatih. "Kami hancur. Itu dimulai dari manajer dan keputusan yang dia buat. Terlalu pasif," ujarnya kepada BBC Sport.
Kritik juga datang dari legenda Inggris lainnya. Alan Shearer menyebut Tuchel memainkan kartunya terlalu dini dan berakhir dengan kegagalan. "Perbedaannya, saat bertahan melawan Norwegia atau Meksiko, mereka tidak memiliki kualitas seperti Argentina yang bisa menghukum Anda," kata Shearer. Chris Sutton, mantan pemain Blackburn, bahkan menyebut apa yang dilakukan Tuchel sebagai "bencana kepelatihan".
Yang menarik, pola ini mengingatkan pada era Gareth Southgate yang kerap dikritik karena terlalu bertahan saat unggul di laga besar. Mantan kiper Inggris Joe Hart menilai tidak ada perubahan signifikan. "Southgate banyak dikritik karena momen besar saat Inggris unggul dan menutup rapat. Saya tidak melihat ada yang berubah di momen besar itu," ujarnya.
Kapten Inggris Harry Kane, yang akan berusia 36 tahun pada Piala Dunia berikutnya, mengakui timnya seharusnya lebih berani. "Saat unggul 1-0, kami seperti mencoba bertahan, dan di level ini itu tidak cukup," katanya. Kane menyesalkan gelombang serangan Argentina yang terus menerus setelah gol pertama.
Di sisi lain, kiper Argentina Emiliano Martinez mengakui perubahan momentum setelah Inggris memilih bertahan. "Kadang saat menang, Anda harus maju. Anda tidak bisa mengubah rencana permainan. Mereka melakukannya dan memasukkan bek tambahan," ujarnya.
Tuchel sendiri membela keputusannya dalam konferensi pers usai pertandingan. "Tidak, saya percaya itu hanya sifat permainan. Begitu kalah, Anda dikritik. Pada saat itu, tidak ada penyesalan. Tim sudah memberikan segalanya dan kami sangat dekat," katanya. Namun, mantan bek Inggris Micah Richards menilai Tuchel harus menerima kesalahannya. "Saya suka Thomas Tuchel. Saya suka keberaniannya. Malam ini, di panggung terbesar, dia salah dan harus menerimanya," ujarnya.
Kekalahan ini membuka kembali pertanyaan tentang kemampuan Tuchel membawa Inggris meraih trofi. Dengan materi pemain seperti Harry Kane dan Jude Bellingham, publik Inggris tentu berharap lebih dari sekadar semifinal. Akankah Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tetap mempertahankan Tuchel, atau justru mencari pelatih baru untuk Piala Dunia mendatang?



