Mantan Bintang Spanyol Capdevila Minta Tolong Trump Usai Visa AS Ditolak
Baca dalam 60 detik
- Joan Capdevila, pahlawan Spanyol Piala Dunia 2010, mengaku ditolak visanya untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
- Ia menduga penolakan terkait pertandingan eksibisi yang pernah ia mainkan di Iran pada 2016, yang memicu pemeriksaan keamanan lebih ketat.
- Insiden ini menambah daftar panjang tokoh sepak bola yang mengalami kendala visa AS, termasuk wasit asal Somalia yang dicoret dari turnamen.

Joan Capdevila, bek kiri legendaris yang membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010, secara terbuka memohon bantuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah pengajuan visa elektroniknya (ESTA) ditolak. Ia seharusnya terbang ke New Jersey untuk menyaksikan partai puncak antara Spanyol dan Argentina di MetLife Stadium, Minggu (20/7) waktu setempat.
Dalam cuitan di X pada Jumat (18/7), Capdevila menulis, "Saya butuh bantuan @realDonaldTrump! Mereka baru memberi tahu bahwa saya tidak bisa bepergian ke final bersama anak-anak saya karena ESTA saya ditolak." Ia menambahkan bahwa ia sangat antusias bisa berkumpul dengan rekan-rekan setim 2010 dan mendukung La Roja yang tengah berjuang meraih gelar kedua. "Saya tidak percaya mereka tidak mengizinkan saya masuk ke AS... dan saya akan melewatkan momen seperti ini bersama anak-anak saya yang sangat mencintai sepak bola," ungkapnya.
Pemain berusia 48 tahun itu juga melayangkan permohonan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan menandai akun resmi Kementerian Olahraga Spanyol. Dalam wawancara dengan stasiun radio COPE, Capdevila menduga penolakan visa berkaitan dengan pertandingan persahabatan yang ia jalani di Iran pada 2016. Saat itu ia tampil bersama legenda La Liga melawan tim bintang Iran di Teheran. Capdevila khawatir riwayat perjalanannya ke negara yang masuk daftar sanksi AS menjadi alasan penolakan.
Kasus Capdevila bukan yang pertama. Bulan lalu, wasit asal Somalia Omar Artan—yang dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik CAF 2025—ditolak masuk AS saat tiba di Bandara Miami. Otoritas AS menyatakan Artan dilarang masuk karena "asosiasi dengan anggota organisasi teroris yang dicurigai". Artan akhirnya dicoret dari daftar ofisial turnamen. Dua insiden ini menyoroti ketatnya pemeriksaan keamanan imigrasi AS, terutama bagi warga negara dari negara tertentu atau yang memiliki riwayat perjalanan ke Iran.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa sistem ESTA AS tidak selalu otomatis disetujui, bahkan bagi figur publik sekalipun. Warga Indonesia yang berencana menghadiri Piala Dunia 2026—yang akan digelar di AS, Meksiko, dan Kanada—perlu memastikan dokumen perjalanan lengkap dan tidak memiliki catatan perjalanan ke negara-negara yang masuk daftar hitam AS. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dapat memberikan advis perjalanan yang lebih rinci terkait risiko penolakan visa.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas permohonan Capdevila. Sementara itu, Spanyol dan Argentina bersiap untuk laga puncak yang disiarkan langsung ke seluruh dunia. Pertanyaan yang mengemuka: akankah Capdevila mendapatkan izin masuk di menit-menit akhir, atau ia harus menyaksikan final dari layar televisi di Spanyol?



